MATATIMOR.NET, KUPANG – Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, menegaskan bahwa imamat merupakan rahmat Allah yang harus dijalani dengan pelayanan dan kesetiaan. Pesan tersebut disampaikannya dalam Misa Syukur Pancawindu Imamat Romo Yohanes Chris Taus, Pr., di Gereja Santa Maria Assumpta, Kota Kupang, Senin (19/10/2026).
Perayaan 40 tahun imamat ini menjadi momentum syukur atas perjalanan panjang pelayanan Romo Chris Taus bagi Gereja lokal Keuskupan Agung Kupang (KAK).
Misa dimulai pukul 16.00 WITA dengan Mgr. Hironimus Pakaenoni sebagai selebran utama. Puluhan imam yang tergabung dalam Unio Imam Keuskupan Agung Kupang turut hadir sebagai konselebran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sejumlah umat dari paroki-paroki yang pernah menjadi tempat pelayanan Romo Chris, antara lain Paroki Putain, Paroki Camplong, dan Paroki Oemofa, hadir untuk merayakan peristiwa istimewa tersebut. Perayaan liturgi semakin semarak dengan pelayanan koor dari Paroki Bitefa, kampung kelahiran Romo Chris.
Usai Misa, rangkaian perayaan dilanjutkan dengan ramah tamah bersama di aula Paroki Santa Maria Assumpta, Kota Baru, Kota Kupang.
Uskup Agung Kupang: Imamat Bukan Semata-mata Kemampuan Manusia
Dalam sambutannya, Mgr. Hironimus menyampaikan ucapan selamat dan proficiat kepada Romo Chris Taus atas 40 tahun perjalanan imamatnya. Ia menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukan hanya anugerah bagi sang yubilaris secara pribadi, tetapi juga bagi Gereja dan seluruh umat yang telah dilayani.
“Empat puluh tahun perjalanan imamat merupakan anugerah besar bukan hanya bagi yubilaris secara pribadi, tetapi juga bagi Gereja dan juga bagi seluruh umat yang dilayani,” ungkap Uskup.
Ia mengingatkan bahwa keselamatan dan panggilan pelayanan bersumber dari kasih karunia Allah, bukan semata-mata jasa atau kemampuan manusia.
Mengacu pada Efesus 2:8-10, Uskup menegaskan bahwa manusia diselamatkan karena kasih karunia Allah dan diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang telah dipersiapkan-Nya.
Dalam konteks perjalanan imamat Romo Chris, Uskup merangkum makna panggilan tersebut dalam tiga hal penting.
“Imamat adalah rahmat, imamat adalah pelayanan, dan pelayanan itu juga adalah panggilan. Kesetiaan adalah buah dari kerja sama manusia dan rahmat atau kasih karunia Allah,” tegasnya.
Menurut Uskup, Tuhanlah yang memanggil, menguatkan, dan menumbuhkan buah-buah pelayanan. Karena itu, keberhasilan seorang imam dalam menjalankan tugas penggembalaan tidak dapat dilepaskan dari rahmat Tuhan yang terus menyertainya.
“Cukuplah Kasih Karunia-Ku Bagimu”
Pesan Uskup semakin dipertegas melalui motto imamat yang dipilih Romo Chris Taus, yakni “Cukuplah Kasih Karunia-Ku Bagimu” (2 Korintus 12:9).
Uskup mengakui bahwa perjalanan imamat selama empat dekade tentu tidak selalu berlangsung dalam suasana sukacita. Ada tantangan, kelelahan, keterbatasan, dan pengorbanan yang harus dihadapi seorang imam dalam menjalankan panggilannya.
Namun, justru dalam kelemahan manusiawi itulah kuasa Tuhan menjadi nyata.
“Kesetiaan seorang imam tidak bertumbuh pada kekuatannya sendiri, melainkan pada rahmat Tuhan yang senantiasa menyertai,” ujarnya.
Pesan ini mengingatkan bahwa pelayanan Gereja bukanlah perjalanan tanpa kesulitan. Seorang imam tetaplah manusia dengan keterbatasan, tetapi dipanggil untuk terus mengandalkan Tuhan dan setia menghadirkan kasih-Nya bagi umat.
Motto Romo Chris dengan demikian menjadi ungkapan iman sekaligus sumber kekuatan untuk melanjutkan pelayanan pada tahun-tahun mendatang.
Romo Chris Taus: Tuhan Memanggil Orang Biasa, Bukan Orang Sempurna
Dalam refleksinya sebagai yubilaris, Romo Chris Taus mengungkapkan rasa syukur atas kasih karunia Tuhan yang telah menyertainya selama 40 tahun menjalani panggilan imamat.
Baginya, perjalanan panjang tersebut menjadi bukti bahwa Tuhan berkenan memanggil manusia dengan segala keterbatasannya untuk mengambil bagian dalam karya pelayanan Gereja.
Romo Chris merefleksikan bahwa seorang imam tidak harus menjadi manusia yang sempurna. Tuhan justru berkenan memanggil orang-orang biasa, orang kecil, bahkan mereka yang terkadang tidak dipandang oleh sesamanya.
“Tuhan memanggil orang menjadi imam bukan orang sempurna, tetapi orang biasa, orang kecil, yang kadang tak dipandang oleh manusia. Tetapi Tuhan senang pada orang yang rendah hati,” ungkap Romo Chris.
Menurutnya, kerendahan hati dan keterbukaan terhadap kasih karunia Tuhan merupakan hal penting dalam menjalani panggilan. Kesadaran akan keterbatasan diri membantu seorang imam untuk tidak mengandalkan kekuatannya sendiri, melainkan terus bersandar pada penyertaan Tuhan.
Refleksi tersebut sejalan dengan motto imamat yang dihidupinya, “Cukuplah Kasih Karunia-Ku Bagimu” (2 Korintus 12:9). Motto ini menjadi ungkapan syukur sekaligus pegangan iman dalam menjalani berbagai pengalaman, tantangan, dan pengorbanan selama empat dekade pelayanan.
Bagi Romo Chris, Pancawindu Imamat bukan sekadar perayaan atas lamanya waktu menjalani tugas sebagai imam. Lebih dari itu, perayaan ini merupakan kesempatan untuk menyadari kembali bahwa panggilan imamat adalah anugerah yang harus dijalani dengan rendah hati, setia, dan terbuka terhadap kehendak Tuhan.
Pancawindu sebagai Momentum Memperbarui Semangat Pelayanan
Mgr. Hironimus Pakaenoni menegaskan bahwa perayaan Pancawindu Imamat bukan hanya kesempatan mengenang perjalanan 40 tahun yang telah berlalu. Peristiwa ini juga menjadi momentum untuk memperbarui semangat pelayanan dan menatap masa depan dengan penuh pengharapan.
Kepada Romo Chris, Uskup berharap pengalaman panjang dalam pelayanan semakin membentuk dirinya menjadi pribadi yang rendah hati, bijaksana, dan setia menghadirkan wajah Kristus sebagai Gembala Baik bagi umat yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
Empat puluh tahun pelayanan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan kesempatan untuk terus bertumbuh dalam iman dan memperdalam komitmen terhadap panggilan imamat.
Pengalaman panjang itu diharapkan semakin memperkaya kebijaksanaan pastoral dan memperkuat semangat pengabdian Romo Chris bagi Gereja dan umat.
Uskup Bersyukur atas Rahmat Kehidupan di Usia 70 Tahun
Dalam sambutannya, Mgr. Hironimus juga membagikan refleksi pribadi mengenai rasa syukur atas rahmat kehidupan yang diterimanya pada tahun 2026.
Uskup mengungkapkan bahwa tahun ini menjadi istimewa karena ia merayakan ulang tahun ke-70 pada 27 Januari 2026. Baginya, kesempatan mencapai usia tersebut merupakan rahmat khusus yang patut disyukuri.
Ia menceritakan bahwa memasuki tahun 2026 menjadi pengalaman yang disambut dengan sukacita dan penuh harapan. Kesempatan untuk mencapai usia 70 tahun menjadi salah satu peristiwa penting dalam perjalanan hidupnya.
Dalam refleksinya, Uskup juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan, keselamatan, dan kehidupan sehari-hari. Ia mengajak setiap orang untuk berhati-hati dalam menjalani aktivitas, menjaga diri, serta memelihara kehidupan yang telah dianugerahkan Tuhan.
Pengalaman tersebut memperkaya pesan syukur dalam perayaan Pancawindu Imamat Romo Chris Taus. Baik perjalanan usia maupun perjalanan imamat mengajak setiap orang untuk menyadari bahwa kehidupan dan kesempatan melayani merupakan rahmat yang perlu dirawat dengan penuh tanggung jawab.
Uskup Ajak Umat Terus Mendoakan Para Imam
Dalam sambutannya, Mgr. Hironimus juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga, umat, sahabat, serta semua pihak yang telah mendukung perjalanan pelayanan Romo Chris Taus.
Ia secara khusus berterima kasih kepada panitia, pastor paroki, dan umat Paroki Santa Maria Assumpta Kupang yang telah bersedia menjadi tuan rumah perayaan syukur tersebut.
Menurutnya, perjalanan pelayanan seorang imam tidak terlepas dari dukungan doa, pengorbanan, dan kebersamaan banyak orang. Karena itu, Pancawindu Imamat merupakan ungkapan syukur bersama, bukan hanya perayaan pribadi seorang imam.
Uskup mengajak seluruh umat untuk terus mendoakan para imam agar tetap teguh dalam panggilan, setia dalam pelayanan, dan penuh sukacita dalam mewartakan Injil.
Ajakan ini menjadi pengingat bahwa mendukung kehidupan imamat merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat beriman.
Syukur atas 40 Tahun Imamat
Menutup sambutannya, atas nama Gereja Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Hironimus kembali menyampaikan selamat dan proficiat kepada Romo Chris Taus atas empat dekade pelayanan imamatnya.
Ia berharap kasih karunia Tuhan yang telah menyertai perjalanan selama 40 tahun itu tetap menjadi kekuatan bagi pelayanan Romo Chris selanjutnya.
Uskup juga memohon berkat Tuhan bagi Romo Chris, keluarga besar dan keluarga inti, serta umat, sahabat, kenalan, para penjasa, dan penderma yang telah mengambil bagian dalam perayaan syukur tersebut.
“Semoga semua karya baik dan juga pelayanan kita senantiasa menjadi pujian bagi kemuliaan nama Tuhan,” pesannya.
Perayaan Pancawindu Imamat Romo Chris Taus akhirnya menegaskan kembali bahwa inti panggilan imamat bukanlah kesempurnaan manusia, melainkan kesediaan untuk menjawab panggilan Tuhan, melayani dengan setia, dan terus mengandalkan kasih karunia-Nya.
Sebagaimana motto imamatnya, “Cukuplah Kasih Karunia-Ku Bagimu,” perjalanan pelayanan ini menjadi kesaksian bahwa kasih karunia Tuhan senantiasa mencukupi dan menguatkan mereka yang bersedia melayani dengan rendah hati.
Tuhan telah memanggil, Tuhan telah menyertai, dan Tuhan akan tetap setia. Sebab, cukuplah kasih karunia-Nya bagi kita.
MATATIMOR.NET — Melihat dari dan ke Timor.
Penulis : Del Neonub
Editor : Del Neonub







