Yesus datang untuk mewartakan Injil kabar gembira Kerajaan Allah. Injil kabar gembira Kerajaan Allah ini menyimpan rahasia ilahi Allah yang terkadang susah untuk dimengerti. Para murid yang selalu dekat dengan Yesus juga mengalami kesulitan untuk menangkap dan mengerti ajaran Yesus. Untuk itu, Yesus kadang mengajarkan dan menjelaskan ajaran-Nya dengan memakai perumpamaan.
Ada begitu banyak perumpamaan dalam Injil. Tiap perumpamaan punya pesan dan arti tersendiri. Salah satu perumpamaan itu adalah Injil hari Minggu ini, yakni perumpamaan tentang penabur, yang lebih dikenal dengan Perumpamaan tentang Benih. Fokus perumpamaan ini bukan pada penaburnya, tetapi pada benih yang ditabur.
Kisahnya pernah kita dengar dan ketahui bersama. Ada seorang penabur yang menaburkan benih. Ada benih yang jatuh di pinggir jalan, ada benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, ada yang jatuh di tengah semak berduri, dan sebagian jatuh di tanah yang baik. Dengan kondisi tanah yang ada, kita sudah bisa membayangkan bagaimana hasilnya.
PASANG IKLAN ANDA DI SINI!
MURAH! Hubungi 08113810024
Melalui perumpamaan ini, Yesus membandingkan Sabda Allah dengan benih yang ditabur. Seperti benih yang ditabur di tanah dengan kondisi yang berbeda-beda, demikian juga benih Sabda Allah ditabur dalam hati orang yang mendengarkannya.
Dalam perumpamaan ini, ada dua hal penting yang dapat kita renungkan:
- Sabda Tuhan akan tumbuh dan berbuah jika ditanam di tanah yang baik. Supaya tanah itu menjadi tanah yang baik, tanah tersebut harus dirawat dengan benar. Demikian pula Sabda Tuhan akan tumbuh dan berbuah dalam hati kita jikalau hati kita dibersihkan dari segala dosa, memupuk jiwa dengan keutamaan-keutamaan Kristiani, serta memeliharanya dengan rahmat Tuhan dan sakramen-sakramen.
- Yesus membandingkan Sabda Allah dengan benih untuk menegaskan bahwa Sabda Tuhan tidak datang kepada kita sebagai produk akhir yang langsung jadi. Ketika benih Sabda Allah tertanam dalam hati dan jiwa, kita harus melakukan bagian kita dalam memelihara Sabda itu serta melaksanakannya dalam perilaku hidup sehari-hari. Dengan cara ini, benih Sabda Tuhan akan tumbuh subur dan berdaya guna.
Inilah alasan mengapa Yesus hanya melakukan pelayanan-Nya selama tiga tahun saja. Sebab, karya mewartakan Sabda Allah kini menjadi tugas dan tanggung jawab kita. Karena itu, setelah Yesus naik ke surga kembali kepada Allah Bapa, Yesus memberikan perintah kepada murid-murid-Nya: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”
Nabi Yesaya juga terus mewartakan Sabda Allah kepada bangsa Israel di pembuangan Babel, bahwa Sabda yang keluar dari mulut Allah untuk menyelamatkan Israel tidak akan kembali dengan sia-sia. Inilah kekuatan sejati dari Sabda Allah itu.
PESAN IMAN Tuhan telah menanam dan menumbuhkan benih Sabda Allah dalam diri dan hati kita. Maka sekarang, giliran kita untuk menumbuhkannya agar menghasilkan buah-buah keselamatan dalam kesaksian iman kita sehari-hari.
MINGGU BIASA XV
- Yesaya 55:10-11
- Roma 8:18-23
- Matius 13:1-23
Penulis : Rm. Chris Taus
Editor : Del Neonub
Sumber Berita: Komsos Paroki Camplong