Dari Tradisi Menuju Kebudayaan Iman

Inkarnasi Allah yang Mengubah Wajah Manusia, Gereja, dan Rumah Tangga

- Editor

Rabu, 24 Desember 2025 - 06:44 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh RD. Anselmus Leu – Pastor Paroki Sta. Helena Lili – Camplong

Perayaan Natal bagi orang Kristiani bukan lagi sekadar tradisi, melainkan telah menjadi sebuah kebudayaan iman. Natal dirayakan oleh seluruh umat Kristiani di seluruh dunia, bahkan oleh seluruh isi surga dan dunia, masing-masing dengan caranya sendiri. Santo Fransiskus dari Asisi memperkenalkan kandang Natal sebagai sarana kontemplasi iman. Dalam gambaran-gambaran Natal itu, para gembala dan semua makhluk sering dilukiskan sebagai orang-orang yang rapi, bersih, necis, bahkan tampan. Padahal, dalam kenyataan historisnya, para gembala adalah orang-orang sederhana, kotor, jorok, dan tidak dipercaya oleh masyarakat.

Justru kepada merekalah, orang-orang kecil dan terpinggirkan, Allah terlebih dahulu mewartakan kabar gembira yang menggemparkan melalui bala tentara surgawi di padang Efrata. Mereka datang dan menyembah Sang Raja Alam Semesta yang lahir dalam kesederhanaan.

PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

ads

MURAH! Hubungi 08113810024

Suasana Natal seolah mengubah atmosfer kehidupan orang beriman: menjadi lebih indah dan semarak, lebih romantis, dan lebih religius. Orang yang beriman kepada Allah dalam diri Yesus Kristus tampak lebih berseri, lebih baik, dan lebih sadar akan kehadiran Tuhan. Karena itu, Gereja pada malam Natal menampung umat dalam suasana damai, sukacita, dan wajah-wajah yang bersinar. Namun, ada kalanya suasana ini cepat berlalu: tutupnya cepat, bukanya lambat.

BACA JUGA  Hari ini Gereja Katedral Kristus Raja Kupang Ditahbiskan

Sesungguhnya, perayaan Natal juga membuat sebagian orang merasa risi atau geli, karena suasana di Gereja sering kali tidak sejalan dengan suasana di rumah. Lagu-lagu Natal yang indah, lampu-lampu yang berkelap-kelip, pakaian yang gemerlap, dan liturgi yang meriah di Gereja, dalam sekejap bisa sangat berbeda dengan realitas kehidupan di rumah-rumah kita.

Kita menyanyikan lagu “Gloria in excelsis Deo” dan menyerukan “damai di bumi”, tetapi apakah damai itu sungguh hadir di rumah-rumah kita? Apa gunanya kita merayakan Natal yang begitu indah di Gereja, jika sukacita Natal itu tidak juga kita rayakan dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga kita?

Namun, kita tidak boleh putus asa. Perayaan liturgi yang dirayakan secara meriah bukan sekadar seremoni duniawi atau kegembiraan sementara yang bersifat manusiawi. Gereja merayakan liturgi yang agung untuk menggambarkan situasi eskatologis, yakni suasana surgawi yang sedang kita usahakan dan kita rindukan.

BACA JUGA  Material Berserakan, Hingga Sejumlah Rumah Bagi Korban Bencana Seroja di Kabupaten Belu Mangkrak.

Natal adalah perayaan Inkarnasi: Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, bahkan hendak tinggal di dalam diri kita. Karena itu, perayaan Natal menyentuh hati manusia dari dalam. Kita mengalami kegembiraan rohani dan religius yang meluap dari kedalaman hati. Hati yang bening, suci, dan bersih akan memancarkan wajah yang berseri dan bercahaya. Hendaknya kegembiraan itu tidak cepat ditutup, tetapi dibuka dan dihidupi sepanjang waktu.

Sejak peristiwa Inkarnasi di Betlehem, manusia mengenal Allah yang sebelumnya tidak kelihatan menjadi kelihatan, karena Ia menjadi seorang pribadi, seorang bayi. Allah orang Kristiani bukan hanya Allah yang jauh dan transenden, tetapi Allah yang hadir di sini, saat ini, dan di tengah kehidupan kita. Cobalah melihat orang di sebelah kiri dan kananmu: merekalah gambaran Allah, karena manusia diciptakan menurut citra dan rupa-Nya.

BACA JUGA  BNPT Melalui Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi NTT Gelar Survei Di Malaka

Oleh karena itu, pantaslah jika umat Kristiani mengalami kegembiraan religius yang mendalam, sebab Allah menjadi begitu dekat dan intim dengan ciptaan-Nya. Dalam Perjanjian Lama, Allah sering tampil sebagai Pribadi yang agung, tinggi, dan menakutkan. Namun dalam Yesus Kristus, Ia hadir secara sederhana sebagai Putra Manusia yang miskin.

Dunia boleh bersedih karena perang, pertikaian, penderitaan, dan keputusasaan. Namun orang Kristiani dipanggil untuk tetap bersukacita, sebab Allah telah datang, tinggal di antara kita, dan hidup di dalam diri kita.

Melalui peristiwa Natal, Allah tidak serta-merta memadamkan semua perang, karena perang lahir dari manusia yang belum mengenal Allah dan belum menerima Kristus sebagai Raja Damai. Allah juga tidak langsung membinasakan orang-orang jahat, sebab Ia selalu memberi kesempatan kedua, bahkan ketiga, untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.

Jangan takut.

Editor : Del Neonub || Komsos Paroki Sta. Helena Camplong

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah
Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII
Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas
Kekuatan Sabda Allah dan Tanggung Jawab Iman Kita
Menemukan Kedamaian yang Hilang di Tengah Hidup Sehari-hari
Paus Tunjuk Mgr. Walter Erbì sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia dan ASEAN
Jejak Iman Sejak 1942: Uskup Agung Kupang Disambut Adat Lamaholot pada HUT ke-30 Paroki Pariti
Panggilan Menuju Kekudusan dan Ganjaran Melimpah dari Allah
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 16:16 WITA

Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:47 WITA

Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:11 WITA

Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas

Sabtu, 11 Juli 2026 - 11:48 WITA

Kekuatan Sabda Allah dan Tanggung Jawab Iman Kita

Kamis, 2 Juli 2026 - 05:03 WITA

Paus Tunjuk Mgr. Walter Erbì sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia dan ASEAN

Berita Terbaru

Minggu Biasa XVIII

KOTBAH & RENUNGAN

Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah

Sabtu, 1 Agu 2026 - 16:16 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII

Sabtu, 25 Jul 2026 - 08:47 WITA

Gambar dokumentasi dan olahan matatimor.net

KOTBAH & RENUNGAN

Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:11 WITA

Gambar dibuat dengan GeminiAI (prompt oleh del neonub)

OPINI

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi

Kamis, 16 Jul 2026 - 06:45 WITA

Foto oleh matatimor

KOTBAH & RENUNGAN

Kekuatan Sabda Allah dan Tanggung Jawab Iman Kita

Sabtu, 11 Jul 2026 - 11:48 WITA

error: Content is protected !!