Bonet: Tarian Lingkaran dan Simbol Kebersamaan Atoin Meto

- Editor

Minggu, 17 Juni 2018 - 02:10 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Atoni Pah Meto dari Desa Fatukopa dalam Balutan Pakain Adat

Atoni Pah Meto dari Desa Fatukopa dalam Balutan Pakain Adat

Pengantar: Romantisme Malam di Tanah Dawan

Di masa lampau, setiap perhelatan gembira bagi Atoin Meto (Orang Dawan) selalu dirayakan dengan Bonet. Tarian lingkaran ini biasanya digelar di bawah langit malam yang kelam. Alunan suara bariton para pria yang berpadu dengan suara halus kaum wanita menciptakan harmoni yang syahdu.

Bagi telinga orang Dawan, suara Bonet dari kejauhan terdengar bagaikan deburan ombak yang menghempas pantai—timbul tenggelam dalam kesenyapan, lalu menggelegar kembali dalam keriuhan. Di sinilah masyarakat menghabiskan waktu semalam suntuk tanpa memejamkan mata sedikit pun.

Jejak Literatur dan Makna Filosofis

Meski literatur tentang Bonet sangat terbatas, beberapa tokoh telah mencoba mengabadikannya:

BACA JUGA  The peopling of Timor: the linguistic evidence

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

  • Dominikus Nitsae, BA (1983/84): Melakukan analisis mendalam tentang struktur Bonet.
  • Pdt. Pieter Middelkoop (1929): Menyebut Bonet sebagai “terpercik kecemerlangan budi dan semangat orang Dawan yang paling dalam”.

Mengenal pantun-pantun dalam Bonet adalah cara terbaik untuk memahami getaran jiwa dan pikiran masyarakat Dawan secara mendalam.

Arti Kata “Bonet”

Secara etimologi, kata bo-en berarti mengelilingi, membagi, atau membungkus.

  • Kata Kerja: Digunakan dalam ungkapan “Tok tol bonet” (duduk melingkar) atau “Bah tol bonet” (membangun pagar melingkar).
  • Kata Benda: Merujuk pada tarian itu sendiri yang dilakukan dalam formasi lingkaran yang rapat.

Tata Cara dan Teknik Menari

1. Sikap Penari Para penari berdiri berdampingan dengan posisi bahu-membahu atau berpegangan tangan (matopu niman). Ada teknik khusus yang disebut makehen atau manehen, sebuah cara yang dibawa oleh masyarakat Beunsila dari wilayah Oekusi.

BACA JUGA  KOROLEILEI: GOTONG ROYONG REKREATIF

2. Gerak Kaki

  • Bonet Mnutu (Hae Mesa): Gerakan mengangkat kaki ke kiri dan kanan dengan pola 3×1.
  • Bonet Naek (Hae Nua): Gerakan kaki yang lebih kompleks, namun saat ini sudah jarang dipraktikkan kecuali di beberapa wilayah di Amanatun.

Dinamika Jalannya Tarian

Peserta: Awalnya, Bonet didominasi oleh pria karena gerakannya yang energik. Dahulu, wanita yang ikut harus didampingi oleh keluarga dekat. Seiring waktu, aturan ini melonggar, meski sempat ada pembatasan dari pihak gereja di masa lalu. Untuk wanita, terdapat jenis Bonet khusus yang disebut boennitu.

Prosesi: Tarian dimulai dengan kelompok kecil yang menyanyikan syair menarik untuk mengundang orang lain bergabung. Lingkaran yang ideal tidak boleh terlalu besar agar suara pembawa pantun tetap terdengar jelas oleh seluruh peserta.

Ketika peserta semakin banyak, lingkaran akan terbagi secara otomatis menjadi dua kelompok:

  1. Kelompok Pembawa Pantun (Syair): Menyampaikan isi hati atau pesan.
  2. Kelompok Penjawab (Refren): Mengulangi bait ulangan (misalnya: “Kolo nema kolo”).
BACA JUGA  SIFON ( Sunat lalu...) Tradisi Atoin Meto

Contoh Pantun dan Dialog Budaya

Dalam Bonet, terjadi dialog puitis antara dua kelompok. Sebagai contoh:

  • Pihak Pertama: Menyanyikan kiasan tentang burung dara yang kicauannya seperti bunyi gong (Umbe nkae on sene hanan).
  • Peralihan: Ketika kelompok pertama selesai, mereka memberikan kode melalui syair: “Oko tuik ana on hen tuik man” (Tempat sirih kecil bisa ditukar), sebagai tanda estafet pantun diberikan kepada kelompok berikutnya.

Penutup: Perintah Alam

Bonet adalah tarian yang terikat dengan waktu. Terbitnya matahari di ufuk timur bukan hanya penanda pagi, melainkan “perintah alam” bagi para penari untuk membubarkan diri. Dengan semangat yang masih tersisa dari kegembiraan semalam, mereka bergegas pulang untuk melanjutkan tugas hidup: pergi ke kebun dan bekerja.

Facebook Coment

Penulis : matatimor

Editor : Del

Tinggalkan Balasan

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Asal Usul Nama NUAT TAUS
Asal-usul Nama Barate
Kesiapan Festival Budaya Melas/Larik Riung dan Sagi So’a Capai 90%
Perempuan Mollo, Adat, dan Spiritualitas Maria
Tiga hari di Nusa Bungtilu, BOABLINGIN! (1)
The Name of Mount Sunu
Nono(t) Atoin Meto
Leksikografi Bahasa Dawan Dialek Amnatun Selatan
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 28 September 2025 - 07:23 WITA

Asal Usul Nama NUAT TAUS

Selasa, 16 September 2025 - 02:47 WITA

Asal-usul Nama Barate

Senin, 25 Agustus 2025 - 21:59 WITA

Kesiapan Festival Budaya Melas/Larik Riung dan Sagi So’a Capai 90%

Rabu, 6 Agustus 2025 - 09:26 WITA

Perempuan Mollo, Adat, dan Spiritualitas Maria

Senin, 1 Mei 2023 - 12:09 WITA

Tiga hari di Nusa Bungtilu, BOABLINGIN! (1)

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Janji Roh Kebenaran: Penyertaan Allah yang Kekal

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:58 WITA

Kotbah Katolik Minggu Paskah V - Gambar Komsos Paroki Camplong

MATA BERITA

Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:32 WITA

Kotbah Minggu Paskah IV - Hari Minggu Panggilan, Gambar: redaksi matatimor

KOTBAH & RENUNGAN

Yesus Sang Gembala Baik dan Minggu Panggilan

Sabtu, 25 Apr 2026 - 16:52 WITA

MATA BERITA

FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM

Kamis, 23 Apr 2026 - 06:32 WITA

Desain Oleh: Tim Kreatif matatimor.net

MATA BERITA

Menkomdigi: Adopsi AI Berpotensi Sumbang 3,67 Persen PDB Indonesia

Minggu, 19 Apr 2026 - 13:55 WITA

error: Content is protected !!