Daftar Isi
Pengantar: Romantisme Malam di Tanah Dawan
Di masa lampau, setiap perhelatan gembira bagi Atoin Meto (Orang Dawan) selalu dirayakan dengan Bonet. Tarian lingkaran ini biasanya digelar di bawah langit malam yang kelam. Alunan suara bariton para pria yang berpadu dengan suara halus kaum wanita menciptakan harmoni yang syahdu.
Bagi telinga orang Dawan, suara Bonet dari kejauhan terdengar bagaikan deburan ombak yang menghempas pantai—timbul tenggelam dalam kesenyapan, lalu menggelegar kembali dalam keriuhan. Di sinilah masyarakat menghabiskan waktu semalam suntuk tanpa memejamkan mata sedikit pun.
Jejak Literatur dan Makna Filosofis
Meski literatur tentang Bonet sangat terbatas, beberapa tokoh telah mencoba mengabadikannya:
- Dominikus Nitsae, BA (1983/84): Melakukan analisis mendalam tentang struktur Bonet.
- Pdt. Pieter Middelkoop (1929): Menyebut Bonet sebagai “terpercik kecemerlangan budi dan semangat orang Dawan yang paling dalam”.
Mengenal pantun-pantun dalam Bonet adalah cara terbaik untuk memahami getaran jiwa dan pikiran masyarakat Dawan secara mendalam.
Arti Kata “Bonet”
Secara etimologi, kata bo-en berarti mengelilingi, membagi, atau membungkus.
- Kata Kerja: Digunakan dalam ungkapan “Tok tol bonet” (duduk melingkar) atau “Bah tol bonet” (membangun pagar melingkar).
- Kata Benda: Merujuk pada tarian itu sendiri yang dilakukan dalam formasi lingkaran yang rapat.
Tata Cara dan Teknik Menari
1. Sikap Penari Para penari berdiri berdampingan dengan posisi bahu-membahu atau berpegangan tangan (matopu niman). Ada teknik khusus yang disebut makehen atau manehen, sebuah cara yang dibawa oleh masyarakat Beunsila dari wilayah Oekusi.
2. Gerak Kaki
- Bonet Mnutu (Hae Mesa): Gerakan mengangkat kaki ke kiri dan kanan dengan pola 3×1.
- Bonet Naek (Hae Nua): Gerakan kaki yang lebih kompleks, namun saat ini sudah jarang dipraktikkan kecuali di beberapa wilayah di Amanatun.
Dinamika Jalannya Tarian
Peserta: Awalnya, Bonet didominasi oleh pria karena gerakannya yang energik. Dahulu, wanita yang ikut harus didampingi oleh keluarga dekat. Seiring waktu, aturan ini melonggar, meski sempat ada pembatasan dari pihak gereja di masa lalu. Untuk wanita, terdapat jenis Bonet khusus yang disebut boennitu.
Prosesi: Tarian dimulai dengan kelompok kecil yang menyanyikan syair menarik untuk mengundang orang lain bergabung. Lingkaran yang ideal tidak boleh terlalu besar agar suara pembawa pantun tetap terdengar jelas oleh seluruh peserta.
Ketika peserta semakin banyak, lingkaran akan terbagi secara otomatis menjadi dua kelompok:
- Kelompok Pembawa Pantun (Syair): Menyampaikan isi hati atau pesan.
- Kelompok Penjawab (Refren): Mengulangi bait ulangan (misalnya: “Kolo nema kolo”).
Contoh Pantun dan Dialog Budaya
Dalam Bonet, terjadi dialog puitis antara dua kelompok. Sebagai contoh:
- Pihak Pertama: Menyanyikan kiasan tentang burung dara yang kicauannya seperti bunyi gong (Umbe nkae on sene hanan).
- Peralihan: Ketika kelompok pertama selesai, mereka memberikan kode melalui syair: “Oko tuik ana on hen tuik man” (Tempat sirih kecil bisa ditukar), sebagai tanda estafet pantun diberikan kepada kelompok berikutnya.
Penutup: Perintah Alam
Bonet adalah tarian yang terikat dengan waktu. Terbitnya matahari di ufuk timur bukan hanya penanda pagi, melainkan “perintah alam” bagi para penari untuk membubarkan diri. Dengan semangat yang masih tersisa dari kegembiraan semalam, mereka bergegas pulang untuk melanjutkan tugas hidup: pergi ke kebun dan bekerja.
Penulis : matatimor
Editor : Del








