Daftar Isi
Memahami Rancangan Allah – Rekoleksi Keluarga – Komisi Keluarga Keuskupan Agung Kupang
Kita dapat jatuh pada sikap meremehkan membangun relasi kita dengan Allah dan pasangan ketika kita merasa bahwa relasi kita sudah memuaskan dan sudah cukup baik. Tidak perlu ada sesuatu yang masih perlu diusahakan lagi. Saat kita sudah merasa puas, sudah merasa cukup, kita berada dalam risiko kehilangan niat untuk “memberi nustrisi” pada relasi kita. Oleh karena itu, kita sering
mengalami “kekeringan emosional” dalam relasi ketika, salah satu diantara kita atau kita semua menjadi apatis dan tidak menanggapi kebutuhan satu sama lain. Kita juga menemukan sikap apatis yang sama pada orang-orang yang menerima iman begitu saja dan yang memberikan sedikit usaha untuk mengembangkan relasi mereka dengan Kristus. Pada pertemuan kedua ini, kita perlu mengembangkan kebiasaan yang kedua. Kebiasaan kedua ini mengudang kita untuk berjaga- jaga-waspada dalam membangun relasi kita dengan Allah dan pasangan agar kita tidak berjalan mengalir begitu saja dan mengalami “kekeringan emosional”.
Relasi Suami-istri dengan Kristus
Agar kita dapat semakin memahami rencana Allah bagi perkawinan kita, pertama-tama kita perlu untuk menghidupkan kembali dan memperkuat pemahaman kita tentang makna Ekaristi bagi relasi kita dengan Allah di dunia ini. Jika kita menemukannya setiap kali kita mengikuti Perayaan Ekaristi, maka penemuan itu dapat mengantar kita untuk memahami makna sakramen secara lebih mendalam. Jika kita memahami dan mengalami kehadiran Kristus dalam Ekaristi, kita akan jatuh pada krisis iman. Tidak mengherankan bahwa di Gereja sekarang ini banyak orang berkurang dalam rasa hormat pada kehadiran Tuhan dalam Ekaristi. Jumlah umat yang hadir dalam Perayaan Ekaristipun menurun jumlahnya, termasuk kemudian yang meninggalkan iman Katolik. Namun jika kita benar-benar memahami karunia ajaib yang dianugerahkan Kristus dalam Ekaristi, kita pasti akan bersujud di hadapan Allah dalam ucapan syukur dan kekaguman yang mendalam.
Perayaan Ekaristi merupakan saat puncak kesatuan kita dengan Kristus. Dalam perayaan Ekaristi itu, kita menerima tubuh, darah, jiwa, dan keilahian-Nya. Dalam Perayaan Ekaristi, kita merayakan Pesta Perkawinan Anak Domba. Perayaan Ekaristi ini sangat penting bagi kehidupan kita. Santo Padre Pio pernah berkata, “Akan lebih mudah bagi dunia untuk bertahan hidup tanpa matahari daripada hidup tanpa Ekaristi Kudus.” Ia juga mengatakan, “Seandainya saja kita tahu bagaimana Allah menghargai Kurban ini, kita pasti akan mempertaruhkan hidup kita untuk hadir dalam satu Perayaan Ekaristi.”( dikutip dari Fr. Stefano Manelli, Jesus Our Eucharistic Love: Eucharistic Life Exemplified by the Saints, 1996) . Santo Yohanes Chrisostomus juga mengatakan bahwa: “Ketika Perayaan Ekaristi dirayakan, tempat kudus dipenuhi dengan malaikat yang tak terhitung jumlahnya yang memuliakan kurban ilahi yang disembelih di atas altar.”( Ibid. ) . Orang-orang kudus memahami kekuatan Perayaan Ekaristi dan mengajarkannya kepada orang lain. Apakah kita juga berusaha untuk mendalaminya? Ketika kita benar-benar memahami daya Perayaan Ekaristi, atau berusaha mendalaminya dengan lebih baik lagi, maka cara kita mewartakannya kepada orang lain juga akan berubah.
Di sepanjang hidup-Nya, Yesus menunjukkan kepada kita bagaimana Ia mencintai dan mengampuni dan di saat-saat hidup-Nya, Ia memberi kita anugerah abadi kasih-Nya melalui kematian-Nya di kayu salib dan Kebangkitan- Nya ke surga di mana Ia menyiapkan bagi kita suatu perjamuan sukacita abadi. Misteri inilah yang kita alami setiap kali kita mengikuti Perayaan Ekaristi. Ketika kita berusaha lebih dalam memahami kebenaran ini, rahmat Allah akan menyempurnakan cinta kita kepada-Nya dan sesama setiap hari!
Relasi Kita (Suami-istri) Satu sama Lain
Ketika “kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus,” kita didorong untuk membagikannya kepada pasangan dan kita juga dipanggil untuk mengalaminya dari pasangan kita. Kita juga perlu membagikannya kepada orang lain. Begitulah kasih Allah berkerja.
Rancangan Allah bagi Sakramen Perkawinan tercermin begitu mendalam dalam Sakramen Ekaristi, sehingga semakin kita mendalami yang satu, kita semakin dapat mendalami yang lain. Kedua sakramen ini menuntut pengorbanan diri karena cinta kepada orang lain: kehidupan Kristus dalam Ekaristi dan kehidupan pasangan dalam perjalanan ke surga ini. Dalam keduanya, kita mengorbankan tubuh dan hidup kita agar “kehidupan dapat mengalir darinya”. Kita menjadi satu dengan Kristus melalui Ekaristi, dan menjadi satu dengan pasangan kita melalui ikatan dan persatuan perkawinan kita.
Perjalanan menuju cinta yang lebih mendalam dan penghargaan terhadap pasangan, memanggil kita untuk tidak hanya memahami rancangan Allah bagi perkawinan, tetapi juga untuk memahami keindahan dan nilai dari rancangan dan ciptaan Allah yaitu pasangan kita. Salah satu cara hebat untuk mendalaminya adalah dengan mempelajari bahasa cinta satu sama lain dan memberi kepada relasi kita “makanan setiap hari” !
Dialog:
Bagaimana kita dapat mengutamakan Kristus dan Ekaristi dalam perkawinan kita dan dapat mendalami lebih lanjut makna pemberian diri Kristus dalam kasih?
Apa yang dapat kita buat supaya kita berjaga-jaga dalam merawat relasi kita dan relasi kita dengan Allah?
Doa:
Tuhan, bantulah kami untuk menjadikan perkawinan kami ini dengan sepenuh hati menjadi Perkawinan Ekaristis. Bantulah kami untuk bertumbuh dalam mengenal-Mu dan mengenal satu sama lain secara lebih mendalam, serta dalam memahami rancangan indah perkawinan dan Perayaan Ekaristi-Mu. Bantulah kami untuk selalu memperhatikan janji kami satu sama lain dan untuk menghormati satu sama lain dengan selalu berusaha untuk memahami satu sama lain. Semua ini kami persembahkan kepadaMu Yesus, melalui Maria dan dalam persatuan dengan St Yosef. Amin








