Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah

Oleh Rm. Chris Taus, Pr - Paroki Sta. Helena Camplong

- Editor

Sabtu, 12 September 2026 - 08:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Renungan Minggu Biasa XXIV
Sirakh 27:30–28:9 | Roma 14:7–9 | Matius 18:21–35

Dunia kita saat ini ditandai dengan persaingan hidup yang begitu kuat: persaingan untuk merebut kekuasaan, jabatan, pengaruh, bahkan uang. Ada orang yang begitu haus akan kekuasaan. Kita dapat melihatnya dalam berbagai dinamika politik yang terjadi di negara kita.

Dalam situasi seperti ini, saling mengampuni seolah-olah menjadi sesuatu yang mustahil. Yang sering terjadi justru saling sikut, saling menjatuhkan, bahkan menyimpan dendam dan melakukan pembalasan. Bila perlu, orang lain dibuat susah dan sengsara hanya karena dianggap sebagai penghalang bagi kepentingan pribadi.

PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

ads

MURAH! Hubungi 08113810024

Padahal, mengampuni seharusnya menjadi keharusan bagi setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Sebab, Allah adalah Tuhan yang Mahapengampun, Maharahim, dan penuh belas kasih.

Sifat Allah yang Mahapengampun dan penuh belas kasih sangat erat kaitannya dengan dosa manusia. Allah senantiasa membuka pintu pengampunan bagi manusia yang datang kepada-Nya dengan penuh kerendahan hati. Pengampunan Allah tidak pernah berhenti diberikan kepada manusia.

Yesus adalah Sabda Pengampunan Bapa. Apa yang dilakukan Yesus merupakan bukti nyata bahwa Allah senantiasa bertindak untuk menyelamatkan dan mengampuni manusia. Dalam pelayanan-Nya, Yesus tidak hanya menyembuhkan orang dari sakit secara jasmani, tetapi juga membawa pengampunan dan pemulihan hidup.

Kita pun, setiap kali memohon pengampunan kepada Allah, percaya bahwa Allah selalu membuka hati-Nya untuk mengampuni. Sebagai umat Katolik, kita mengalami secara nyata belas kasih Allah melalui Sakramen Rekonsiliasi atau Sakramen Pengakuan Dosa.

Mengampuni Tanpa Batas

Orang Yahudi memiliki kebiasaan atau pemahaman tentang batas pengampunan terhadap orang yang bersalah. Petrus kemudian ingin mengetahui bagaimana pandangan Yesus mengenai hal tersebut.

Petrus bertanya kepada Yesus:

“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadapku? Sampai tujuh kali?”

Yesus menjawab:

“Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Jawaban Yesus bukan sekadar soal angka. Tujuh puluh kali tujuh kali berarti mengampuni tanpa batas.

Sering kali kita mempunyai batas dalam mengampuni. Kesalahan pertama: kita masih bisa berkata, “Saya maafkan.” Kesalahan kedua, kita masih mencoba bersabar. Kesalahan ketiga, kita mulai berkata, “Tidak ada maaf bagimu!”

Di sinilah Yesus mengajarkan sesuatu yang jauh lebih radikal: jangan menjadikan pengampunan sebagai hitungan matematis.

Perumpamaan tentang Pengampunan

Untuk menjelaskan pentingnya pengampunan, Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan yang sangat ekstrem.

Ada seorang hamba yang berutang sepuluh ribu talenta kepada tuannya. Karena ia tidak mampu membayar, ia memohon belas kasihan. Sang tuan kemudian membebaskan seluruh utangnya.

BACA JUGA  Karena Kita Semua Orang yang Berdosa Adalah Anak KesayanganNya - Kotbah Minggu Laetare

Namun, setelah mendapatkan pengampunan yang begitu besar, hamba itu justru bertemu dengan sesamanya yang berutang kepadanya seratus dinar. Ketika orang itu meminta pengampunan dan memohon kesabaran, ia tidak mau mengampuninya.

Bahkan, ia menangkap, menyiksa, dan memenjarakannya.

Sungguh ironis. Ia telah menerima pengampunan yang begitu besar, tetapi tidak mampu memberikan pengampunan kepada sesamanya.

Orang seperti ini sebenarnya tidak mengenal pengampunan, tidak memahami keadilan dan belas kasih, dan bahkan tidak tahu berterima kasih atas kemurahan hati yang telah diterimanya.

Bukankah kita pun sering berada dalam situasi yang sama?

Kita memohon kepada Tuhan agar mengampuni dosa-dosa kita. Kita meminta Tuhan memberikan kesempatan kedua, ketiga, bahkan berkali-kali kepada kita. Tetapi ketika sesama melakukan kesalahan terhadap kita, kita begitu sulit memberikan kesempatan yang sama.

Jangan Menghitung Kesalahan Sesama

Jika Tuhan mau menghitung-hitung kesalahan kita, tidak ada seorang pun yang mampu bertahan di hadapan-Nya.

Kita semua adalah manusia yang memiliki kelemahan dan kesalahan. Karena itu, kita membutuhkan belas kasih dan pengampunan Allah.

Pada Tuhan ada pengampunan dan belas kasih.

Tuhan telah bermurah hati kepada kita. Karena itu, kita pun dipanggil untuk bermurah hati kepada sesama.

Tidak adil jika kita terus-menerus memohon pengampunan kepada Tuhan, tetapi pada saat yang sama kita menutup pintu pengampunan bagi orang lain.

BACA JUGA  Makna Pembaptisan Yesus: Solidaritas Tuhan dengan Manusia Berdosa

Kitab Putra Sirakh dengan tegas mengecam sikap dendam dan keinginan untuk membalas kesalahan. Dendam hanya melahirkan dendam baru. Kebencian melahirkan kebencian. Balas dendam tidak pernah benar-benar menyelesaikan persoalan.

Sebaliknya, orang yang belajar mengampuni akan mengalami kebebasan dalam dirinya.

Pengampunan bukan berarti kita mengatakan bahwa kesalahan itu benar. Pengampunan juga bukan berarti kita membiarkan kejahatan terus terjadi. Mengampuni berarti melepaskan dendam dan menyerahkan penghakiman terakhir kepada Allah, sambil tetap memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Pesan Iman

Mengampuni sesama adalah sebuah perbuatan belas kasih dan kemurahan hati.

Ketika kita mengampuni, kita sebenarnya menjadi perpanjangan tangan dari kemurahan hati Allah. Kita meneruskan kepada sesama belas kasih yang terlebih dahulu kita terima dari Tuhan.

Dan ketika kita mampu mengampuni, kita sendiri akan mengalami sesuatu yang sangat berharga: kelegaan, kedamaian, dan ketenangan batin.

Karena itu, jangan terlalu cepat berkata, “Tidak ada maaf bagimu.”

Ingatlah bahwa kita sendiri hidup karena pengampunan Tuhan.

Jika Tuhan tidak pernah lelah mengampuni kita, mengapa kita begitu mudah lelah mengampuni sesama?

Mari belajar mengampuni, bukan karena kesalahan sesama kecil, tetapi karena kasih dan pengampunan Allah kepada kita jauh lebih besar.

Amin.

Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati.

Facebook Coment

Penulis : Rm. Chris Taus, Pr.

Editor : Del Neonub

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan
“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja
Maria Diangkat ke Surga: Tanda Harapan bagi Umat Beriman
​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup
Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah
Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII
Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas
Kekuatan Sabda Allah dan Tanggung Jawab Iman Kita
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 08:08 WITA

Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:32 WITA

“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:01 WITA

​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 16:16 WITA

Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah

Berita Terbaru

Iman & Gereja

Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah

Sabtu, 12 Sep 2026 - 08:08 WITA

BERITA

Saling Menegur dalam Kasih: Jalan Menuju Kesucian Hidup

Sabtu, 5 Sep 2026 - 07:38 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan

Sabtu, 29 Agu 2026 - 10:36 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja

Sabtu, 22 Agu 2026 - 20:32 WITA

error: Content is protected !!