OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?

Oleh: Redaksi Mata Timor

- Editor

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejarah mencatat bahwa koperasi lahir dari rahim penderitaan rakyat yang tercekik oleh kapitalisme rakus. Di NTT, koperasi sempat menjadi oase, menjadi “Soko Guru” tempat rakyat kecil menyandarkan harapan ekonominya. Namun hari ini, wajah itu kian memudar, berganti rupa menjadi mesin pengejar profit yang dingin.

Berhala Materi dan Takhta

Belakangan ini, publik NTT disuguhi tontonan yang memuakkan dari pucuk pimpinan koperasi besar. Keributan demi keributan, aksi saling lapor, hingga dugaan sabotase hasil RAT menjadi bukti nyata bahwa nilai “kekeluargaan” telah digantikan oleh syahwat kekuasaan.

BACA JUGA  Krisis Ekologis : Suatu Masalah Moral

Ketika Materi dan Takhta sudah menjadi tujuan utama para pengelola, maka kehancuran tinggal menunggu waktu. Koperasi tidak lagi dijalankan dengan semangat pengabdian, melainkan dengan logika korporasi: siapa kuat, dia berkuasa; siapa punya akses, dia mendapat posisi.

PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

ads

MURAH! Hubungi 08113810024

Dari “Soko Guru” Menjadi “Rentenir Formal”

Kita harus berani jujur: banyak koperasi yang sudah terlalu besar kini tak ubahnya seperti rentenir yang memakai jubah legal. Mereka tak lagi sibuk mendidik anggota agar mandiri secara finansial. Sebaliknya, mereka sibuk mengejar target peminjam.

Staf lapangan dikerahkan bukan untuk memberi solusi ekonomi, melainkan untuk “menjerat” anggota dengan pinjaman berbunga tinggi. Anggota tidak lagi diposisikan sebagai pemilik kedaulatan, melainkan sekadar “target pasar” yang diperas melalui bunga yang terus berbunga. Inilah yang kita sebut sebagai pemiskinan terstruktur berbaju koperasi.

BACA JUGA  Poli-Tikus Tidak Perlu Sekolah?

Runtuhnya Fondasi Kepercayaan

Secara ontologis, koperasi berdiri di atas landasan Fides (kepercayaan). Tanpa kejujuran dan integritas di tingkat pimpinan, koperasi hanyalah menara gading yang dibangun di atas pasir. Jika pimpinan sudah ribut berebut “kue” jabatan dan aset, lantas siapa yang memikirkan nasib petani di desa yang harus memotong jatah makannya demi mencicil bunga pinjaman?

Kejayaan aset triliunan rupiah dan kantor semegah istana tidak ada artinya jika di baliknya terdapat ribuan anggota yang kian terjepit. Koperasi yang sehat tidak diukur dari seberapa besar gedungnya, tapi dari seberapa banyak anggotanya yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.

BACA JUGA  Hilangnya “Budi” di Ruang Kelas NTT: Alarm Serius Krisis Moral

Kembali ke Khitah atau Mati

Koperasi di NTT butuh “pembersihan” besar-besaran. Kita butuh kembali ke semangat awal: dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Bukan dari anggota, oleh pengurus, untuk penguasa.

Jika para elite di pucuk pimpinan masih terus memuja materi dan jabatan, jangan salahkan masyarakat jika suatu saat kepercayaan itu benar-benar runtuh. Ingatlah, apa pun yang dibangun atas dasar keserakahan, pada akhirnya akan roboh oleh beban kebohongannya sendiri.

Sudah saatnya anggota bersuara. Karena koperasi adalah milik kita, bukan milik mereka yang duduk di kursi empuk pucuk pimpinan.

Facebook Coment

Penulis : Del Neonub | Redaktur

Editor : Del

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Duka Flores, Goyang “Bosan Hala” dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial
Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi
Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor
Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman
Di Balik Dinamika Pelantikan Pejabat “Tanpa SK” di Kabupaten Kupang
NTT: Kemiskinan yang Dipelihara Sistem
Membaca Hasil TKA dari Ruang Kelas! Bukan dari Kursi Penilai
Legenda Nepo, Kolu, dan Kelahiran Koru
Berita ini 23 kali dibaca
"Koperasi seharusnya menjadi alat untuk melawan kapitalisme yang rakus, bukan justru menjadi instrumen yang mengeksploitasi keterbatasan ekonomi masyarakat lokal."

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Duka Flores, Goyang “Bosan Hala” dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial

Kamis, 16 Juli 2026 - 06:45 WITA

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:49 WITA

OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?

Kamis, 26 Februari 2026 - 11:43 WITA

Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor

Rabu, 25 Februari 2026 - 06:01 WITA

Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman

Berita Terbaru

BERITA

19 Tim Ramaikan Turnamen Voli Milenial Cup I Desa Kalali

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:37 WITA

Iman & Gereja

Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah

Sabtu, 12 Sep 2026 - 08:08 WITA

BERITA

Saling Menegur dalam Kasih: Jalan Menuju Kesucian Hidup

Sabtu, 5 Sep 2026 - 07:38 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan

Sabtu, 29 Agu 2026 - 10:36 WITA

error: Content is protected !!