PESAN VIRTUAL SANG GURU
Tahun 2014 hingga tahun 2015. Kurang lebih setahun. Tepatnya dari bulan september 2014 hingga Agustus 2015, di sebuah kampung terpencil di pedalaman Papua, Katan, Distrik Nambioman Bapai, Mappi, Papua, guru Oni Tenis menorehkan jejak sebagai guru SM3T. Di sanalah ia bertemu dengan dua bocah cerdas yang haus akan ilmu dan penuh semangat: Philipus Kamagaimu dan Ferdinandus Kamagaimu. Oni hanya bertugas setahun, namun ikatan yang terjalin jauh melampaui waktu singkat itu.

Setelah tugasnya usai, Oni kembali ke kampung halamannya dan mengajar di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Komunikasi terputus sejenak, namun takdir dan teknologi mempertemukan mereka kembali. Lewat obrolan WhatsApp, mereka bertukar kabar—sebuah jembatan digital yang menghubungkan Papua dan NTT.
Malam itu, 11 November 2025, dari Ende, tempat perhelatan El Tari Memorial Cup 2025, Philipus mengirim pesan obrolan di WA. Di layar sentuh android, ia memulai obrolan dengan gurunya. Wajah pak guru Oni Tenis tersenyum hangat, menyiratkan kebanggaan yang mendalam.
“Selamat malam, kaka. Ini dengan Philipus, kaka. Saya kuliah di Kupang. Tapi sekarang sedang ikut pertandingan piala El tari. Main di klub Pers Soe” sapa Philipus.

“Selamat malam, anakku! Ya ampun, kamu sudah besar sekali! Rasanya baru kemarin pak guru ajari kalian membaca di bawah pohon rindang itu,” ujar Oni, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. “Jadi, benar-benar sudah kuliah Kupang sekarang, to? Bagaimana kuliah di Undana? Kota Kupang panas, e?”
“Puji Tuhan, lancar, pak” jawab Philipus. “Panasnya beda, pak. Tapi saya sudah mulai terbiasa. Saya ambil jurusan yang saya impikan, sesuai nasihat bapak dulu. Guru olahraga”
“Pak tahu kalian pasti bisa. Tapi…, ada kabar besar, nih? Kalian membela Perse Soe di Piala El Tari 2025 di Ende?” tanya Oni, matanya melebar takjub.

Philipus tertawa bangga. “Betul, pak. Saya sama kakak Katuk (sapaan Ferdinandus Kamagaimu) Kami tidak menyangka bisa sampai di sini. Saya datang ke Kupang untuk kuliah, tapi kesempatan bermain bola datang. Saya ikut seleksi pemain Perse Soe. Puji Tuhan, lolos. Kakak Katuk tidak kuliah, kemarin ikut tes TNI tapi tidak lolos. Kebetulan Pers Soe ada cari pemain, jadi saya panggil kakak Katuk untuk kontrak main di Pers Soe. Kami lihat ini juga jalan Tuhan, pak,” jelas Philipus.
“Masyarakat Soe bilang, kami punya ‘energi Papua’ yang kuat di lapangan,” tambah Ferdinandus, tersenyum lebar.
Oni Tenis menggelengkan kepala, wajahnya berseri-seri. “Luar biasa! Dulu di sekolah, kalian paling lincah mengejar bola di tanah lapang. Sekarang, kalian bawa nama Soe ke turnamen besar. Pak guru bangga sekali. Ini bukti, anak-anak Papua itu hebat, di akademik oke, di lapangan hijau pun juara!
“Mereka berbincang panjang. Mereka bicara tentang kenangan di Papua, mimpi-mimpi di masa depan, tantangan di bangku kuliah, dan strategi mereka di lapangan hijau. Mereka berjanji untuk segera bertemu langsung saat Oni punya waktu luang atau ketika tim Perse Soe kembali ke Kupang.
“Jaga diri baik-baik di Ende. Main dengan hati, e! Pak guru akan selalu doakan kalian. Ingat, kemenangan yang sejati bukan hanya di piala, tapi di semangat kalian. Kalau sampai tembus final, pak guru akan ke Ende untuk nonton secara langsung. Salam buat teman-teman di tim,” demikian pesan virtual sang guru Oni, mengakhiri obrolan mereka.
Layar android meredup. Philipus dan Ferdinandus saling pandang, merasakan gelombang energi dan motivasi baru. Obrolan singkat itu, walau hanya di dunia maya, telah menegaskan kembali ikatan antara seorang guru di NTT dan dua muridnya dari Papua, yang kini berjuang bersama di tanah perantauan. Dari Papua ke Undana, lalu ke lapangan hijau Piala El Tari—semua berawal dari sebaris sapaan tulus dari seorang guru yang peduli.
Penulis : Johannes Peu (JP Apeutung): seorang Pedagog pada SD Bertingkat Kelapa Lima
Editor : Del / Tim








