Aku dan Mesin Jahit ibuku

KEBUDAYAAN34 Dilihat
Aku dan Mesin Jahit Ibuku
Kiriman : Joana Kuil

Asalku dari suatu kampung nun jauh disana. Jauh dari riuh ramai perkotaan.
Kampung yang dikelilingi gunung-gunung kecil dimiripkan dengan sebuah kuali. Di kiri dan kanan juga sebelah atas dan bawah ada sungai-sungai kecil yang mengalir melingkari kampung kecilku ini. Ada satu dua petak sawah di pinggiran-pinggiran kali.
Di waktu padi sawah berbunga,  aroma wangi  merebak melintasi hidung-hidung penduduk kampung. Rimbun pepohonan di lereng-lereng hingga puncak-puncak bukit-bukit kecil membawa kesegaran udara yang tak terkira di kampung kami. Suara kicauan burung saling bersahutan dengan kokok-kokok ayam sebagai musik latar di keseharian para penghuni kampung ini.
Tanpa bising deru mesin mobil dan suara keras musik dari soundsystem layaknya di pemukiman kota. Kampungku itu adalah Noelelo, di lereng gunung Mutis. Sebuah kampung yang merupakan bagian dari wilayah administratif kabupaten Timor Tengah Utara.
 Bila malam tiba kampung Noeleloku ini dihiasi titik-titik sinar lampu pelita di setiap rumah, serta bulan dan bintang menjadi lampu neon bagi kami di masa itu.
Aku menghabiskan masa kecilku di kampung Noelelo ini. 
Akses ke kota kabupaten dari kampungku ini cukup jauh, dan di masa itu, alat transportasi ke kota kabupaten masih minim. 
Sulitnya akses ke perkotaan ini, menjadi alasan tidak mudah mendapatkan barang-barang yang ada di kota. 
Salah satu dari barang-barang di kota yang tidak mudah didapatkan adalah pakaian, bahkan untuk sepasang seragam sekolah buat saya dan kakak-kakak saya, amat sulit dibeli.
Kesulitan ini bagi kami tidak begitu berarti, sebab, ibuku adalah seorang penjahit ulung. Ia mampu mengayun-ayunkan pedal mesin jahit dengan kedua kakinya untuk menghasilkan beberapa pasang pakaian bagi kami.
Menurut cerita Ayah, bahwa yang mengajari ibuku menjahit adalah ayahku sendiri. Ini berarti ayahpun bisa menjahit. Namun yang sering saya lihat lebih banyak menjahit adalah Ibuku.
Ibuku menjahit kebayanya sendiri. Bahkan hingga akhir hidupnya, Ibuku tak sekalipun membeli kebaya di pasar ataupun dijahitkan oleh orang lain.
Bisa dibilang Ibuku adalah perancang busana penjahit keluarga meski amat sederhana, namun amat mewah dan luar biasa. Ibu, harus menjahit pakaian untuk kami delapan orang bersaudara, enam diantaranya adalah perempuan dan dua lainnya adalah laki- laki.
Jenis baju yang dijahit oleh ibuku untuk kami adalah pakaian rumah, pakaian gereja, hingga pakaian seragam sekolah.
Pakaian rumah yang dijahit oleh ibu berbentuk dress line A (istilah fashion sekarang), tanpa lengan .
Menjelang Hari Natal dan Pesta Paskah, suara mesin jahit ibuku akan menjadi “musik” utama di rumah. Ibuku bahkan harus ekstra lembur hingga larut malam dengan diterangi lampu pelita untuk menyelesaikan “pesanan” jahitan dari para pelanggan yang tak lain adalah anak-anaknya sendiri.
Menjadi kebiasaan bagi keluarga kami, saat Hari Natal dan Paskah tiba, saya dan saudara-saudaraku akan diberikan baju baru. Delapan bersaudara di dalam rumah merupakan jumlah yang tidak sedikit untuk ayah dan ibuku membelikan baju baru ke toko. Maka, sebagian akan dibelikan, dan yang lainnya dijahitkan oleh ibuku. Untuk model jahitan biasanya berupa “kleit” (baju terusan)..
Aturan dalam keluarga kami yaitu bila Natal ada yang mendapat giliran dijahitkan maka di saat Paskah mendapat giliran dibelikan di toko pakaian.
Saat mendapat giliran dijahitkan, tentu ada perasaan kurang hati. Sebab, model pakaian yang dibeli di toko sudah pasti memiliki model yang lebih variatif.
 Kendati menggunakan pakaian jahitan ibu, kami selalu tampil beda setiap hari raya. Hal ini karena tidak semua anak di kampung kami memiliki baju baru seperti kami di setiap hari Raya.
Maka baik dijahitkan ataupun dibelikan, kami akan berangkat ke gereja dengan diliputi rasa bangga.
Boleh dibilang, di gereja kecil di kampung kami, seketika akan berubah menjadi tempat dan ajang untuk  “pamer” baju baru..😀😀😁😁…hingga berlanjut dengan gosip-gosip kecil alias kusuk-kusuk tentang setiap model baju baru yang muncul dalam gereja.
Beda pakaian rumah, beda pakaian gereja, dan tentu ada juga perbedaan pada jahitan pakaian seragam yang dijahit ibu untuk kami anak-anaknya. Adalah rok lipit-lipit berwarna biru dan kemeja warna putih dan kuning tanpa saku yang berkerak bulat. Seragam-seragam ini kami gunakan di sekolah pada hari Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.
*……………………..*
Waktu berputar, hingga ibuku menemui ajalnya di tahun 2009. Mesin jahit peninggalan Ibuku masih tersimpan rapi hingga kini, dan masih bisa digunakan. 
Sewaktu hidup, Ibuku mereparasi sendiri mesin jahit itu tanpa harus membawa ke tukang service bila mengalami gangguan.
Kini, aku telah berumahtangga dengan dikaruniai dua orang anak.
Bilamana ada kulihat pakaian anak-anakku sobek, aku akan teringat kenangan masa kecil bersama mesin jahit Ibuku. 
My lovely husband and our doughter 
Baca Juga  ORANG TIMOR-ATOIN PAH METO

Terlintas jelas, bagaimana ibuku mengayuh pedal mesin jahitnya dan mulai mengulur helaian kain dekat di ujung jarum, pedal mesin jahit diinjak, roda berputar dan helaian kain itu akan tersambung dalam sekejap, diiringi alunan bunyi mesin jahit yang khas.

Kenangan masa kecilku, membuatku berkeyakinan dalam hati,  seperti pepatah,  bahwa “Buah jatuh tidak jauh dari pohon”
Pokoknya aku bisa menjahit seperti ibuku!
Keyakinanku ini, kuutarakan kepada suami tercinta di suatu waktu. “Ba…saya ingin punya mesin jahit, biar bisa menjahit sendiri pakain kita kalau sobek
“memangnya mama bisa jahit?” begitulah jawaban yang kudapat dari suamiku, yang rupanya ada keraguan.
Baca Juga  Analisis Upaya Pelestarian Tradisi Lisan dalam Budaya Atoin Pah Meto
Masuk akal juga, sebab, suamiku belum sekalipun melihatku menjahit dengan mesin. maka layak dan pantaslah bila suami tercintaku ini meragukan dengan mengerutkan dahinya ketika aku bilang
“saya bisa menjahit.
Meski ragu, namun, diam-diam rupanya suamiku  menyetujui permintaanku,

Ia menunggu momen yang pas untuk bisa memboyong sebuah mesin ke rumah kami.

Setelah kurang lebih dua tahun penantian, di suatu hari suamiku mengatakan kepadaku begini :
Ma… nanti hari apa kita pergi beli Mama punya mesin jahit“.
Kata-kata itu membuatku terkejut penuh girang, seperti seorang anak kecil yang akan dibelikan sepeda baru. Begitulah suasana hatiku saat itu.
Tibalah saatnya kami berangkat ke kota untuk membeli sebuah mesin jahit.
Hatiku senang bukan main. Namun, sebelum berangkat suamiku masih melayangkan tanya
memang Mama bisa jahit?” yang rupanya masih ada keraguan.
Lagi-lagi, dengan penuh percaya diri i give this answer.. “bisa Ba…sedikit-sedikit.” kata sedikit-sedikit itu sebenarnya saya mau bilang bahwa kepercayaan diriku mulai goyah. Alias mulai ragu:)
Kami pun akhirnya berangkat ke kota provinsi.
Aku dan keluargaku
Sepanjang perjalanan, meski hatiku amat gembira karena apa yang kuimpikan akan segera terwujud, namun rasa cemas mulai melanda hatiku.
“…..gawat juga kalo mesin jahit sudah dibeli lalu saya tidak bisa mengoperasikannya?”
Sebab aku tak ingin mengecewakan suamiku! Bagaimana mungkin, sudah mahal-mahal membelikan mesin sebagai kado, lalu aku tak mampu menggunakannya, sayang kalau mubazir.
Namun, aku terus memotivasi diriku sendiri bahwa walau nanti tak sampai menjahit pakaian yang bermodel layaknya para profesional, paling tidak aku harus sampai bisa menjahit pakaian kami di dalam rumah yang sobek.
Tiba di toko mesin, sambil melihat-lihat,  rasa cemasku makin menjadi, maka saya berniat membatalkan rencana itu.
Ba.. atau lain kali saja baru beli soalnya kita tidak mengerti tentang alat-alat mesin jahit, takutnya orang tipu kita..
Alasan ini hanyalah alibi, sesungguhnya saya belum bisa jahit 🙂
“..bagaimana kalau saya belajar dulu baru kita beli.” lanjutku ingin benar-benar membatalkan rencana itu.
Lalu, sayapun menyempatkan diri untuk mencoba mendayung satu mesin jahit di dalam toko itu.
.. ternyata….oh ternyata apa yang saya yakinkan bahwa saya bisa menjahit, ternyata tidak benar. Keraguan saya jurteru terbukti, bahwa saya belum bisa mengayuh dengan baik layaknya ibuku dulu.
. Ya ampun ternyata tidak mudah! dan sayapun bilang ke suami…..” Ba..saya tidak bisa jahit..
Namun, rupanya Suamiku tercinta sudah bulat tekatnya, Ia seperti tak menghiraukan kecemasanku ini Ia  malah berkata ” beli saja nanti baru belajar!
Ternyata suamiku berniat membeli mesin ini, sebagai kado untuk hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-7.
Akhirnya, sebuah mesin jahit kami bawa pulang ke rumah di hari itu.
Sebelum beranjak meninggalkan toko itu, saya sempat bertanya kepada petugas toko bagaimana caranya mengganti jarum mesin, sebagai modal awal bagiku di rumah.
Hatiku berbunga-bunga. Terimakasih orang tercintaku! I love you my husband!
Bagaimana proses awal penggunaan mesin jahit itu setelah tiba di rumah?
…. nantikan di edisi berikutnya.

***Joana Kuil, S.Kom (guru di SMAN 1 Fatuleu)

Tinggalkan Balasan