Terlalu banyak info.! Terlalu banyak bacot?

- Editor

Senin, 23 Januari 2023 - 22:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

informasi.

Iya. Kita sudah dan sedang berada di satu jaman di mana manusia belum. Mengenal tulisan . ..upss salah.

maksud saya, masa di mana kita, hampir semua sudah melek berteknologi. Hari ini setiap orang telah menggenggamnya. Telepon Selular, Telepon Pintar? Gawai?

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Maunya kita sebut apa? Kita bilang saja Ha Pe!? Yang disingkat dari hanphone? Jika harus nenjunjung tinggi Bahasa Indonesia maka semestinya barang yang sering digengggam ini kita sebut TS (telepon selular) bukan malah entah karena malas atau (maaf) bodoh? 😆

Bagaimaba kalau kita sebut : poncer (telepon cerdas) 🤣🤣.

Apapun sebutan Indonesianya, barang kecil yang isinya super besar ini, kini sulit untuk tak digenggam kemana-mana. Hingga waktu saya dan waktu anda pun banyak tersita hanya sekadar untuk melakukan scrolling di sosial media untuk terus mendapatkan dopamin.

Ketika teknologi kian berlari secepat mungkin, informasi terlalau banyak ada dan terus nembanjiri kita hari lepas hari.

BACA JUGA  Ujian Praktik, SMAN 1 Amfoang Timur Hadirkan Aneka Tarian dan Lagu Daerah NTT

Arus banjir informasi itu bermuatan jualan! Sekali klik dollar jalan! Maka, jangan heran, portal-portal berita ternama di Tanah Air pun selalu saja menghadirkan judul berita yang kadang tidak masuk di akal.

Jangan terkecoh.

Guru pun iya!. Kita pindah topik fokus di dunia pendidikan 😜.

Sektor pendidikan pun tak lolos dari hantaman kemajuan teknologi. Paling parah saat awal pandemi. Panjang ceritanya! Saat semua harus dirumahkan. Kita di daerah yang tiada infrastruktur kewalahan! Asli! Banyak kisah! Tak perlu kuceritakan di sini, bagaimana kita bisa melakukan pembelajaran jarak jauh kalau jangankan jaringan internet. Ponsel, siswa tak punya!

Guru itu mengajar ya…bukan SIBUK BELAJAR. 🤣.

kita yang adalah guru hari ini adalah hasil proses pendidikan dengan model kurikulum di hari itu. Di jaman saya waktu itu (20 tahun lalu), pendidikan di sekolah berjalan dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi kalau tak salah. Pendidikan Kecakapan hidup (life skill) selalu disebut-sebut oleh guru saya. Bahwa kalian harus punya skill! Kalau kaka punya skill enak, ya…sekarang bisa pakai cari uang di media sosial!

BACA JUGA  Informasi PPDB SMPN 5 Fatuleu Satu Atap

Kita kembali ke informasi.

Setiap hari selalu saja kita dibanjiri informasi di sosial media. Dunia semakin terbuka, nyaris tanpa sekat. Teknologi di genggaman, membuat setiap individu bebas menjadi pewarta.

Cukup sulit bisa membedakan mana pewarta pro (profesional) dan mana bukan pro. Dalam hal ini, hal bodoh dan konyol ketika dikemas dengan bahasa yang baik dan terus disebarluaskan, dapat diterima begitu saja sebagai hal yang dibenarkan.

Untuk benar-benar mendapatkan informasi yang akurat, perlu adanya tindakan berpikir kritis. Berpikir kritis terlalu tinggi om! He he he…

Oke saya sederhanakan. Berpikir kritis kira-kira maksudnya harus sebisa mungkin setiap kita selau harus mempertanyakan informasi-informasi yang diterima sebelum “terkunyah” hingga kunyahan itu kita “muntahkan” ke orang lain.

Saring sebelum sharing. Biar terhindar dari hoax. Kira-kira begitu.

Belum lagi kalau kita bicara soal etika berinformasi di media sosial. Ah pokoknya ramai! Foto jenazah misalnya. Maksudnya mau mengucapkan belasungkawa, dan memberitakan duka, tetapi kan tidak harus dengan mengunggah foto jenazah yang lagi terbaring kan? Iya kan?

BACA JUGA  Tuhan Tidak Menciptakan Sampah!

Sementara itu, media sosial kini, secara pandang saya, telah beralih fungsi menjadi pasar. Para pengguna dijadikan sasaran jual. Aktivitas kita dipantau, disimpan, dan diolah untuk JUALAN!.

Kalau sudah menjadi pasar, Saya ada di posisi yang mana ? Sudah masuk dalam kelompok pelaku teknologi, atau masih berada sebagai korban. Korban yang tahu bahwa banyak buang waktu, namun diam-diam sambil rebahan terus saja menikmatinya. 😜🤫.

Terlalu banyak informasi, jadinya terlalu bantak bacot. Ingin tampil informatif tanpa mau mendalami setiap yang didapat (informasi). Jadinya apa yang disebut hoax sulit terbendung.

Baca buku. Karena segala sesuatu yang ada di media sosial sifatnya ….sifatnya apa yah……ah…pokoknya baca buku!

Kalau tulisan ini kacau balau, beri protes dengan berkomentar di bawah.

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rayakan Valentine, Legislator PSI Ajak Siswa & Warga Fatuleu Barat Tanam Pohon
Ketua Diaspora Rote Ndao Paparkan Akar Kemiskinan & Strategi Penanggulangan
Legenda Nepo, Kolu, dan Kelahiran Koru
Hilangnya “Budi” di Ruang Kelas NTT: Alarm Serius Krisis Moral
Perss SoE, ETMC dan Pesan Virtual Sang Guru
TunasDigital.id: Gerakan Nasional Lindungi Anak di Dunia Maya Lewat PP Tunas
Au Aok Bian – Falsafah Kasih Atoni Pah Meto
Dari “ABK”, “Mafia”, hingga “MAFUT NEK”
Berita ini 16 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 14 Februari 2026 - 09:37 WITA

Rayakan Valentine, Legislator PSI Ajak Siswa & Warga Fatuleu Barat Tanam Pohon

Sabtu, 13 Desember 2025 - 10:34 WITA

Ketua Diaspora Rote Ndao Paparkan Akar Kemiskinan & Strategi Penanggulangan

Sabtu, 6 Desember 2025 - 08:19 WITA

Legenda Nepo, Kolu, dan Kelahiran Koru

Kamis, 20 November 2025 - 08:20 WITA

Hilangnya “Budi” di Ruang Kelas NTT: Alarm Serius Krisis Moral

Jumat, 14 November 2025 - 14:57 WITA

Perss SoE, ETMC dan Pesan Virtual Sang Guru

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Tuhan dalam Keseharian

Sabtu, 18 Apr 2026 - 06:16 WITA

Indografis oleh matatimor.net

MATA BERITA

Ancaman El Nino 2026, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrim

Kamis, 16 Apr 2026 - 08:35 WITA

Indografis by matatimor.net

MATA BERITA

Proyek Revitalisasi Sekolah di NTT, Anggaran Capai Rp589 Miliar

Selasa, 14 Apr 2026 - 13:15 WITA

error: Content is protected !!