Matatimor.net – Renungan Minggu Biasa XXIX, oleh Rm. Chris Taus, Pr. – Paroki Sta. Helena Camplong
Orang Yahudi dan Hukum Taurat
Bangsa Yahudi merupakan bagian dari keturunan bangsa Israel dalam Perjanjian Lama. Mereka mewarisi berbagai tradisi dan ketentuan yang berkaitan dengan Israel sebagai umat pilihan dan umat perjanjian Allah, antara lain Hukum Taurat yang diberikan Allah kepada Musa.
Hukum Taurat dipahami sebagai hukum Allah yang menjadi pedoman hidup umat Israel. Dalam perjalanan sejarahnya, para ahli Taurat bertugas mempelajari, menafsirkan, dan mengajarkan hukum tersebut kepada umat. Namun, dalam pelaksanaannya, penafsiran manusia terkadang dapat menyimpang dari maksud dan kehendak Allah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kehidupan keagamaan bangsa Yahudi, terdapat sejumlah kelompok yang memiliki peran masing-masing, antara lain ahli Taurat, kaum Farisi, imam-imam kepala, tua-tua bangsa, kaum Herodian, dan kaum Saduki.
Ahli Taurat bertugas mempelajari dan menafsirkan Hukum Taurat. Kaum Farisi dikenal sangat menekankan pelaksanaan hukum dan tradisi keagamaan. Yesus beberapa kali mengkritik mereka karena terdapat ketidaksesuaian antara ajaran yang mereka sampaikan dan perilaku yang mereka tunjukkan.
Imam-imam kepala memiliki peran penting dalam kehidupan keagamaan dan pengelolaan Bait Allah. Kaum Herodian merupakan kelompok yang mendukung kekuasaan keluarga Herodes dan cenderung bekerja sama dengan pemerintahan Romawi. Sementara itu, kaum Saduki dikenal karena tidak menerima ajaran tentang kebangkitan orang mati sebagaimana diyakini oleh kelompok Yahudi lainnya.
Dalam kehidupan bangsa Yahudi, terdapat pula Sanhedrin, yakni dewan tertinggi yang menangani berbagai persoalan keagamaan dan hukum.
Yesus Tidak Terjebak oleh Pertanyaan tentang Pajak
Dalam Injil Minggu Biasa XXIX, kita melihat dua kelompok yang tampil dalam kisah perjumpaan dengan Yesus, yaitu kaum Farisi dan kaum Herodian.
Mereka berusaha menjebak Yesus melalui sebuah pertanyaan yang berkaitan dengan kewajiban membayar pajak kepada Kaisar. Pertanyaan itu bukan sekadar persoalan pajak, melainkan sebuah jebakan politik dan keagamaan.
Jika Yesus menjawab bahwa pajak tidak boleh dibayar, Ia dapat dituduh sebagai pemberontak terhadap pemerintahan Romawi. Sebaliknya, jika Ia menjawab bahwa pajak harus dibayar, jawaban itu dapat dimanfaatkan untuk membangun kesan bahwa Yesus mendukung kekuasaan Romawi, yang pada masa itu tidak disukai oleh sebagian masyarakat Yahudi.
Mereka berharap Yesus akan terjebak dalam pilihan yang sulit.
Namun, Yesus mengetahui maksud jahat mereka. Ia meminta mereka menunjukkan uang yang digunakan untuk membayar pajak. Mereka pun membawa sekeping uang dinar.
Yesus kemudian bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?”
Mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.”
Maka Yesus berkata:
“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Dengan jawaban itu, Yesus tidak terjebak dalam permainan mereka. Ia menunjukkan bahwa kewajiban terhadap pemerintah dan kewajiban terhadap Allah harus dipahami secara benar.
Yesus tidak sedang mengajarkan bahwa manusia harus memilih antara menjadi warga negara yang baik dan menjadi umat Allah. Sebaliknya, Ia mengingatkan bahwa keduanya memiliki tanggung jawab masing-masing, selama kewajiban kepada negara tidak bertentangan dengan kehendak Allah.
Hidup sebagai Warga Negara dan Warga Kerajaan Allah
Kisah Injil ini mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia memiliki dua dimensi yang saling berkaitan, yaitu kehidupan sebagai warga negara di dunia dan kehidupan sebagai umat Allah.
Kita hidup dalam dunia yang kelihatan, dengan berbagai aturan, kewajiban, dan tanggung jawab sosial. Pada saat yang sama, kita juga hidup dalam dimensi rohani sebagai orang beriman yang dipanggil untuk menaati kehendak Allah.
Secara konkret, kita hidup sebagai warga negara sekaligus sebagai warga Kerajaan Allah.
Sebagai warga negara, kita mempunyai kewajiban untuk menaati peraturan yang berlaku, menghormati hukum, menjaga ketertiban, serta memenuhi kewajiban sebagai warga negara, termasuk membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sebagai umat Allah, kita dipanggil untuk menaati hukum Allah, mencintai Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri.
Dalam ajaran Yesus, kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan inti Hukum Taurat dan ajaran para nabi.
Karena itu, menjadi orang beriman tidak berarti mengabaikan tanggung jawab sebagai warga negara. Sebaliknya, iman seharusnya mendorong kita untuk menjadi warga negara yang jujur, bertanggung jawab, adil, dan peduli terhadap sesama.
Kita juga perlu menyadari bahwa ketaatan kepada pemerintah bukanlah ketaatan tanpa batas. Apabila suatu tuntutan manusia bertentangan dengan hukum Allah dan martabat manusia, orang beriman tetap harus berpegang pada kebenaran dan suara hati yang dibimbing oleh iman.
Pesan Iman
Saudara-saudari terkasih,
Marilah kita hidup sebagai warga negara yang baik sekaligus sebagai umat Allah yang setia.
Janganlah kita memisahkan iman dari kehidupan sehari-hari. Iman harus tampak dalam sikap kita terhadap sesama, dalam pekerjaan, dalam kehidupan bermasyarakat, dan dalam tanggung jawab kita sebagai warga negara.
Marilah kita mencintai Tuhan dengan segenap diri dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Dengan demikian, kita tidak hanya menjadi orang yang taat dalam ibadah, tetapi juga menjadi pribadi yang jujur, adil, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bersama.
Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah.
Semoga Sabda Tuhan menuntun kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang teguh, kasih yang nyata, dan tanggung jawab yang tulus.
Bacaan Liturgi Minggu Biasa XXIX
- Bacaan I: Yesaya 45:1, 4–6
- Mazmur Tanggapan: Mazmur 96
- Bacaan II: 1 Tesalonika 1:1–5
- Bacaan Injil: Matius 22:15–21
Matatimor.net — Melihat dari dan ke Timor.
Penulis : Rm. Chris Taus
Editor : Del Neonub







