Menemukan Kebahagiaan Sejati dalam Delapan Sabda Bahagia
Kebahagiaan adalah salah satu nilai hidup. Karena itu, kebahagiaan menjadi cita-cita perjuangan hidup. Semua orang ingin hidup bahagia, sehingga mereka berusaha mencari dan menemukannya.
Akhir-akhir ini, orang berbicara tentang hidup bahagia sebagai hidup senang tanpa susah, hidup berkelimpahan tanpa kekurangan kebutuhan hidup, serta hidup sehat tanpa sakit dan menderita. Semua ini amat baik adanya, tetapi kebahagiaan seperti ini hanyalah kebahagiaan duniawi yang sifatnya sementara, sesaat, dan fana.
Padahal, hidup kita saat ini hanya sementara. Maka, kita semua ingin memperoleh hidup bahagia dalam Kerajaan Surga. Untuk inilah Yesus datang, guna menunjukkan jalan menuju Kerajaan Surga. Yesus mengajarkan dan berbicara tentang kebahagiaan hidup di dalam Kerajaan Surga melalui sebuah khotbah yang sangat terkenal, yakni Khotbah di Bukit, dengan tema “Delapan Sabda Bahagia”.
Untuk hidup bahagia, ada delapan jalan sabda yang menuntun kita mencapai kebahagiaan di hadapan Allah, yaitu hidup bersama Allah. Hidup bersama Allah inilah yang dimaksud dengan hidup dalam Kerajaan Surga. Oleh karena itu, masuk ke dalam Kerajaan Surga menjadi tujuan ziarah hidup kita di dunia ini. Hidup dalam Kerajaan Surga berarti hidup dalam kasih karunia Allah; inilah kebahagiaan dalam hidup kekal, hidup dalam damai abadi di hadapan-Nya. Masuk Kerajaan Surga adalah masuk ke dalam kebahagiaan kekal yang tidak akan pernah hilang maupun musnah.
Salah satu titik ajaran Yesus tentang kebahagiaan dalam Khotbah di Bukit adalah ketika Yesus memuji orang yang miskin:
“Berbahagialah orang yang hidup miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Allah.” Pernyataan ini kontradiktif dengan kenyataan hidup manusia di dunia saat ini, di mana orang miskin sering kali tidak dihargai dalam segala aspek hidupnya. Yesus memuji orang miskin sebagai orang yang berbahagia di hadapan Allah karena mereka adalah orang-orang yang hidup dalam kekurangan, tertindas, dan hak-hak asasinya terabaikan. Mereka menggantungkan hidupnya hanya pada belas kasih dan kemurahan hati Allah.
Yesus justru datang untuk memperjuangkan nasib orang-orang seperti ini. Apa pun yang diperoleh dalam hidup dipandang semata-mata sebagai belas kasih dan pemberian Tuhan, dan mereka menerimanya dengan penuh syukur. Dalam kesusahan, mereka tetap bersyukur kepada Allah. Inilah sikap dan cara hidup yang dikehendaki Allah.
Sisi lain dari ajaran Yesus tentang Sabda Bahagia adalah:
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Dengan hati yang bersih tanpa cacat cela dosa, kita akan melihat Allah. Hati yang bersih, tulus, dan rendah hati adalah cerminan hati Allah sendiri. Karena itu, Allah selalu berkenan kepada orang yang rendah hati. Mereka yang rendah hati akan melihat Allah.
Pesan Iman
Untuk hidup bahagia dalam Kerajaan Surga, satu hal yang perlu dilakukan adalah tetap berharap pada Allah dalam situasi apa pun dengan sikap rendah hati dan cinta damai. Amin.
Minggu Biasa IV
- Zefanya 2:3; 3:12-13
- Matius 5:1-12
Editor: Del Neonub








