Sebuah Minggu, Sebuah Keluarga, dan Pelajaran tentang Kebahagiaan
Minggu, 25 Oktober 2026, menjadi hari yang menyimpan kesan tersendiri bagi saya. Bukan karena ada perayaan besar dengan dekorasi mewah atau pesta yang mengundang banyak perhatian, melainkan karena sebuah peristiwa iman sederhana di Kapela Santa Maria Dolorosa Barate – Paroki St. Petrus Pariti, mengajarkan saya kembali tentang arti kebahagiaan.
Hari itu adalah Minggu Biasa ke-30 dalam kalender liturgi Gereja Katolik. Saya datang ke kapela untuk menjalankan tugas pelayanan sebagai organis, mengiringi koor umat dalam perayaan Ekaristi. Sebagai seorang guru yang tempat mengajarnya berada dalam wilayah pastoral kapela ini, saya cukup mengenal kehidupan umat di sana.
Kapela Santa Maria Dolorosa Barate memiliki cerita tersendiri. Tempat tinggal umat pun tidak dekat-dekat, tetapi berjauhan. Tidak setiap Minggu umat dapat merayakan Ekaristi karena kunjungan pastor dari pusat paroki, Paroki Santo Petrus Pariti, biasanya dijadwalkan satu atau dua kali dalam sebulan. Karena itu, setiap kesempatan merayakan Ekaristi bersama pastor selalu menjadi momen yang dinantikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ada kerinduan yang tersimpan dalam pertemuan-pertemuan seperti ini. Kerinduan untuk berdoa bersama, menyambut Tuhan dalam Ekaristi, dan merasakan kembali bahwa mereka adalah bagian dari satu persekutuan umat beriman.
Minggu itu, kerinduan tersebut berpadu dengan sukacita yang lebih istimewa. Ada sebuah keluarga yang sedang merayakan peristiwa penting dalam perjalanan hidup dan iman mereka.

Sebulan berlatih untuk sebuah perayaan
Sekitar pukul 09.30 WITA, Romo Yerri dari pusat paroki sudah tiba di kapela. Tiga puluh menit kemudian, tepat pukul 10.00 WITA, perayaan Ekaristi dimulai.
Umat yang hadir cukup banyak. Suasana kapela terasa hidup. Koor yang bertugas hari itu merupakan koor umat setempat yang telah mempersiapkan diri selama kurang lebih satu bulan. Mereka berlatih untuk mengiringi perayaan Ekaristi dengan sebaik mungkin.

Bagi saya yang duduk di depan alat musik sebagai organis, ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat umat bernyanyi bersama. Setiap lagu bukan sekadar rangkaian nada dan syair. Di dalamnya ada doa, harapan, dan kerinduan untuk memuliakan Tuhan.
Kami mungkin bukan kelompok koor profesional. Namun, ada kesungguhan yang membuat pelayanan itu terasa berarti. Sebulan latihan menjadi persembahan sederhana bagi Tuhan dan seluruh umat yang hadir.
Ekaristi hari itu pun terasa berbeda. Selain merayakan Minggu Biasa 30, umat menjadi saksi bagi sebuah keluarga yang menerima rahmat Tuhan melalui peristiwa-peristiwa sakramental yang penting.
Sebelas tahun perjalanan, sebuah peneguhan cinta

Bapak Antonius Sila dan Mama Sipora Pah telah membangun kehidupan rumah tangga sejak tahun 2015. Mereka sudah menjalani kehidupan sebagai suami istri selama kurang lebih sebelas tahun. Dalam perjalanan itu, tentu ada banyak cerita yang mereka lalui bersama: suka dan duka, perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga, serta tanggung jawab membesarkan anak-anak.
Namun, baru pada Minggu, 25 Oktober 2026, mereka mendapat kesempatan untuk menerima Sakramen Perkawinan di hadapan Tuhan dan Gereja.
Ada sesuatu yang menyentuh dari peristiwa ini. Sebuah keluarga yang telah menjalani kehidupan rumah tangga selama bertahun-tahun akhirnya merayakan peneguhan perkawinan secara sakramental.
Sakramen Perkawinan bukan sekadar acara untuk mendapatkan pengakuan atau menyelenggarakan pesta. Lebih dari itu, sakramen ini menjadi tanda kesediaan suami dan istri untuk meneguhkan cinta, kesetiaan, dan komitmen mereka di hadapan Tuhan.
Perkawinan bukan berarti perjalanan selanjutnya akan selalu mudah. Justru setelah perayaan selesai, kehidupan nyata terus berjalan. Ada tanggung jawab, persoalan, dan tantangan yang harus dihadapi bersama. Di sanalah kasih diuji dan kesetiaan menemukan maknanya.
Bagi Bapak Antonius dan Mama Sipora, hari itu menjadi sebuah tonggak penting dalam perjalanan keluarga mereka. Mereka tidak hanya merayakan cinta yang telah tumbuh sejak 2015, tetapi juga menyerahkan perjalanan selanjutnya ke dalam penyertaan Tuhan.
Sukacita keluarga ini semakin lengkap karena pada kesempatan yang sama, Mama Sipora Pah menerima Komuni Pertama. Sebelumnya, ia bukan seorang Katolik. Penerimaan Komuni Pertama itu menjadi bagian penting dalam perjalanan imannya untuk mengambil bagian dalam persekutuan Ekaristi Gereja Katolik.
Sementara itu, empat orang anak mereka menerima Sakramen Baptis. Melalui pembaptisan, anak-anak itu diterima dalam Gereja Katolik dan memulai perjalanan iman mereka sebagai anggota umat Allah.
Bayangkan, dalam satu hari, sebuah keluarga merayakan tiga peristiwa sakramental yang begitu bermakna: Sakramen Perkawinan bagi Bapak Antonius Sila dan Mama Sipora Pah, Komuni Pertama bagi Mama Sipora, serta Sakramen Baptis bagi keempat anak mereka.
Bagi keluarga ini, Minggu itu tentu bukan Minggu biasa. Ada rahmat yang disyukuri, ada perjalanan iman yang memasuki babak baru, dan ada kenangan yang akan terus hidup dalam ingatan mereka.
Pesan kasih yang terasa dekat

Dalam homilinya, Romo Yerri mengingatkan umat untuk saling mengasihi, sejalan dengan pesan Injil Minggu Biasa 30.
Pesan itu terasa sangat dekat dengan peristiwa yang sedang dirayakan. Sebab, kasih bukan hanya sesuatu yang indah untuk diucapkan dalam doa atau dituliskan dalam sebuah kartu ucapan. Kasih harus dihidupi dalam keseharian.
Dalam keluarga, kasih berarti kesediaan untuk saling menerima, mengampuni, dan bertahan ketika keadaan tidak selalu sesuai harapan. Dalam kehidupan menggereja, kasih berarti kesediaan untuk melayani dan menguatkan satu sama lain. Dalam kehidupan bermasyarakat, kasih berarti membuka ruang bagi orang lain untuk hadir, berbagi, dan merasakan kebersamaan.
Hari itu, saya melihat pesan kasih tersebut tidak berhenti di mimbar. Pesan itu seolah menemukan bentuknya dalam kehidupan umat yang berkumpul untuk merayakan sukacita sebuah keluarga.
Umat hadir dalam jumlah yang cukup banyak. Mereka datang untuk berdoa, bernyanyi, dan menjadi saksi peristiwa penting dalam kehidupan Antonius dan Sipora.
Bahkan, keluarga dari pihak mempelai perempuan yang berasal dari jemaat gereja Kristen setempat turut hadir dalam perayaan Ekaristi. Kehadiran mereka menambah kehangatan suasana. Di tengah perbedaan tradisi gerejawi, keluarga tetap dapat berkumpul untuk mendampingi orang-orang yang mereka kasihi.
Bagi saya, pemandangan itu menjadi pengingat bahwa kasih dan persaudaraan tidak seharusnya dibatasi oleh perbedaan. Ketika sebuah keluarga bersukacita, orang-orang terdekat dapat ikut mengambil bagian dalam sukacita tersebut.
Sebuah rumah, dua kursi, dan selimut bermotif Fatuleu Barat
Seusai perayaan Ekaristi, kami semua diundang ke rumah keluarga Antonius dan Sipora.
Saya mengikuti rombongan dengan perasaan gembira. Dalam pikiran saya, tentu keluarga yang baru saja merayakan Sakramen Perkawinan ingin berbagi kebahagiaan dengan umat yang hadir. Namun, ketika tiba di rumah mereka, saya menemukan suasana yang jauh dari gambaran pesta perkawinan mewah sebagaimana yang sering kita lihat.
Tidak ada dekorasi megah. Tidak ada panggung besar dengan ornamen yang memenuhi halaman. Tidak ada kemewahan yang sengaja ditampilkan untuk mengundang decak kagum.

Yang saya lihat hanyalah sepasang kursi yang dibalut kain adat. Di belakangnya, sebuah selimut bermotif khas Fatuleu Barat digantung sebagai latar untuk memperindah suasana.
Sederhana sekali.
Namun, justru di situlah saya menemukan keindahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dua kursi berbalut kain adat dan selembar selimut bermotif lokal sudah cukup untuk menandai bahwa sebuah peristiwa penting sedang dirayakan.
Tidak harus ada dekorasi yang mahal untuk membuat sebuah momen terasa istimewa. Tidak harus ada panggung yang megah agar orang-orang yang datang dapat merasakan sukacita tuan rumah.
Kehangatan tidak selalu lahir dari kemewahan. Kadang-kadang, kehangatan justru tumbuh dari kesederhanaan yang dijalani dengan tulus.
Setibanya di rumah, kami langsung bersiap untuk makan bersama. Doa makan dipimpin oleh Bapak Hend, kemudian makanan diberkati oleh Romo Yerri.
Setelah itu, kami menikmati hidangan yang telah disiapkan keluarga.
Tidak ada jarak yang terasa kaku antara tuan rumah dan tamu. Kami duduk bersama, menyantap makanan, dan berbagi kebersamaan. Saya merasa bahwa kami bukan sekadar tamu yang diundang untuk menghadiri pesta, melainkan bagian dari keluarga besar yang sedang merayakan sukacita.
Di tengah kehidupan yang semakin sering menilai sesuatu dari penampilan luar, suasana seperti ini terasa menyejukkan.
Tidak ada yang perlu dibuktikan. Tidak ada yang perlu dipamerkan. Yang penting, orang-orang hadir, makan bersama, dan ikut bersyukur atas rahmat Tuhan yang diterima keluarga tersebut.
Bosan Hala, tuak, dan cerita yang mengalir

Seusai makan, kebersamaan berlanjut dengan Bosan Hala.
Suasana semakin cair. Orang-orang mulai duduk berkelompok. Percakapan demi percakapan mengalir dengan santai. Ada yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari, ada yang menimpali cerita dengan candaan, dan ada pula yang menikmati tuak sambil berbincang bersama kerabat dan sahabat.
Tidak ada acara yang terasa terlalu formal. Tidak ada susunan kegiatan yang membuat orang harus terus-menerus memperhatikan waktu. Semua berlangsung secara alami, mengikuti irama kebersamaan yang sudah akrab dalam kehidupan masyarakat setempat.
Di tengah percakapan itu, saya kembali menyadari betapa berharganya kebiasaan berkumpul.
Kita hidup pada zaman ketika banyak hal bergerak begitu cepat. Orang sibuk bekerja, mengejar kebutuhan, memenuhi tuntutan hidup, dan berusaha mencapai berbagai target. Bahkan ketika berkumpul, tidak jarang perhatian kita masih tertuju pada layar telepon genggam.
Namun, hari itu, orang-orang duduk dan bercerita. Mereka memberi waktu untuk mendengarkan, menanggapi, tertawa, dan menikmati kehadiran satu sama lain.
Tidak semua kebahagiaan membutuhkan biaya besar. Ada kebahagiaan yang tumbuh ketika seseorang merasa diterima. Ada sukacita yang lahir ketika kita bisa duduk bersama tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain.
Waktu terus berjalan tanpa terasa. Percakapan masih berlanjut, sampai akhirnya matahari mulai condong ke barat.
Saya pun menyadari bahwa hari itu telah memberi saya lebih dari sekadar pengalaman pelayanan sebagai organis. Saya pulang membawa sebuah refleksi tentang iman, keluarga, budaya, dan arti kebahagiaan.
Tidak harus menjadi raja dan ratu semalam
Ada ungkapan yang sering kita dengar ketika seseorang menikah: pengantin harus menjadi raja dan ratu sehari, atau setidaknya semalam.
Ungkapan itu menggambarkan keinginan untuk menjadikan perkawinan sebagai momen yang paling istimewa dalam hidup. Tidak ada yang salah dengan pesta yang meriah. Setiap keluarga tentu memiliki cara sendiri untuk merayakan kebahagiaan, sesuai kemampuan, tradisi, dan keinginan mereka.
Namun, pengalaman di rumah Antonius Sila dan Sipora Pah membuat saya berpikir kembali tentang kebiasaan kita memaknai sebuah pesta perkawinan.
Mengapa kebahagiaan sering kali harus dibuktikan melalui kemewahan?
Mengapa sebuah perayaan seolah belum lengkap jika tidak disertai dekorasi mahal, pakaian yang megah, hidangan yang berlimpah, dan pesta yang berlangsung sampai larut malam?

Apakah sebuah keluarga akan kurang bahagia hanya karena tidak mampu mengadakan pesta besar?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam benak saya ketika melihat kesederhanaan perayaan keluarga tersebut.
Antonius dan Sipora telah menjalani kehidupan rumah tangga sejak 2015. Mereka akhirnya menerima Sakramen Perkawinan dan merayakan peristiwa itu bersama umat. Mereka tidak perlu menjadikan rumah sebagai tempat pesta yang megah untuk menunjukkan bahwa hari itu berarti bagi mereka.
Ada dua kursi yang dibalut kain adat. Ada selimut bermotif Fatuleu Barat yang menjadi latar sederhana. Ada makanan yang dibagikan, doa yang dipanjatkan, dan orang-orang yang hadir untuk ikut bersukacita.
Bukankah itu sudah sangat berarti?
Saya tidak sedang mengatakan bahwa pesta mewah itu salah. Saya hanya merasa bahwa kesederhanaan juga layak mendapatkan tempat yang terhormat dalam cara kita merayakan kehidupan.
Sebab, setelah pesta selesai, kehidupan rumah tangga tetap harus dijalani. Kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi. Anak-anak tetap harus dibesarkan. Dan cinta tetap harus dirawat setiap hari.
Pesta hanya berlangsung sesaat, tetapi perkawinan adalah perjalanan panjang.
Karena itu, mungkin yang lebih penting bukanlah seberapa banyak uang yang dihabiskan untuk satu hari perayaan, melainkan bagaimana pasangan suami istri membangun kehidupan setelah hari itu berlalu.
Dalam kesederhanaan keluarga Antonius dan Sipora, saya melihat sebuah pesan yang patut direnungkan: kita boleh merayakan kebahagiaan, tetapi tidak harus membebani diri demi memenuhi ukuran kebahagiaan yang ditentukan orang lain.
Kita boleh bersukacita tanpa harus menjadi raja dan ratu semalam.
Ketika iman, budaya, dan persaudaraan bertemu
Minggu, 25 Oktober 2026, akhirnya menjadi sebuah cerita yang akan saya ingat.
Saya datang ke Kapela Santa Maria Dolorosa Barate untuk mengiringi koor. Saya menjalankan tugas pelayanan sebagaimana biasanya. Namun, hari itu saya mendapatkan pelajaran yang lebih dalam daripada sekadar pengalaman memainkan lagu-lagu liturgi.
Saya menyaksikan sebuah keluarga menerima rahmat Tuhan melalui Sakramen Perkawinan, Komuni Pertama bagi Mama Sipora, dan Sakramen Baptis bagi keempat anak mereka.
Saya mendengar pesan tentang kasih dalam homili Romo Yerri. Saya melihat umat berkumpul dalam sukacita. Saya menyaksikan keluarga dari tradisi gerejawi yang berbeda turut hadir. Saya kemudian duduk bersama mereka, menikmati makanan, dan mengikuti Bosan Hala yang penuh percakapan.
Semuanya terasa saling terhubung.
Iman dirayakan di kapela. Budaya hadir dalam kain adat dan selimut bermotif Fatuleu Barat. Persaudaraan tumbuh di rumah yang terbuka bagi umat dan keluarga. Sukacita mengalir melalui makanan, cerita, tawa, dan kebersamaan.
Saya semakin memahami bahwa Gereja bukan hanya bangunan tempat kita merayakan Ekaristi. Gereja juga hadir dalam kehidupan umat yang mau saling mendukung, melayani, dan berbagi kebahagiaan.
Di kapela, kami berkumpul untuk berdoa. Di rumah, kami berkumpul untuk makan dan bercerita. Bentuk kegiatannya berbeda, tetapi semangat yang mengikat kami tetap sama: persaudaraan dan kasih.
Mungkin inilah salah satu keindahan kehidupan menggereja di komunitas kecil. Ketika pastor datang, umat berkumpul. Ketika sebuah keluarga menerima sakramen, umat ikut bersukacita. Ketika perayaan selesai, kebersamaan tidak langsung berakhir di pintu kapela, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Iman tidak berhenti ketika lagu penutup selesai dinyanyikan. Iman terus hidup dalam cara kita memperlakukan sesama.
Bahagia itu sederhana
Ketika matahari mulai condong ke barat, saya membawa pulang satu kesimpulan sederhana: bahagia itu tidak selalu harus dirayakan dengan kemewahan.
Kadang-kadang, kebahagiaan hadir dalam sebuah perayaan kecil yang dijalani dengan tulus. Ia hadir dalam sepasang kursi yang dibalut kain adat, dalam selimut bermotif lokal yang digantung sebagai latar, dalam makanan yang dinikmati bersama, dan dalam percakapan yang terus mengalir sampai sore.
Ia hadir ketika sebuah keluarga bersyukur atas rahmat Tuhan dan orang-orang di sekitarnya ikut merasakan sukacita itu.
Pada Minggu Biasa XXX, Antonius Sila dan Sipora Pah tidak hanya merayakan peneguhan perkawinan mereka. Mereka juga menjadi bagian dari sebuah peristiwa iman yang mempertemukan keluarga, umat, budaya, dan persaudaraan dalam satu hari yang penuh makna.
Mama Sipora melangkah lebih jauh dalam perjalanan imannya melalui Komuni Pertama. Keempat anak mereka menerima Sakramen Baptis. Dan kami, umat yang hadir, mendapat kesempatan untuk menjadi saksi sekaligus mengambil bagian dalam sukacita keluarga tersebut.
Saya pulang dengan hati yang penuh syukur.
Barangkali, selama ini kita terlalu sering mengukur kebahagiaan dari apa yang terlihat: rumah yang besar, pakaian yang mahal, pesta yang megah, atau acara yang ramai diperbincangkan. Padahal, ada hal-hal yang jauh lebih berharga dan tidak selalu bisa dibeli dengan uang.
Kasih. Kesetiaan. Iman. Keluarga. Persaudaraan. Dan kesediaan untuk berbagi sukacita dengan orang lain.
Semua itu hadir di Barate pada Minggu itu.
Saya tidak tahu apakah Antonius dan Sipora kelak akan mengingat setiap detail perayaan tersebut. Namun, saya berharap mereka selalu mengingat bahwa pada hari itu, mereka tidak merayakan sukacita sendirian. Ada umat yang hadir, ada keluarga yang mendampingi, dan ada komunitas yang ikut mendoakan perjalanan hidup mereka.
Dan bagi saya, itulah inti dari sebuah perayaan: bukan tentang seberapa megah sesuatu ditampilkan, melainkan tentang seberapa dalam maknanya dirasakan.
Bahagia itu sederhana. Kita tidak harus menjadi raja dan ratu semalam. Cukuplah merayakan kasih dengan tulus, mensyukuri rahmat Tuhan, dan berbagi sukacita dengan orang-orang di sekitar kita.
Sebab, pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah kemewahan pesta yang akan dilupakan ketika waktu berlalu, melainkan kasih yang terus bertumbuh setelah semua tamu pulang.
Dari Kapela Santa Maria Dolorosa Barate, saya belajar sekali lagi bahwa Tuhan dapat menghadirkan sukacita melalui hal-hal yang sederhana.
Dan terkadang, justru dalam kesederhanaan itulah kita menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Barate (kamar kos-kosan), Minggu (malam), 25 Oktober 2026. – Del Neonub
Penulis : Del Neonub
Editor : Del Neonub







