Hilangnya “Budi” di Ruang Kelas NTT: Alarm Serius Krisis Moral

Opini oleh Jusup Koe Hoea - Ketua Forum Guru NTT

- Editor

Kamis, 20 November 2025 - 08:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Forum Guru NTT, Jusup Koe Hoea:

Hilangnya “Budi” dari Ruang Kelas di Tengah Krisis Moral Pendidikan di NTT adalah Alarm Serius yang Tak Boleh Diabaikan

“Ketika nama Budi sebagai simbol budi pekerti menghilang dari ruang kelas, pada saat yang sama kita di NTT sedang mengalami penurunan kualitas moral dan kedisiplinan peserta didik. Ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda bahwa pendidikan nasional, termasuk di NTT, sedang kehilangan fondasi etiknya,” tegas Ketua Forum Guru NTT, Jusup KoeHoea.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menjelaskan bahwa dalam konteks Nusa Tenggara Timur saat ini, berbagai fenomena menguat:

Meningkatnya kasus kekerasan siswa, baik perundungan, tawuran kecil antarsekolah, hingga tindakan pelanggaran norma di lingkungan pendidikan.

Lemahnya disiplin belajar, terlihat dari ketidakteraturan kehadiran, rendahnya motivasi, dan kurangnya budaya menghormati guru.

Merosotnya literasi moral keluarga, di mana sebagian orang tua menyerahkan seluruh tanggung jawab pembentukan karakter kepada sekolah.

BACA JUGA  Menyongsong ACF X-RAY, Seluruh WBP Lapas Kelas II.B Atambua Mendapat Scrining TBC

Krisis keteladanan di lingkungan sosial, termasuk pengaruh gadget, media sosial, dan budaya viral yang sering bertentangan dengan nilai-nilai lokal NTT seperti hormat, taat, dan rendah hati.

Tekanan ekonomi keluarga, yang menyebabkan sebagian siswa tidak mendapat pendampingan moral memadai di rumah.

“Dalam situasi seperti ini, simbol-simbol moral dalam pembelajaran justru makin dibutuhkan, bukan dihapus,” tegasnya.

Budi Bukan Sekadar Nama, Ia Representasi Identitas Moral Bangsa

KoeHoea menekankan bahwa generasi Indonesia, termasuk guru-guru di NTT, tumbuh dengan tokoh Budi—seorang anak yang sederhana, jujur, dan sopan, yang menjadi gambaran ideal budi pekerti.

“Nama Budi melekat dalam memori moral kita. Ia adalah simbol pedagogis yang sudah teruji selama puluhan tahun. Ketika simbol itu hilang tanpa pengganti yang setara, ruang kosong dalam imajinasi moral anak-anak kita semakin lebar,” ujarnya.

Menurutnya, NTT membutuhkan karakter pendidikan yang kontekstual, berakar pada budaya lokal, tetapi tetap merawat nilai nasional tentang budi pekerti.

BACA JUGA  Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman

NTT Menghadapi Krisis Moral yang Memerlukan Pendekatan Pendidikan Karakter yang Lebih Berani

Di banyak sekolah di NTT, guru menghadapi realitas yang kian rumit: siswa yang semakin sulit diarahkan, kurang hormat pada aturan, hilangnya rasa tanggung jawab, dan meningkatnya perilaku yang tidak mencerminkan nilai-nilai lokal seperti malu, tahu diri, dan menghargai orang tua.

“Ketika figur moral seperti Budi tidak lagi hadir dalam buku-buku pelajaran, kita kehilangan salah satu alat bantu pedagogis untuk menanamkan nilai dasar kepada siswa. Padahal guru-guru di NTT sangat membutuhkan perangkat pembelajaran yang bisa menguatkan karakter,” tegasnya.

Lebih jauh ia menilai bahwa kurikulum baru sangat teknokratis dan terlalu fokus pada kompetensi akademik, sementara pembentukan karakter malah dipinggirkan.

“Inilah yang membuat ruang kelas kehilangan arah moralnya,” katanya.

Memulihkan Pendidikan Moral di NTT

KoeHoea menegaskan bahwa perbaikan moral di NTT tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Diperlukan:

  1. Kurikulum yang menempatkan karakter sebagai inti, bukan dikurangi menjadi jargon administratif.
  2. Keteladanan guru dan kepala sekolah dalam praktik nyata, bukan sekadar aturan.
  3. Pelibatan keluarga dan gereja, karena pendidikan karakter di NTT tidak bisa dilepaskan dari nilai sosial dan spiritual masyarakat.
  4. Penguatan budaya lokal, seperti nilai hormat, malu, gotong royong, dan solidaritas, ke dalam pembelajaran sebagai pengganti dan penguat makna “budi pekerti”.
  5. Sosok atau tokoh moral baru yang relevan dengan konteks NTT, namun tetap menyandang esensi “budi”.
BACA JUGA  Kolaborasi Orang Tua Siswa Bangun 3 Ruang Sanitasi di UPTD SD Inpres Lili

“Jika simbol-simbol moral terus dihilangkan, jika kurikulum semakin jauh dari nilai-nilai karakter, dan jika sekolah hanya menjadi tempat administrasi pembelajaran, maka kita sedang membiarkan generasi muda NTT tumbuh tanpa kompas etik,” tutup KoeHoea.

“Mengembalikan ruh budi pekerti adalah kebutuhan mendesak. Tanpa moral, pendidikan kehilangan jiwanya.”

Facebook Coment

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Belunews.com Terpilih Jadi Sampel Survei BPS Kabupaten Belu
Satgas Pamtas Pos Nunura Gagalkan Dugaan Penyelundupan Solar di Belu
Tiga Sakramen, Satu Keluarga, dan Sejuta Sukacita di Minggu Biasa Ke-30
25 Tahun Imamat Ama Kolo, Imam Pertama dari Pulau Sabu
Gereja Lama Tak Lagi Memadai, Umat di Oepoli Berjuang Bangun Rumah Ibadah Baru
40 Tahun Imamat Romo Chris Taus, Uskup Agung Kupang: Imamat Adalah Rahmat dan Kesetiaan
Pulau Semau Mendadak Hilang dari Pandangan: Ada Apa dengan Udara Kabupaten Kupang?
Satu Malam di Nauen: Doa, Jamuan, dan Cerita Persaudaraan
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 07:49 WITA

Belunews.com Terpilih Jadi Sampel Survei BPS Kabupaten Belu

Senin, 26 Oktober 2026 - 14:19 WITA

Satgas Pamtas Pos Nunura Gagalkan Dugaan Penyelundupan Solar di Belu

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:57 WITA

Tiga Sakramen, Satu Keluarga, dan Sejuta Sukacita di Minggu Biasa Ke-30

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:52 WITA

25 Tahun Imamat Ama Kolo, Imam Pertama dari Pulau Sabu

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:46 WITA

40 Tahun Imamat Romo Chris Taus, Uskup Agung Kupang: Imamat Adalah Rahmat dan Kesetiaan

Berita Terbaru

Iman & Gereja

Hukum Kasih: Inti Ajaran Yesus dan Pedoman Hidup Orang Kristiani

Sabtu, 24 Okt 2026 - 10:31 WITA

Pater Frans Lackner & Rd. Ama Kolo Imam Perdana dari Pulau Sabu

Iman & Gereja

25 Tahun Imamat Ama Kolo, Imam Pertama dari Pulau Sabu

Kamis, 22 Okt 2026 - 12:52 WITA

error: Content is protected !!