Renungan Minggu Biasa XXVI
Bacaan: Yeh. 18:25-28; Mat. 21:28-31
Setiap manusia lahir dalam keadaan berdosa. Karena itu, kita semua adalah manusia berdosa. Namun, Tuhan membenci dosa, bukan membenci orang berdosa. Tuhan tetap mencintai manusia yang berdosa dan karena kasih-Nya, Ia ingin menyelamatkan serta mengembalikan manusia kepada jalan yang benar.
Sejarah keselamatan Allah mendapatkan titik pentingnya di sini. Tuhan terus menawarkan berbagai jalan keselamatan agar manusia bertobat dan kembali kepada-Nya.
Bertobat berarti menyesali kesalahan dan dosa, kemudian kembali kepada Tuhan serta menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya.
Untuk menjelaskan sikap pertobatan itu, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang dua orang anak.
Ada seorang ayah yang mempunyai dua orang anak. Ia meminta keduanya pergi bekerja di kebun anggur.
Anak pertama menjawab, “Ya, Bapa.” Namun, setelah itu ia tidak pergi.
Anak kedua menjawab, “Tidak.” Tetapi kemudian ia menyesal, lalu pergi melaksanakan perintah ayahnya.
Perumpamaan ini sangat mudah dipahami, terutama bagi orang tua. Kedua anak tersebut sama-sama melakukan kesalahan. Anak pertama mengatakan “ya”, tetapi tidak melaksanakan apa yang dikatakannya. Anak kedua mengatakan “tidak”, tetapi kemudian menyesal dan melakukan apa yang diminta ayahnya.
Karena itu, anak kedua dipuji. Ia menunjukkan sikap pertobatan: menyadari kesalahannya, menyesal, lalu memperbaiki sikapnya.
Yesus Menegur Sikap Orang Farisi dan Ahli Taurat
Yesus menyampaikan perumpamaan ini di Bait Allah, di hadapan para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Karena itu, pesan yang disampaikan Yesus sangat jelas.
Para ahli Taurat dan orang Farisi sangat mengetahui dan memahami Hukum Taurat. Mereka teliti dalam menjalankan berbagai aturan keagamaan. Namun, dalam kehidupan nyata, sikap dan perilaku mereka justru sering jauh dari semangat Hukum Taurat.
Mereka dapat diibaratkan seperti anak pertama: berkata “ya”, tetapi tidak melaksanakan kehendak Bapa.
Sebaliknya, orang-orang yang selama ini dianggap sebagai pendosa—seperti para pemungut cukai dan perempuan-perempuan yang hidup dalam dosa—mendengarkan seruan pertobatan yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis.
Mereka mau mendengarkan, menyesal, bertobat, dan kembali ke jalan yang benar.
Mereka seperti anak kedua: pada awalnya berkata “tidak”, tetapi kemudian menyesal dan melakukan kehendak Bapa.
Karena itu, Yesus menyampaikan teguran yang sangat kuat:
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Pesan Yesus bukan berarti dosa dibenarkan. Sebaliknya, Yesus menunjukkan bahwa pertobatan membuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada Allah.
Orang yang pernah jatuh dalam dosa tetap mempunyai kesempatan untuk berubah. Masa lalu seseorang tidak harus menjadi akhir dari hidupnya. Selama masih ada kemauan untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, selalu ada jalan menuju keselamatan.
Dosa dan Pertobatan
Nabi Yehezkiel dalam pewartaannya menegaskan bahwa manusia harus menyadari akibat dari dosa. Dosa dapat membawa manusia menjauh dari Allah dan akhirnya membawa kepada kematian.
Karena itu, manusia dipanggil untuk meninggalkan dosa dengan sungguh-sungguh. Pertobatan mengantar manusia kembali kepada jalan Tuhan, yaitu jalan kehidupan dan keselamatan.
Pertobatan bukan sekadar mengatakan, “Saya menyesal.”
Pertobatan harus diwujudkan dalam perubahan hidup.
Ada keberanian untuk mengakui kesalahan, ada kerendahan hati untuk meminta ampun, dan ada kemauan untuk memperbaiki kehidupan.
Pesan Iman
Ada beberapa pesan yang dapat kita renungkan dari Injil hari ini.
Pertama, kita semua adalah orang berdosa.
Tidak ada seorang pun yang sempurna. Karena itu, kita semua membutuhkan pertobatan. Jangan merasa diri paling benar dan jangan mudah menghakimi kesalahan orang lain.
Kedua, pertobatan adalah jalan menuju keselamatan.
Yang menentukan bukan hanya bagaimana seseorang memulai perjalanan hidupnya, tetapi bagaimana ia mengakhiri perjalanan itu di hadapan Tuhan. Orang yang pernah salah masih mempunyai kesempatan untuk berubah dan kembali kepada Allah.
Ketiga, marilah kita menjadi “anak ketiga”.
Anak ketiga ini memang tidak ada dalam perumpamaan Yesus. Namun, kita dapat membayangkannya sebagai anak yang sejak awal berkata “Ya” kepada Bapa dan tetap melaksanakan kehendak-Nya.
Bukan hanya berkata “Ya” dengan mulut, tetapi juga “Ya” dalam hati, perkataan, dan tindakan.
Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang ketika mengatakan “Ya” kepada Tuhan, sungguh-sungguh menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebab pada akhirnya, iman tidak hanya diukur dari seberapa banyak kita mengetahui tentang Tuhan, seberapa sering kita berdoa, atau seberapa banyak kita berbicara tentang iman. Iman juga harus tampak dalam pertobatan dan perubahan hidup.
Tuhan tidak mencari manusia yang tidak pernah berdosa. Tuhan mencari manusia yang mau menyadari dosanya, bertobat, dan kembali kepada-Nya.
Semoga kita semua memiliki kerendahan hati untuk mengakui kesalahan, keberanian untuk bertobat, dan kesetiaan untuk terus berjalan di jalan keselamatan yang ditawarkan Tuhan.
Tuhan memberkati.
Penulis : Rm. Chris Taus, Pr
Editor : Del Neonub







