Asal-Usul Nama BAUMATA

- Editor

Selasa, 24 Januari 2017 - 06:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Legenda Nama Kampung Baumata  

 (Ditulis kembali dari buku Dr. P. Middelkoop. Atoni Pah Meto. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1992, 180-182).
Oleh Pdt. Eben Nuban Timor   

Setiap tahun, pada musim kering, di Baumata terjadi kekeringan yang luar biasa. Orang-orang yang tinggal di Baumata perlu berjalan berkilo-kilo meter jauhnya untuk mendapatkan air.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Baumata hiduplah sepasang suami istri. Sang istri bernama Bi Baun sedangkan suaminya adalah  Nai Mat.   

Pada suatu pagi hari, Bi Baun sedang menenun kain adat, tiba-tiba setitik air jatuh ke atasnya. Dia sangat terkejut dan marah karena pada saat itu tidak hujan.

Dari mana asalnya air yang jatuh tersebut ia bertanya-tanya.    Keesokan paginya, ia melakukan ritual yang sama yaitu menenun. Lalu dia melihat ada seekor  burung kecil yang terbang di atasnya dengan membawa air.

Darimana burung tersebut mendapatkan air, ia membatin. Keesokan harinya, di pagi hari, Bi Baun kembali bekerja seperti  biasa, sambil mencari cari lokasi dari burung yang dilihatnya. Dan dia menemukan sebuah kubangan kecil berisi air di mana burung itu sedang minum air.

BACA JUGA  Asal-Usul Hutan dan Nama Camplong

Burung itu lalu terbang dengan meneteskan setitik air ke tangan Bi Baun.    Bi Baun mendekati kubangan air kecil itu dan menjadi sangat terkejut karena ia menemukan sebuah sungai besar yang mengalir di bawahnya.

Ia lalu berlari cepat ke arah rumahnya untuk memberitahukan apa yang baru saja dilihatnya kepada suaminya. Suaminya mendekati lubang air itu dan memindahkan batu besar yang menutupi lubang air itu sehingga mereka dapat turun ke  bawah dan mendekati aliran sungai yang ada di bawahnya.

Beberapa meter di bawah permukaan tanah mereka menemukan air yang mengalir deras seperti sungai. Mereka berdua merahasiakan hasil penemuan ini. Pasangan ini merasa sangat senang karena mereka tidak lagi harus berjalan jauh untuk mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangga.    

BACA JUGA  Memperingati Detik-Detik Proklamasi di Desa Ekateta Kec. Fatuleu

Para tetangga mulai merasa curiga kepada pasangan suami istri bi Baun dan Nai Mat karena mereka tidak pernah lagi nampak ikut pergi mengambil air bersama. Suatu hari seorang tetangga mencoba membuntuti Bi Baun yang bangun pagi-pagi dan berjalan ke tengah hutan dengan membawa tempat air di atas kepalanya.

Setelah berjalan beberapa meter, ia tiba-tiba menghilang. Bi Baun masuk ke dalam lubang air. Beberapa waktu kemudian ia keluar dalam keadaan bersih karena sudah mandi dan dengan membawa tempat air penuh berisi.   

Sang pengintai pun segera menuju ke lubang air tersebut. Ia merasa sangat senang ketika melihat sungai bawah tanah yang penuh dengan air. Seluruh warga desa lalu diberitahukan mengenai sumber air milik Bi Baun dan Nai Mat yang ada di hutan. Dalam waktu singkat, semua warga desa berkumpul di sekitar lubang air.

BACA JUGA  Bupati Malaka Mutasi Tenaga Auditor Inspektorat Tanpa Kajian Logis-Analisis

Mereka membuat kesepakatan bahwa lubang air tersebut harus diberi nama Baumata, karena di sana ada banyak air yang ditemukan oleh Bi Baun dan  Nai. Sebagai pengingat untuk pasangan suami istri ini dan jasa mereka,

penduduk desa membuat dua patung, laki-laki dan perempuan. Patung laki laki menggambarkan Nai Mat dan patung perempuan menggambarkan Bi Baun(3)

 Sejak saat itu lubang air itu menjadi sumber air utama yang menopang kehidupan mereka yang tinggal di Baumata

(3) Penduduk Baumata secara rutin membawa sesajen untuk dua patung ini. tetapi sejak 1924 saat penduduk Kristen di Baumata membutuhkan sejumlah uang untuk membangun gedung ibadah yang baru mereka menjual patung itu seharga 100 Nederland Gulden kepada Lembaga Kebudayaan Jakarta. Mereka juga berjanji untuk merawat mata air bawah tanah itu untuk kebaikan bersama masyarakat sekitar. Foto dari kedua patung itu terlihat dalam gambar di atas.

Facebook Coment

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dari Kapela Sto. Yoseph Sublele, Ziarah Arca Bunda Maria Paroki Santa Helena Camplong Dimulai
Menarik Tali Bersama, Menarik Harapan untuk Rumah Ibadah di GMIT Betel Oelusapi – Fatuleu Barat
Tema Komunikasi Sosial Sedunia 2027: Cara Pandang Baru di Era Clickbait
SMA Efata Sulamu Klarifikasi Video Viral, Tiga Siswa Jalani Pembinaan di Polsek
Paus Leo XIV di Paris: “Tak Seorang Pun Hanya Sebuah Angka”
Paus Leo XIV di UNESCO, Perdamaian, Pendidikan, dan Martabat Manusia di Era AI
Kadis Pendidikan NTT Apresiasi Inovasi MKKS SMA Kabupaten Kupang Hadapi TKA 2026
19 Tim Ramaikan Turnamen Voli Milenial Cup I Desa Kalali
Berita ini 48 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:39 WITA

Dari Kapela Sto. Yoseph Sublele, Ziarah Arca Bunda Maria Paroki Santa Helena Camplong Dimulai

Rabu, 30 September 2026 - 11:43 WITA

Menarik Tali Bersama, Menarik Harapan untuk Rumah Ibadah di GMIT Betel Oelusapi – Fatuleu Barat

Rabu, 30 September 2026 - 06:09 WITA

Tema Komunikasi Sosial Sedunia 2027: Cara Pandang Baru di Era Clickbait

Senin, 28 September 2026 - 05:09 WITA

Paus Leo XIV di Paris: “Tak Seorang Pun Hanya Sebuah Angka”

Sabtu, 26 September 2026 - 10:25 WITA

Paus Leo XIV di UNESCO, Perdamaian, Pendidikan, dan Martabat Manusia di Era AI

Berita Terbaru

Gambar Olahan Komisi Komunikasi Sosial Paroki Sta. Helena Camplong

Iman & Gereja

Kebun Anggur Tuhan dan Buah Kehidupan yang Diharapkan-Nya

Sabtu, 3 Okt 2026 - 07:05 WITA

Gambar dihasilkan dengan Kecerdasan Buatan (ChatGPT)

PENDIDIKAN

Modul Belajar Mandiri Uji Pemetaan Kompetensi Guru BINDO

Kamis, 1 Okt 2026 - 10:36 WITA

error: Content is protected !!