Injil Minggu Ini: Singkat namun Padat Pesan
Ada dua kata penting dalam pesan Yesus kepada murid-murid-Nya setelah Ia menyampaikan Khotbah di Bukit: “Jadilah Garam dan Terang Dunia.” Kita semua mengenal dan merasakan manfaat dari kedua hal ini, sehingga kita pun memahami maknanya bagi kehidupan iman.
Daftar Isi
Filosofi Garam dalam Tradisi Yahudi
Garam adalah bumbu dapur paling purba yang digunakan manusia sejak zaman dahulu dan tetap bertahan hingga sekarang. Bagi bangsa Israel di Perjanjian Lama, hidup mereka sangat lekat dengan garam. Masyarakat Yahudi kuno memiliki persediaan garam yang melimpah dari pantai Laut Mati serta bukit-bukit garam (Jebel Usdum) yang terbentuk dari fosil.
Dalam tradisi Yahudi, garam selalu dihubungkan dengan empat hal penting:
- Simbol Kemurnian: Garam melambangkan kesucian karena dihasilkan secara alami oleh air laut dan sinar matahari.
- Pengawet dan Penyedap: Garam mencegah pembusukan dan memberikan rasa pada makanan.
- Tanda Perjanjian: Garam menjadi lambang perjanjian kekal antara Allah dan Israel, yang diteguhkan oleh kesetiaan Allah.
- Cita Rasa yang Khas: Makanan tanpa garam ibarat malam tak berbintang atau hidup tanpa cinta.
Pesan Yesus: Menjadi Garam Dunia
Atas dasar pengalaman itulah, Yesus meminta para murid-Nya menjadi garam. Kita diutus untuk memberikan “rasa” dan menjadi penangkal segala kebusukan dunia agar bumi menjadi tempat yang layak huni. Caranya adalah dengan mengubah hal yang “tawar” menjadi bermakna:
- Membawa keadilan di tengah ketidakadilan.
- Memberi pengharapan bagi mereka yang patah semangat.
- Membawa kebebasan bagi mereka yang tertindas.
Dengan demikian, dunia menjadi tanda kehadiran kasih Allah, damai, kebenaran, dan keadilan. Namun, Yesus juga mengingatkan bahaya jika garam menjadi tawar, karena ia tidak akan berguna lagi selain dibuang dan diinjak orang.
Pesan Yesus: Menjadi Terang Dunia
Sebagai terang, para murid harus seperti kota yang terletak di atas bukit atau pelita di dalam rumah yang menyinari semua orang. Kita dipanggil menjadi terang yang terpancar melalui perilaku baik untuk menghalau kegelapan dan kesuraman hidup:
- Di tengah kemiskinan, hadir dengan sikap berbelarasa.
- Di tengah kedukaan, hadir memberikan penghiburan.
- Di tengah sakit penyakit, hadir memberikan penguatan.
Nabi Yesaya pun telah mengingatkan bangsa Israel di pembuangan Babel bahwa mereka akan bercahaya laksana fajar ketika mereka peduli pada sesama: membela yang lemah, menderita bersama yang sakit, dan berbagi dengan yang berkekurangan.
Pesan Iman untuk Kita
- Hendaknya setiap kita menjadi garam yang menangkal segala kebusukan moral dengan berperilaku baik. Kebaikan harus mampu mengalahkan kejahatan apa pun.
- Hendaknya kita menjadi terang yang mengantar orang lain pada sukacita, damai, dan persahabatan sejati.
Minggu Biasa V Bacaan: Yes 58:7-10; Mat 5:13-16
Editor: Del Neonub








