MATATIMOR.NET — Perjalanan panggilan menjadi imam tidak selalu dimulai dari keluarga Katolik. Bagi RD. Adrianus Dimu, Pr., yang akrab disapa Ama Kolo, benih panggilan itu tumbuh dari sebuah pengalaman masa muda yang mengubah arah hidupnya. Terlahir dan dibesarkan dalam lingkungan Protestan, ia kemudian tertarik masuk Katolik setelah menamatkan pendidikan SMP. Keteladanan seorang misionaris, Pater Frans Lackner, SVD, menjadi salah satu inspirasi penting dalam perjalanan imannya hingga menjadi imam Katolik pertama dari Pulau Sabu.
Pada 10 Oktober 2026, perjalanan imamatnya genap 25 tahun sejak menerima tahbisan imam pada 10 Oktober 2001. Seperempat abad pelayanan ini menjadi kesempatan untuk mengenang perjalanan panggilan, berbagai tantangan, serta kesetiaan Tuhan yang ia rasakan sepanjang hidup dan pelayanannya.
Terinspirasi Misionaris yang Melayani Sabu dan Rote
Dalam sambutan syukur 25 Tahun Imamat, Ama Kolo mengenang sosok Pater Frans Lackner, SVD, sebagai pribadi yang menggetarkan hatinya sejak kecil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia terkesan pada seorang misionaris yang berasal dari luar negeri, tetapi bersedia meninggalkan kenyamanan hidup untuk tinggal, menderita, dan melayani bersama umat di Sabu dan Rote.
Keteladanan tersebut menanamkan sebuah keinginan sederhana dalam diri Ama Kolo. Apa yang semula hanya menjadi ungkapan seorang anak kecil terus menggema dalam perjalanan hidupnya dan mendorongnya untuk mengikuti jejak sang misionaris.
Ketika menamatkan SMP, ia mengambil keputusan untuk menjadi Katolik. Keputusan itu menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan hidupnya, sekaligus membuka jalan menuju panggilan imamat.
Kisah Ama Kolo memperlihatkan bagaimana sebuah kesaksian hidup dapat menanamkan benih panggilan. Bukan terutama melalui kata-kata, melainkan melalui keberanian seseorang untuk meninggalkan kenyamanan dan hadir bersama mereka yang dilayani.
Dari Guru Agama Katolik hingga Pendidikan Calon Imam
Perjalanan Ama Kolo menuju imamat berlangsung melalui sejumlah tahap pendidikan dan pembinaan. Kronologi pendidikannya memperlihatkan proses panjang yang ia jalani sebelum akhirnya menerima tahbisan.
Pada 1983–1986, ia mengikuti Pendidikan Guru Agama Katolik di SMK Warta Bakti Kefamenanu. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia mengajar Agama Katolik di SDK Nehona, Sabu, pada 1986–1988.
Pengalaman mengajar di tanah kelahirannya menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Sebelum menjadi imam, ia telah lebih dahulu terlibat dalam pendidikan iman anak-anak melalui tugas sebagai guru agama Katolik.
Pada 1988–1991, ia melanjutkan pembinaan di Kelas Persiapan Atas Seminari San Dominggo Hokeng, Flores Timur. Tahap berikutnya adalah Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Lo’o Damian, Belu, pada 1991–1992.
Ia kemudian menjalani studi filsafat pada 1992–1996, dilanjutkan dengan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) pada 1996–1998. Pendidikan teologi ditempuhnya di Seminari Tinggi Santo Mikael, Kupang, pada 1998–2000.
Pada 2000–2001, ia menjalani TOP di Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi, Kupang.
Rangkaian pendidikan tersebut menggambarkan proses panjang pembentukan seorang calon imam, mulai dari pendidikan dasar keguruan agama, pembinaan rohani, studi filsafat dan teologi, hingga pengalaman pastoral.
Tahbisan Diakon Ditunda, Imamat Diterima pada 10 Oktober 2001
Perjalanan menuju tahbisan tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Pada tahun 2000, ketika seharusnya menerima tahbisan diakon, tahbisan Ama Kolo ditunda oleh Uskup Agung Kupang setelah melalui sejumlah pertimbangan.
Akibat penundaan itu, ia melanjutkan praktik pastoral di Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi, Kupang, pada periode 2000–2001.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan panggilannya yang menuntut kesabaran dan ketekunan. Meski harus menghadapi perubahan rencana, proses pembinaan tetap berlanjut hingga akhirnya ia menerima tahbisan imam pada 10 Oktober 2001.
Tanggal tersebut menjadi tonggak penting dalam hidupnya. Sejak saat itu, perjalanan panggilannya memasuki tahap baru: menjalani pelayanan sebagai imam untuk Gereja dan umat Allah.
Sebagai imam Katolik pertama yang berasal dari Pulau Sabu, perjalanan Ama Kolo juga memiliki arti tersendiri bagi sejarah kehidupan Gereja Katolik di wilayah tersebut.
“Jiwaku Memuliakan Tuhan”
Dalam refleksi atas 25 tahun imamat, Ama Kolo mengungkapkan bahwa moto yang membingkai perjalanan pelayanannya adalah:
“Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juru Selamatku.”
Kutipan yang diambil dari Injil Lukas 1:46–47 itu merupakan bagian dari Kidung Maria atau Magnificat. Bagi Ama Kolo, ungkapan pujian Maria tersebut menjadi dasar untuk memahami imamat sebagai anugerah Tuhan, bukan semata-mata hasil kemampuan manusia.
Ia mengakui bahwa dalam karya pelayanan, dirinya kerap merasa tidak pantas dan tidak layak. Perasaan itu terutama muncul ketika merayakan Ekaristi, khususnya pada saat konsekrasi.
Ketika seorang imam mengucapkan, “Inilah tubuh-Ku” dan “Inilah darah-Ku”, Ama Kolo menyadari bahwa yang dihadirkan bukanlah tubuh dan darah sang imam, melainkan Kristus sendiri.
Kesadaran tersebut membuatnya merasa gentar sekaligus bersyukur. Ia memandang imamat sebagai panggilan yang melampaui keterbatasan manusia: Tuhan berkenan memakai manusia yang biasa dan tidak sempurna untuk menghadirkan Kristus bagi umat-Nya sebagai santapan rohani.
Refleksi ini memperlihatkan kerendahan hati Ama Kolo dalam memahami tugas imamat. Baginya, kekuatan untuk bertahan dalam pelayanan tidak terutama berasal dari kemampuan pribadi, melainkan dari rahmat dan penyertaan Tuhan.
Melayani di Berbagai Tempat
Setelah ditahbiskan, Ama Kolo menjalani sejumlah tugas pelayanan di wilayah Keuskupan Agung Kupang.
Ia pernah bertugas sebagai pembina di Seminari Menengah Santo Rafael Oepoi, Kupang. Selanjutnya, ia menjadi pastor rekan di Paroki Santo Yosep Naikoten II, kemudian bertugas di Paroki Santo Paulus Oenlasi dan Paroki Santa Maria Dolorosa Soe.
Ia juga pernah menjalani tugas di Bengkel. Dalam sambutannya, ia mengenang pengalaman tersebut dengan terbuka. Ia merasa kurang mampu menjalankan pekerjaan teknis yang berkaitan dengan perhitungan batu, kayu, serta ukuran untuk membuat meja dan kursi. Karena itu, ia meminta kepada uskup agar dipindahkan dari tugas tersebut.
Ia kemudian bertugas sebagai pastor rekan di Paroki Santo Gregorius Agung Oeta bersama seorang rekan imam.
Pengalaman-pengalaman itu menjadi bagian dari perjalanan pelayanan yang membentuk dirinya. Setiap tempat menghadirkan tantangan dan kebutuhan berbeda, menuntut kemampuan untuk beradaptasi, belajar, serta melayani umat sesuai tugas yang dipercayakan.
Membenahi Gereja Santa Teresia Teno
Pada tahun 2019, Ama Kolo menerima tugas dari uskup untuk membenahi Gereja Santa Teresia Teno. Letak gereja di pinggir jalan menjadi perhatian tersendiri karena banyak orang melewatinya, tetapi belum tentu mengetahui bahwa bangunan tersebut merupakan tempat ibadah.
Sejak 2019, pembenahan dilakukan secara bertahap. Upaya tersebut bertujuan agar lingkungan gereja semakin tertata dan keberadaannya lebih mudah dikenali oleh masyarakat maupun umat yang hendak beribadah.
Dalam sambutannya, Ama Kolo juga menyampaikan rasa syukur atas dukungan yang diberikan dalam karya pelayanan tersebut. Ia menyebut penempatan Romo Guti pada 2025 sebagai rekan untuk bersama-sama melanjutkan pembenahan di lingkungan Gereja Santa Teresia Teno.
Perjalanan ini memperlihatkan bahwa pelayanan seorang imam tidak hanya berlangsung di altar melalui perayaan sakramen, tetapi juga melalui upaya membangun kehidupan menggereja, merawat lingkungan pastoral, dan menjadikan gereja sebagai tempat yang semakin terbuka bagi umat.
Memohon Maaf dan Dukungan Doa
Pada bagian akhir sambutannya, Ama Kolo menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh umat, rekan-rekan imam, serta para pengurus gereja di paroki dan stasi. Ia menyadari bahwa selama berkarya bersama, mungkin terdapat kata-kata atau tindakan yang kurang berkenan.
Ia juga memohon dukungan doa agar tetap setia sampai akhir dalam menjalani panggilan imamatnya.
Pesan tersebut menjadi bagian yang menyentuh dari refleksi 25 tahun pelayanannya. Setelah melewati proses pendidikan yang panjang, penundaan tahbisan, dan berbagai tugas pastoral, ia tetap menempatkan dirinya sebagai manusia yang membutuhkan pengampunan, dukungan, dan doa dari umat.
Bagi Ama Kolo, 25 tahun imamat bukanlah kisah tentang kesempurnaan seorang manusia, melainkan kesaksian tentang kesetiaan Tuhan yang terus bekerja melalui orang yang bersedia menjawab panggilan-Nya.
Dari seorang anak yang terinspirasi oleh Pater Frans Lackner, SVD, hingga menjadi imam Katolik pertama dari Pulau Sabu, perjalanan RD. Adrianus Dimu menjadi pengingat bahwa panggilan dapat tumbuh melalui keteladanan, keputusan iman, kesabaran, dan kesediaan untuk terus melayani.
Perayaan 25 tahun imamat ini menjadi kesempatan bagi umat untuk bersyukur atas perjalanan tersebut sekaligus mendoakan agar RD. Adrianus Dimu, Pr., senantiasa dianugerahi kesehatan, kebijaksanaan, dan kesetiaan dalam melayani Gereja dan umat Allah.
Penulis : Del Neonub
Editor : Redaksi







