Kotbah Oleh Rm. Chris Taus, Pr – Komsos Paroki Camplong
Perayaan-perayaan besar dalam liturgi Gereja hingga saat ini berakar kuat dalam tradisi Perjanjian Lama, khususnya dalam kehidupan religius umat Yahudi. Dua di antaranya yang sangat penting adalah Paskah dan Pentekosta.
Lima puluh hari setelah Paskah Yahudi—yang ditandai dengan kurban anak domba—umat Yahudi merayakan pesta syukur panen. Mereka bersyukur karena Tuhan telah memelihara hidup mereka melalui hasil bumi yang melimpah. Dalam Hukum Taurat, mereka diwajibkan membawa hasil pertama dari panen sebagai persembahan kepada Tuhan melalui imam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Perayaan ini tidak sekadar pesta, tetapi juga momen iman. Dalam suasana sukacita, mereka memperbarui janji kesetiaan kepada Allah: bahwa Allah tetap Allah mereka, dan mereka adalah umat-Nya yang setia, sebagaimana diungkapkan dalam Dekalog yang diberikan kepada Musa.
Makna ini menemukan kepenuhannya dalam Perjanjian Baru. Lima puluh hari setelah Paskah Kristiani—yang ditandai dengan pengorbanan Kristus sebagai Anak Domba Allah—Gereja merayakan Pentekosta, yaitu pesta pencurahan Roh Kudus.
Pada hari itu, Allah memenuhi janji-Nya dengan mengutus Roh Kudus, Roh kebenaran, yang dicurahkan secara melimpah ke atas para rasul dan seluruh dunia. Roh Kudus hadir dengan tujuh karunia-Nya, menghidupkan, menguatkan, dan membarui manusia. Seperti dalam nyanyian liturgi: “Roh Tuhan memenuhi dunia, Alleluya.”
Pentekosta bukan hanya peristiwa turunnya Roh Kudus, tetapi juga peneguhan hukum baru: hukum kasih. Jika dahulu hukum Allah ditulis pada loh batu, kini hukum itu dipahat dalam hati manusia. Hati yang keras diubah menjadi lembut, hati yang beku dihidupkan kembali oleh Roh Kudus yang tinggal dalam diri kita dan membimbing kita dalam seluruh kebenaran.
Dengan kehadiran Roh Kudus, kebutuhan terdalam manusia dipenuhi. Karena itu, kita dipanggil untuk hidup menurut Roh, bukan menurut keinginan daging. Sebab, meskipun roh itu kuat, daging itu lemah.
Buah kehidupan dalam Roh tampak nyata, sebagaimana dialami para rasul:
- Mereka mulai berbicara dalam berbagai bahasa yang dimengerti banyak orang, sehingga hati orang-orang terbuka untuk menerima Sabda.
- Ketakutan berubah menjadi keberanian. Dari ruang yang tertutup, mereka keluar mewartakan damai dan sukacita Injil.
- Hidup dalam Roh menghasilkan buah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Akhirnya, kita diingatkan bahwa Roh Kudus, Sang Roh Kebenaran, akan selalu menyertai kita sampai akhir zaman.
Amin.
Minggu Pentekosta
Bacaan: Kisah Para Rasul 2:1–11
1 Korintus 12:3b–7, 12–13
Yohanes 20:19–23
Penulis : Rm. Chris Taus, Pr.
Editor : Del Neonub
Sumber Berita: Komsos Paroki Camplong







