MATATIMOR.NET, AMFOANG TIMUR – Sejarah panjang iman Katolik di Oepoli menjadi sumber kekuatan bagi umat Paroki Santa Maria Mater Dei Oepoli, Kecamatan Amfoang Timur, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam membangun gereja baru di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste.
Di tengah keterbatasan ekonomi, sulitnya akses transportasi, dan mahalnya harga bahan bangunan, umat tetap berjuang menyelesaikan pembangunan rumah ibadah yang lebih layak. Bagi mereka, gereja baru bukan sekadar bangunan fisik, melainkan warisan iman yang hendak diteruskan kepada generasi mendatang.
Semangat itu terlihat dari cara umat mengambil bagian dalam pembangunan. Ada yang menyumbangkan uang Rp20.000, ada yang memberikan Rp50.000, ada pula yang menyerahkan satu sak semen dari hasil penjualan jagung atau ternak. Mereka yang tidak memiliki uang membantu dengan tenaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Semua dilakukan secara sukarela, berlandaskan keyakinan bahwa pembangunan rumah Tuhan merupakan tanggung jawab bersama.
Gereja Lama Tak Lagi Memadai
Pastor Paroki Santa Maria Mater Dei Oepoli, Romo Yos Binsasi, Pr., menjelaskan bahwa kesepakatan membangun gereja baru telah diambil bersama Dewan Pastoral Paroki dan seluruh umat sejak 2024.
Gereja lama yang dibangun pada 1973 kini berusia lebih dari lima dekade. Kondisi bangunannya mulai mengalami kerusakan, antara lain dinding retak dan atap bocor. Kapasitasnya pun tidak lagi memadai untuk menampung umat, terutama ketika perayaan besar seperti Natal dan Paskah.
Keadaan tersebut mendorong umat untuk berinisiatif membangun gereja yang lebih besar, kokoh, dan nyaman digunakan untuk beribadah.
Namun, mewujudkan rencana itu bukan perkara mudah. Letak Oepoli yang berada di kawasan perbatasan dengan kondisi geografis yang menantang membuat pengadaan material bangunan membutuhkan biaya besar.
Menurut Romo Yos, harga bahan bangunan di Oepoli dapat mencapai dua hingga tiga kali lipat dibandingkan harga di Kota Kupang akibat biaya transportasi dan sulitnya medan.

Dari Sumbangan Kecil Tumbuh Harapan Besar
Dengan kemampuan keuangan yang terbatas, umat mengandalkan kolekte khusus pembangunan yang dikumpulkan setiap minggu. Sumbangan diberikan sesuai kemampuan masing-masing keluarga.
Bagi sebagian umat, bantuan berupa uang mungkin tidak seberapa. Akan tetapi, bagi pembangunan gereja, setiap sumbangan menjadi bagian penting dari perjuangan bersama.
“Kami tidak menunggu donatur besar datang. Kami mulai dari apa yang kami punya, dari derma umat,” demikian semangat yang disampaikan Romo Yos.
Selain menyumbangkan uang dan material, umat juga terlibat langsung dalam pekerjaan pembangunan. Mereka mengaduk semen, mengangkut pasir, dan membantu menyediakan makanan bagi para pekerja.
Di tengah kesibukan tersebut, doa tetap menjadi bagian penting dari perjuangan. Umat melaksanakan doa novena dan Rosario pada malam hari di lokasi pembangunan, memohon agar pekerjaan berjalan lancar dan gereja baru dapat diselesaikan.
Pembangunan ini masih menghadapi sejumlah kendala, termasuk keterbatasan dana, ketersediaan tukang terampil, dan cuaca yang tidak menentu.
Meski demikian, umat memilih terus bergerak dengan apa yang mereka miliki.
Warisan Iman yang Berakar Sejak 1911
Di balik pembangunan gereja baru, tersimpan kisah sejarah yang memiliki arti mendalam bagi umat Katolik Oepoli.
Menurut sejarah yang diwariskan dalam komunitas setempat, iman Katolik di Oepoli telah bertumbuh sejak 1911. Pada masa itu, terjadi perpindahan masyarakat dari wilayah seberang perbatasan yang kini dikenal sebagai Timor Leste menuju Oepoli.
Dalam penuturan adat Dawan setempat, mereka dikenal dengan sebutan Kaes Metan, yang merujuk pada saudara-saudara yang datang dari seberang.
Masyarakat tersebut membawa iman Katolik yang telah mereka anut dan mempertahankannya di tempat yang baru. Dalam keterbatasan, mereka membangun tempat ibadah sederhana sebagai ruang untuk berdoa dan memelihara kehidupan iman.
Perjalanan itu berlangsung dari generasi ke generasi hingga pembangunan gereja pada 1973. Kini, lebih dari satu abad sejak awal pertumbuhan iman yang diwariskan dalam sejarah lokal tersebut, generasi penerus kembali memikul tanggung jawab untuk membangun rumah ibadah yang lebih layak.
Bagi Romo Yos, pembangunan gereja baru merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan para leluhur sekaligus tanggung jawab moral kepada anak-anak dan generasi yang akan datang.
Sejarah tersebut juga memberi makna tersendiri bagi Oepoli sebagai wilayah perbatasan. Kehidupan iman, persaudaraan, dan kebersamaan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan sosial di kawasan tapal batas.
Ajakan Berbagi untuk Menyelesaikan Rumah Tuhan
Menyadari bahwa pembangunan membutuhkan dukungan yang lebih luas, Romo Yos mengajak masyarakat asal Oepoli yang berada di perantauan, para donatur, pemerintah daerah, anggota legislatif, serta para pengusaha Katolik di NTT untuk turut membantu.
Bantuan yang dibutuhkan tidak harus bernilai besar. Satu sak semen, sebatang besi, sumbangan uang, maupun dukungan doa memiliki arti bagi kelanjutan pembangunan.
Romo Yos juga menyampaikan bahwa nama-nama donatur akan dicatat dan didoakan dalam perayaan Ekaristi.
Ajakan ini menjadi kesempatan bagi masyarakat yang memiliki ikatan sejarah, keluarga, maupun kepedulian terhadap kehidupan umat di perbatasan untuk mengambil bagian dalam karya bersama tersebut.
Umat berharap dukungan dari berbagai pihak dapat membantu mempercepat penyelesaian gereja sehingga dapat digunakan sebagai tempat ibadah yang aman, nyaman, dan mampu menampung lebih banyak umat.
Meneruskan Iman, Menjaga Harapan
Kisah umat Oepoli memperlihatkan bahwa pembangunan rumah ibadah tidak selalu dimulai dengan dana besar. Terkadang, semuanya berawal dari kesediaan untuk berbagi sedikit yang dimiliki, bekerja bersama, dan menjaga harapan melalui doa.
Dari sumbangan Rp20.000 hingga satu sak semen, dari tenaga para umat hingga doa yang dipanjatkan bersama, setiap bentuk pengorbanan menjadi bagian dari perjalanan panjang iman Katolik di Oepoli.
Gereja baru yang sedang diperjuangkan itu diharapkan tidak hanya menjadi tempat perayaan liturgi, tetapi juga simbol persatuan, persaudaraan, dan keteguhan iman masyarakat di perbatasan Indonesia–Timor Leste.
Sebab, bagi umat Oepoli, membangun gereja berarti meneruskan warisan para leluhur sekaligus menyiapkan rumah iman bagi generasi yang akan datang.
Masyarakat dan para donatur yang ingin berpartisipasi dapat menghubungi Sekretariat Paroki Santa Maria Mater Dei Oepoli atau Romo Yos Binsasi, Pr., untuk memperoleh informasi mengenai mekanisme bantuan.
Iman yang diwariskan sejak 1911 kini dilanjutkan melalui gotong royong. Di Oepoli, setiap sumbangan bukan sekadar material bangunan, melainkan tanda kasih dan harapan bagi masa depan umat.
Penulis : Del
Editor : Del







