Cerita tentang mukjizat Yesus menggandakan roti sudah dikenal luas dan sangat gampang diingat. Cerita ini memiliki latar belakang Perjanjian Lama: ketika bangsa Israel keluar dari Mesir menuju Tanah Terjanji, mereka kelaparan di padang gurun, lalu Allah memberikan mereka roti manna—roti yang turun dari surga.
Pada zaman Yesus, banyak orang menderita sakit dan Yesus melakukan berbagai mukjizat untuk menyembuhkan mereka. Berita ini tersiar sangat luas, sehingga banyak orang mengikuti dan mencari Yesus ke mana pun Ia pergi, termasuk ke tempat yang sunyi seperti yang tertulis dalam bacaan Injil hari ini.
Ketika Yesus melihat orang banyak berbondong-bondong mencari-Nya—terutama saat hari mulai malam—hati-Nya tergerak oleh belas kasihan. Para murid meminta kepada-Nya agar menyuruh orang banyak itu pergi membeli makanan di kota. Namun, Yesus mencegahnya dan berkata, “Kamu harus memberi mereka makan.”
PASANG IKLAN ANDA DI SINI!
MURAH! Hubungi 08113810024
Kebetulan ada seorang anak yang membawa lima ketul roti dan dua ekor ikan. Yesus meminta orang banyak itu untuk duduk, lalu Ia mengucap syukur dan melipatgandakan lima roti dan dua ikan tersebut untuk memberi makan seluruh orang banyak. Hasilnya sangat berkelimpahan: ada sekitar 5.000 orang yang makan, dan sisa perjamuan itu masih ada 12 bakul. Ini adalah salah satu mukjizat besar yang dikerjakan oleh Yesus.
Mukjizat penggandaan roti ini terjadi berkat partisipasi manusia. Para murid hanya memiliki lima ketul roti dan dua ekor ikan yang dibawa oleh seorang anak. Dari hal kecil yang dibawa anak tersebut, Yesus melipatgandakannya hingga menjadi sangat berlimpah.
Melalui mukjizat ini, Yesus secara perlahan mengantar para murid dan orang banyak untuk masuk ke dalam rahasia Ekaristi Kudus.
Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi sarana Yesus mengajar para murid agar selalu memiliki sikap empati dan peduli terhadap sesama—yaitu dengan hati yang tergerak oleh belas kasihan serta rela berbagi, bukan malah bersungut-sungut, mengeluh, atau marah-marah. Sikap yang mengalir dari belas kasihan, meskipun tampaknya kecil, biasa, dan terbatas (seperti lima roti dan dua ekor ikan), jika diserahkan dengan tulus kepada Tuhan, maka Tuhan akan mengubahnya menjadi sangat berkelimpahan.
Tuhan meminta kita untuk meninggalkan sifat buruk dan ego kita yang keras. Dengan sikap belas kasihan, apa pun yang ada pada kita, hendaklah kita rela bagikan kepada sesama yang berkekurangan. Sebab di dalam tangan Tuhan, Ia akan mengubah persembahan kecil kita menjadi berkat yang berlimpah. Apa yang ada pada kita adalah pemberian Tuhan semata, maka hendaknya kita tidak kikir untuk berbagi.
Jika hal ini kita lakukan dengan tulus, maka hidup kita akan selalu berkelimpahan, baik di dunia ini maupun di surga kelak. Semoga. Amin.
Catatan Liturgi:
- Hari Minggu: Minggu Biasa XVIII
- Bacaan I: Yesaya 55:1-3
- Bacaan II: Roma 8:35, 37-39
- Injil: Matius 14:13-21 (Catatan: Referensi perikop mukjizat penggandaan roti dalam Injil Matius adalah bab 14:13-21)
Penulis : Rm. Chris Taus
Editor : Del Neonub
Sumber Berita: Komsos Paroki Camplong