Dari Tradisi Menuju Kebudayaan Iman

Inkarnasi Allah yang Mengubah Wajah Manusia, Gereja, dan Rumah Tangga

Oleh RD. Anselmus Leu – Pastor Paroki Sta. Helena Lili – Camplong

Perayaan Natal bagi orang Kristiani bukan lagi sekadar tradisi, melainkan telah menjadi sebuah kebudayaan iman. Natal dirayakan oleh seluruh umat Kristiani di seluruh dunia, bahkan oleh seluruh isi surga dan dunia, masing-masing dengan caranya sendiri. Santo Fransiskus dari Asisi memperkenalkan kandang Natal sebagai sarana kontemplasi iman. Dalam gambaran-gambaran Natal itu, para gembala dan semua makhluk sering dilukiskan sebagai orang-orang yang rapi, bersih, necis, bahkan tampan. Padahal, dalam kenyataan historisnya, para gembala adalah orang-orang sederhana, kotor, jorok, dan tidak dipercaya oleh masyarakat.

Justru kepada merekalah, orang-orang kecil dan terpinggirkan, Allah terlebih dahulu mewartakan kabar gembira yang menggemparkan melalui bala tentara surgawi di padang Efrata. Mereka datang dan menyembah Sang Raja Alam Semesta yang lahir dalam kesederhanaan.

Suasana Natal seolah mengubah atmosfer kehidupan orang beriman: menjadi lebih indah dan semarak, lebih romantis, dan lebih religius. Orang yang beriman kepada Allah dalam diri Yesus Kristus tampak lebih berseri, lebih baik, dan lebih sadar akan kehadiran Tuhan. Karena itu, Gereja pada malam Natal menampung umat dalam suasana damai, sukacita, dan wajah-wajah yang bersinar. Namun, ada kalanya suasana ini cepat berlalu: tutupnya cepat, bukanya lambat.

Sesungguhnya, perayaan Natal juga membuat sebagian orang merasa risi atau geli, karena suasana di Gereja sering kali tidak sejalan dengan suasana di rumah. Lagu-lagu Natal yang indah, lampu-lampu yang berkelap-kelip, pakaian yang gemerlap, dan liturgi yang meriah di Gereja, dalam sekejap bisa sangat berbeda dengan realitas kehidupan di rumah-rumah kita.

Kita menyanyikan lagu “Gloria in excelsis Deo” dan menyerukan “damai di bumi”, tetapi apakah damai itu sungguh hadir di rumah-rumah kita? Apa gunanya kita merayakan Natal yang begitu indah di Gereja, jika sukacita Natal itu tidak juga kita rayakan dalam kehidupan keluarga dan rumah tangga kita?

Namun, kita tidak boleh putus asa. Perayaan liturgi yang dirayakan secara meriah bukan sekadar seremoni duniawi atau kegembiraan sementara yang bersifat manusiawi. Gereja merayakan liturgi yang agung untuk menggambarkan situasi eskatologis, yakni suasana surgawi yang sedang kita usahakan dan kita rindukan.

Natal adalah perayaan Inkarnasi: Allah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, bahkan hendak tinggal di dalam diri kita. Karena itu, perayaan Natal menyentuh hati manusia dari dalam. Kita mengalami kegembiraan rohani dan religius yang meluap dari kedalaman hati. Hati yang bening, suci, dan bersih akan memancarkan wajah yang berseri dan bercahaya. Hendaknya kegembiraan itu tidak cepat ditutup, tetapi dibuka dan dihidupi sepanjang waktu.

Sejak peristiwa Inkarnasi di Betlehem, manusia mengenal Allah yang sebelumnya tidak kelihatan menjadi kelihatan, karena Ia menjadi seorang pribadi, seorang bayi. Allah orang Kristiani bukan hanya Allah yang jauh dan transenden, tetapi Allah yang hadir di sini, saat ini, dan di tengah kehidupan kita. Cobalah melihat orang di sebelah kiri dan kananmu: merekalah gambaran Allah, karena manusia diciptakan menurut citra dan rupa-Nya.

Oleh karena itu, pantaslah jika umat Kristiani mengalami kegembiraan religius yang mendalam, sebab Allah menjadi begitu dekat dan intim dengan ciptaan-Nya. Dalam Perjanjian Lama, Allah sering tampil sebagai Pribadi yang agung, tinggi, dan menakutkan. Namun dalam Yesus Kristus, Ia hadir secara sederhana sebagai Putra Manusia yang miskin.

Dunia boleh bersedih karena perang, pertikaian, penderitaan, dan keputusasaan. Namun orang Kristiani dipanggil untuk tetap bersukacita, sebab Allah telah datang, tinggal di antara kita, dan hidup di dalam diri kita.

Melalui peristiwa Natal, Allah tidak serta-merta memadamkan semua perang, karena perang lahir dari manusia yang belum mengenal Allah dan belum menerima Kristus sebagai Raja Damai. Allah juga tidak langsung membinasakan orang-orang jahat, sebab Ia selalu memberi kesempatan kedua, bahkan ketiga, untuk bertobat dan kembali kepada-Nya.

Jangan takut.

Editor : Del Neonub || Komsos Paroki Sta. Helena Camplong