Menemukan Kedamaian yang Hilang di Tengah Hidup Sehari-hari

Kotbah Minggu Biasa XIV oleh Rm. Chris Taus, Pr.

- Editor

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Grafis oleh matatimor.net

Grafis oleh matatimor.net

Menemukan Kedamaian yang Hilang di Tengah Tekanan Hidup Sehari-hari

​Kita sering mengucapkan kata ini: DAMAI. Dalam Liturgi, kita sangat akrab dengan kata tersebut. Imam menyapa kita, “Damai sertamu.” Ada pula doa khusus yang disebut Doa Damai. Ketika kita menyiapkan diri untuk menerima Komuni Kudus, kita diajak untuk saling memberikan Salam Damai dengan sesama. Betapa damai dan teduh hati kita ketika saling mengucapkan Salam Damai. Sungguh, damai Tuhan adalah rahmat bagi kita.

​Namun dalam kenyataan hidup sehari-hari, kita ternyata tidak baik-baik saja. Sepertinya kedamaian menjadi sesuatu yang sangat mahal. Ada begitu banyak persoalan yang membuat kita tidak nyaman dalam menjalani hidup. Berbagai persoalan itu datang silih berganti: tekanan ekonomi, masalah kesehatan, hingga dinamika relasi dalam hidup bertetangga dan bersaudara.

PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

ads

MURAH! Hubungi 08113810024

​Menghadapi kenyataan-kenyataan ini, apa yang harus kita perbuat?

​Yesus datang untuk membawa dan menghadirkan damai. Damai yang Yesus bawa adalah rahmat dan kedamaian yang sejati. Karena itu, ketika kita menghadapi persoalan hidup tentang kedamaian, Yesus memberikan tips atau jalan untuk menyelesaikannya. Salah satunya lewat Injil Minggu ini.

BACA JUGA  Kotbah Katolik Minggu 30 Juni 2024

​Yesus mengingatkan agar kita datang kepada-Nya dan belajar memikul kuk (beban). Seperti Yesus yang memikul Salib-Nya untuk menebus kita, demikian pula kita hendaknya berani memikul salib-salib hidup kita.

​Inilah pernyataan Yesus:

“Marilah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

​Dengan jalan memikul beban hidup kita, kita akan memperoleh damai yang sesungguhnya. Kita akan merasakan sukacita dan kebahagiaan. Dalam hal ini, kita juga bisa belajar dari segerombolan semut yang memindahkan makanan dengan cara memikulnya bersama-sama.

BACA JUGA  Memasuki Pekan Suci: Menelusuri Jejak Yesus di Minggu Palma

​Menghadapi beban hidup adalah sebuah kepastian. Apa saja bentuknya, entah ringan atau berat, terkadang membuat kita susah, putus asa, letih, dan merasa tidak dapat memikulnya sendiri. Pada titik seperti inilah Yesus tetap menanti kita untuk datang kepada-Nya. Kita diundang untuk belajar dari Yesus yang setia memikul Salib-Nya demi menyelamatkan kita.

​Rahmat Yesus yang setia memikul Salib akan dianugerahkan kepada kita. Inilah rahmat dan kekuatan Salib Yesus yang memampukan kita untuk memikul salib beban hidup sehari-hari:

  1. Kedekatan dengan Yesus membuat kita kuat dan tegar dalam memikul beban hidup dengan sikap lemah lembut dan rendah hati.
  2. Kita tidak menjadi pribadi yang menyalahkan atau mengambinghitamkan orang lain, melainkan bisa lebih jujur dengan diri sendiri.
  3. Kita lebih sadar bahwa segala beban hidup ini adalah bagian dari peziarahan yang tidak bisa dielakkan, tetapi harus dihadapi dan diselesaikan.
  4. Kita dengan jujur mengakui keterbatasan sebagai manusia. Ketika kita tidak bisa menyelesaikannya sendiri, kita tahu bahwa kita butuh pertolongan dari Tuhan.
  5. Kedewasaan dalam memikul beban salib hidup membuat kita mampu merasakan damai dan ketenangan hidup yang bahagia.
  6. Kita merasa tenang karena yakin Allah turut bekerja untuk menyelesaikan beban hidup kita.
  7. Tuhan selalu memberikan pertolongan dan rahmat-Nya pada saat yang tepat, karena Allah selalu dekat dengan kita.
  8. Allah mengizinkan beban hidup ini ada, tetapi Dia sendiri yang akan menyelesaikan dan membimbing kita hingga akhir.
BACA JUGA  Kotbah / Renungan Katolik Minggu Biasa VII

​Pada akhirnya, Allah sendiri memberikan Yesus sebagai tanda penyerahan-Nya yang paling nyata. Sebab, Allah kita adalah Allah yang rela menderita dan Dialah pembawa damai yang sejati.

​Amin.

Bacaan Liturgi Minggu Biasa XIV:

  • Bacaan I: Zakaria 9:9-10
  • Bacaan II: Roma 8:9, 11-13
  • Injil: Matius 11:25-30
Facebook Coment

Penulis : Rm. Chris

Editor : Del Neonub

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup
Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah
Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII
Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas
Kekuatan Sabda Allah dan Tanggung Jawab Iman Kita
Panggilan Menuju Kekudusan dan Ganjaran Melimpah dari Allah
Menghadapi Ketakutan dengan Kuasa dan Pemeliharaan Ilahi
Tuaian Melimpah, Pekerja Sedikit: Panggilan Menjadi Perpanjangan Tangan Yesus
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:01 WITA

​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 16:16 WITA

Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah

Sabtu, 25 Juli 2026 - 08:47 WITA

Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:11 WITA

Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas

Sabtu, 4 Juli 2026 - 07:54 WITA

Menemukan Kedamaian yang Hilang di Tengah Hidup Sehari-hari

Berita Terbaru

Oplus_131072

KOTBAH & RENUNGAN

​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup

Sabtu, 8 Agu 2026 - 06:01 WITA

Minggu Biasa XVIII

KOTBAH & RENUNGAN

Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah

Sabtu, 1 Agu 2026 - 16:16 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII

Sabtu, 25 Jul 2026 - 08:47 WITA

Gambar dokumentasi dan olahan matatimor.net

KOTBAH & RENUNGAN

Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:11 WITA

Gambar dibuat dengan GeminiAI (prompt oleh del neonub)

OPINI

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi

Kamis, 16 Jul 2026 - 06:45 WITA

error: Content is protected !!