Menjadi Garam dan Terang Dunia: Menggarami Kehidupan, Menghalau Kegelapan

Kotbah Katolik Minggu Biasa V - Oleh Rm. Chris Taus, Pr.

- Editor

Jumat, 6 Februari 2026 - 22:51 WITA

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Injil Minggu Ini: Singkat namun Padat Pesan

Ada dua kata penting dalam pesan Yesus kepada murid-murid-Nya setelah Ia menyampaikan Khotbah di Bukit: “Jadilah Garam dan Terang Dunia.” Kita semua mengenal dan merasakan manfaat dari kedua hal ini, sehingga kita pun memahami maknanya bagi kehidupan iman.

Filosofi Garam dalam Tradisi Yahudi

Garam adalah bumbu dapur paling purba yang digunakan manusia sejak zaman dahulu dan tetap bertahan hingga sekarang. Bagi bangsa Israel di Perjanjian Lama, hidup mereka sangat lekat dengan garam. Masyarakat Yahudi kuno memiliki persediaan garam yang melimpah dari pantai Laut Mati serta bukit-bukit garam (Jebel Usdum) yang terbentuk dari fosil.

Dalam tradisi Yahudi, garam selalu dihubungkan dengan empat hal penting:

  1. Simbol Kemurnian: Garam melambangkan kesucian karena dihasilkan secara alami oleh air laut dan sinar matahari.
  2. Pengawet dan Penyedap: Garam mencegah pembusukan dan memberikan rasa pada makanan.
  3. Tanda Perjanjian: Garam menjadi lambang perjanjian kekal antara Allah dan Israel, yang diteguhkan oleh kesetiaan Allah.
  4. Cita Rasa yang Khas: Makanan tanpa garam ibarat malam tak berbintang atau hidup tanpa cinta.

Pesan Yesus: Menjadi Garam Dunia

Atas dasar pengalaman itulah, Yesus meminta para murid-Nya menjadi garam. Kita diutus untuk memberikan “rasa” dan menjadi penangkal segala kebusukan dunia agar bumi menjadi tempat yang layak huni. Caranya adalah dengan mengubah hal yang “tawar” menjadi bermakna:

  • Membawa keadilan di tengah ketidakadilan.
  • Memberi pengharapan bagi mereka yang patah semangat.
  • Membawa kebebasan bagi mereka yang tertindas.

Dengan demikian, dunia menjadi tanda kehadiran kasih Allah, damai, kebenaran, dan keadilan. Namun, Yesus juga mengingatkan bahaya jika garam menjadi tawar, karena ia tidak akan berguna lagi selain dibuang dan diinjak orang.

Pesan Yesus: Menjadi Terang Dunia

Sebagai terang, para murid harus seperti kota yang terletak di atas bukit atau pelita di dalam rumah yang menyinari semua orang. Kita dipanggil menjadi terang yang terpancar melalui perilaku baik untuk menghalau kegelapan dan kesuraman hidup:

  • Di tengah kemiskinan, hadir dengan sikap berbelarasa.
  • Di tengah kedukaan, hadir memberikan penghiburan.
  • Di tengah sakit penyakit, hadir memberikan penguatan.

Nabi Yesaya pun telah mengingatkan bangsa Israel di pembuangan Babel bahwa mereka akan bercahaya laksana fajar ketika mereka peduli pada sesama: membela yang lemah, menderita bersama yang sakit, dan berbagi dengan yang berkekurangan.

Pesan Iman untuk Kita

  1. Hendaknya setiap kita menjadi garam yang menangkal segala kebusukan moral dengan berperilaku baik. Kebaikan harus mampu mengalahkan kejahatan apa pun.
  2. Hendaknya kita menjadi terang yang mengantar orang lain pada sukacita, damai, dan persahabatan sejati.

Minggu Biasa V Bacaan: Yes 58:7-10; Mat 5:13-16

Editor: Del Neonub

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja
Maria Diangkat ke Surga: Tanda Harapan bagi Umat Beriman
​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup
Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah
Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII
Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas
Kekuatan Sabda Allah dan Tanggung Jawab Iman Kita
Menemukan Kedamaian yang Hilang di Tengah Hidup Sehari-hari
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:32 WITA

“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 07:36 WITA

Maria Diangkat ke Surga: Tanda Harapan bagi Umat Beriman

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:01 WITA

​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 16:16 WITA

Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:47 WITA

Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja

Sabtu, 22 Agu 2026 - 20:32 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Maria Diangkat ke Surga: Tanda Harapan bagi Umat Beriman

Sabtu, 15 Agu 2026 - 07:36 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup

Sabtu, 8 Agu 2026 - 06:01 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah

Sabtu, 1 Agu 2026 - 16:16 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII

Sabtu, 25 Jul 2026 - 08:47 WITA

error: Content is protected !!
Exit mobile version