Belajar dari Thomas: Saat Keraguan Bertemu dengan Kerahiman Tuhan

Kotbah Minggu Paskah II - Oleh Rm. Jhon Chris Taus, Pr

- Editor

Jumat, 10 April 2026 - 23:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kita sudah merayakan Paskah, namun kita masih berada dalam suasana perayaannya. Kita masih mendengar kisah-kisah penampakan Tuhan sesudah Ia bangkit dari alam maut. Salah satunya adalah kisah Injil minggu ini: Yesus menampakkan diri kepada para rasul-Nya yang berkumpul dalam sebuah rumah dengan pintu-pintu terkunci. Tiba-tiba Yesus hadir di tengah-tengah mereka dan menyapa: “Damai sejahtera bagimu.” Lalu Yesus menunjukkan bekas paku pada tangan dan lambung-Nya.

Rasul Thomas tidak hadir saat itu, dan ia menjadi tokoh penting dalam kisah Injil ini. Ketika kita mendengar nama Rasul Thomas, reaksi pertama kita biasanya adalah mengingatnya sebagai rasul yang tidak percaya. Ia diberi cap ini karena sikap dan pernyataannya ketika rasul-rasul lain bercerita tentang Yesus yang menampakkan diri. Inilah pernyataan Thomas: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan lambung-Nya, sekali-kali aku tidak percaya.”

BACA JUGA  Salib: Dari Hukuman Menjadi Tanda Cinta

Sebenarnya, sikap tidak percaya ini juga ada pada rasul-rasul lain saat menanggapi kabar penampakan Tuhan. Ketika Maria Magdalena—perempuan pertama yang membawa kabar kebangkitan—menyampaikannya, para rasul lain pun tidak langsung percaya atau lamban hati untuk percaya, meskipun Yesus sudah berbicara kepada mereka tentang kematian dan kebangkitan-Nya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Soal ragu dan tidak percaya adalah hal yang manusiawi; setiap orang memiliki perasaan ini. Namun, apakah kita salah jika ragu atau kurang percaya dalam mengikuti Yesus? Jawabannya adalah keraguan merupakan bagian manusiawi dalam seluruh ziarah iman kita. Keraguan bukanlah sebuah dosa, melainkan bagian dari proses pertumbuhan iman.

Hal seperti ini sudah terjadi sejak zaman Perjanjian Lama. Dikisahkan bahwa Nabi Elia, yang telah menang melawan nabi-nabi Baal di Gunung Karmel (1 Raja-raja 18), sempat diliputi ketakutan ketika Ratu Izebel mengancam nyawanya. Elia lari ke padang gurun dan berkata, “Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku…” (1 Raja-raja 19:4). Namun, Tuhan meneguhkannya dengan berfirman, “Jangan takut, Aku menyertaimu.”

BACA JUGA  Farisi vs Pemungut Cukai: Siapa yang Doanya Diterima?”

Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang diliputi keraguan. Sebaliknya, Ia meneguhkan hati mereka dan tetap berusaha berbuat yang terbaik agar umat-Nya tetap percaya. Dengan demikian, Rasul Thomas menjadi simbol bagi setiap manusia yang berjuang dengan imannya. Yesus tidak menolak Thomas; Ia justru mengundang Thomas untuk meraba bekas luka-Nya. Ini adalah undangan untuk mendekatkan diri pada Kerahiman Ilahi, bahkan dalam keraguan sekalipun.

Karena itu Yesus berkata kepada Thomas: “Janganlah engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yohanes 20:27). Artinya, keraguan Thomas tidak dibalas dengan teguran, tetapi dengan undangan penuh rahmat. Dalam diri Rasul Thomas, Kerahiman Ilahi bersinar paling terang—bukan dalam kemuliaan, melainkan justru dalam luka yang terbuka.

Rasul Thomas akhirnya berseru: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Sebuah pengakuan iman yang paling dalam, yang lahir dari perjumpaan pribadi dengan Tuhan yang Maha Rahim. Thomas tidak hanya percaya kepada Yesus yang bangkit, tetapi ia percaya kepada Yesus yang bangkit dengan luka-luka kasih.

BACA JUGA  Kotbah Katolik Minggu Pentakosta

PESAN IMAN:

  1. Tuhan Tidak Menjauh saat Kita Ragu: Dalam iman, terkadang kita seperti Rasul Thomas. Meskipun kita ragu, Tuhan tidak menjauhi kita. Ia tetap mengundang kita untuk menyentuh “luka-luka-Nya” melalui sesama dan firman-Nya.
  2. Iman yang Berproses: Hari Minggu Kerahiman Ilahi ini mengajak kita menyadari bahwa Tuhan tidak menuntut iman yang sempurna sejak awal. Ia menyambut kita kembali dengan iman yang mungkin sedang rapuh atau terluka. Ia tidak menolak keraguan, tetapi mengubahnya menjadi pengakuan.

Selamat merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi.

Minggu Paskah II

  • Bacaan I: Kisah Para Rasul 2:42-47
  • Injil: Yohanes 20:19-31

Editor : Del Neonub

Facebook Coment

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kebun Anggur Tuhan dan Buah Kehidupan yang Diharapkan-Nya
Bertobat dan Kembali kepada Tuhan: Jalan Menuju Keselamatan
Ketika Kemurahan Hati Tuhan Dianggap Tidak Adil: Renungan Minggu Biasa XXV
Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah
Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan
“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja
Maria Diangkat ke Surga: Tanda Harapan bagi Umat Beriman
​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup
Berita ini 49 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 07:05 WITA

Kebun Anggur Tuhan dan Buah Kehidupan yang Diharapkan-Nya

Sabtu, 26 September 2026 - 06:25 WITA

Bertobat dan Kembali kepada Tuhan: Jalan Menuju Keselamatan

Sabtu, 19 September 2026 - 13:12 WITA

Ketika Kemurahan Hati Tuhan Dianggap Tidak Adil: Renungan Minggu Biasa XXV

Sabtu, 12 September 2026 - 08:08 WITA

Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan

Berita Terbaru

Gambar Olahan Komisi Komunikasi Sosial Paroki Sta. Helena Camplong

Iman & Gereja

Kebun Anggur Tuhan dan Buah Kehidupan yang Diharapkan-Nya

Sabtu, 3 Okt 2026 - 07:05 WITA

Gambar dihasilkan dengan Kecerdasan Buatan (ChatGPT)

PENDIDIKAN

Modul Belajar Mandiri Uji Pemetaan Kompetensi Guru BINDO

Kamis, 1 Okt 2026 - 10:36 WITA

error: Content is protected !!