Pemerintah Peringatkan Bahaya Ilusi Algoritma Saat Masyarakat Sampaikan Aspirasi

- Editor

Sabtu, 13 Juni 2026 - 11:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid. (Foto: Dok Kemkomdigi / olahan matatimor)

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid. (Foto: Dok Kemkomdigi / olahan matatimor)

Pemerintah Peringatkan Bahaya Ilusi Algoritma Saat Masyarakat Sampaikan Aspirasi

Pemerintah mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan kritis terhadap informasi yang tersebar di media sosial, terutama saat menyampaikan atau mengikuti perkembangan aksi demonstrasi. Di tengah banjir informasi digital, publik diminta tidak terjebak dalam ilusi algoritma—fenomena yang bisa membentuk persepsi keliru tentang situasi yang sesungguhnya.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan bahwa pemerintah menghormati hak warga untuk menyampaikan pendapat di muka umum sebagai bagian dari demokrasi. Namun, kebebasan itu harus diimbangi dengan tanggung jawab menjaga ketertiban, keselamatan bersama, dan kualitas ruang digital.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pemerintah terbuka terhadap aspirasi, kritik, dan masukan dari masyarakat. Menyampaikan pendapat adalah hak warga negara yang dijamin dalam demokrasi. Karena itu, ruang untuk menyampaikan aspirasi harus tetap kita jaga bersama,” ujar Meutya di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

BACA JUGA  Korban Terseret Banjir di Fatuleu Barat Belum ditemukan

Menurutnya, penyampaian aspirasi secara damai akan membuat pesan yang dibawa masyarakat lebih mudah dipahami dan diterima publik. Ia mengingatkan agar aksi tidak disertai kekerasan atau perusakan fasilitas umum.

“Kritik boleh disampaikan dengan tegas, tetapi harus tetap damai. Jangan mudah terprovokasi sehingga memicu kekerasan, perusakan, pembakaran, penyerangan, atau tindakan lain yang membahayakan masyarakat,” tegasnya.

Meutya juga menyoroti dinamika ruang digital yang kerap mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap suatu peristiwa. Ia menjelaskan bahwa algoritma media sosial bekerja berdasarkan pola interaksi, minat, dan emosi pengguna. Akibatnya, konten yang muncul di linimasa belum tentu menggambarkan keseluruhan situasi yang sebenarnya.

BACA JUGA  Polemik BLT Desa Leuntolu-Belu, ini Hasil Klarifikasi Tim Kejari dan Inspektorat Belu

“Jangan langsung menganggap linimasa sebagai gambaran lengkap keadaan. Ilusi algoritma bisa membuat kita merasa semua orang sedang marah, semua orang membenarkan kekerasan, atau semua informasi yang kita lihat adalah fakta. Padahal, belum tentu demikian. Karena itu, periksa informasi dari berbagai sumber, pahami konteksnya, dan jangan mudah terprovokasi,” pesannya.

Fenomena ini penting dipahami karena media sosial kini menjadi salah satu sumber utama informasi publik. Tanpa kemampuan memverifikasi fakta, pengguna berisiko terjebak dalam echo chamber (ruang gema) yang hanya memperkuat pandangan tertentu dan mengabaikan fakta yang lebih luas.

Bijak Bermedia Sosial

Meutya mengajak masyarakat agar lebih bijak menggunakan media sosial selama masa penyampaian aspirasi. Ia meminta agar masyarakat tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tidak membagikan ajakan kekerasan, serta tidak ikut memperluas provokasi di ruang digital.

BACA JUGA  Menghadiri Ibadah Perayaan Bulan Budaya dan Bahasa Dalam Etnis Rote.Ini Yang Diberikan Pj. Walkot Kupang

Ia juga mengingatkan ancaman hoaks, disinformasi, manipulasi video, maupun potongan informasi tanpa konteks yang kerap muncul saat terjadi peristiwa publik.

“Ruang digital tidak boleh menjadi tempat untuk memperbesar provokasi. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi hoaks, hasutan kekerasan, dan manipulasi informasi tidak boleh diberi ruang. Mari kita jaga aspirasi tetap tersampaikan secara damai dan bertanggung jawab,” pungkasnya.

Pemerintah berharap masyarakat dapat memanfaatkan ruang demokrasi secara sehat dengan tetap mengedepankan sikap kritis, damai, dan bertanggung jawab—baik di dunia nyata maupun di ruang digital.

Facebook Coment

Penulis : Wahyu

Editor : Del

Sumber Berita: Info Publik

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gereja Lama Tak Lagi Memadai, Umat di Oepoli Berjuang Bangun Rumah Ibadah Baru
40 Tahun Imamat Romo Chris Taus, Uskup Agung Kupang: Imamat Adalah Rahmat dan Kesetiaan
Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu
Dari Kapela Sto. Yoseph Sublele, Ziarah Arca Bunda Maria Paroki Santa Helena Camplong Dimulai
Menarik Tali Bersama, Menarik Harapan untuk Rumah Ibadah di GMIT Betel Oelusapi – Fatuleu Barat
Tema Komunikasi Sosial Sedunia 2027: Cara Pandang Baru di Era Clickbait
SMA Efata Sulamu Klarifikasi Video Viral, Tiga Siswa Jalani Pembinaan di Polsek
Paus Leo XIV di Paris: “Tak Seorang Pun Hanya Sebuah Angka”
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:56 WITA

Gereja Lama Tak Lagi Memadai, Umat di Oepoli Berjuang Bangun Rumah Ibadah Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:46 WITA

40 Tahun Imamat Romo Chris Taus, Uskup Agung Kupang: Imamat Adalah Rahmat dan Kesetiaan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:50 WITA

Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:39 WITA

Dari Kapela Sto. Yoseph Sublele, Ziarah Arca Bunda Maria Paroki Santa Helena Camplong Dimulai

Rabu, 30 September 2026 - 11:43 WITA

Menarik Tali Bersama, Menarik Harapan untuk Rumah Ibadah di GMIT Betel Oelusapi – Fatuleu Barat

Berita Terbaru

Gambar oleh Del Neonub

Iman & Gereja

Renungan Minggu Biasa XXIX: Hak Kaisar dan Hak Allah

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:11 WITA

Foto by Del Neonub

INSPIRASI

Satu Malam di Nauen: Doa, Jamuan, dan Cerita Persaudaraan

Jumat, 16 Okt 2026 - 13:50 WITA

error: Content is protected !!