Asal-Usul Nama BAUMATA

- Editor

Selasa, 24 Januari 2017 - 06:49 WITA

URL berhasil dicopy

URL berhasil dicopy

Legenda Nama Kampung Baumata  

 (Ditulis kembali dari buku Dr. P. Middelkoop. Atoni Pah Meto. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1992, 180-182).
Oleh Pdt. Eben Nuban Timor   

Setiap tahun, pada musim kering, di Baumata terjadi kekeringan yang luar biasa. Orang-orang yang tinggal di Baumata perlu berjalan berkilo-kilo meter jauhnya untuk mendapatkan air.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Baumata hiduplah sepasang suami istri. Sang istri bernama Bi Baun sedangkan suaminya adalah  Nai Mat.   

Pada suatu pagi hari, Bi Baun sedang menenun kain adat, tiba-tiba setitik air jatuh ke atasnya. Dia sangat terkejut dan marah karena pada saat itu tidak hujan.

Dari mana asalnya air yang jatuh tersebut ia bertanya-tanya.    Keesokan paginya, ia melakukan ritual yang sama yaitu menenun. Lalu dia melihat ada seekor  burung kecil yang terbang di atasnya dengan membawa air.

Darimana burung tersebut mendapatkan air, ia membatin. Keesokan harinya, di pagi hari, Bi Baun kembali bekerja seperti  biasa, sambil mencari cari lokasi dari burung yang dilihatnya. Dan dia menemukan sebuah kubangan kecil berisi air di mana burung itu sedang minum air.

Burung itu lalu terbang dengan meneteskan setitik air ke tangan Bi Baun.    Bi Baun mendekati kubangan air kecil itu dan menjadi sangat terkejut karena ia menemukan sebuah sungai besar yang mengalir di bawahnya.

Ia lalu berlari cepat ke arah rumahnya untuk memberitahukan apa yang baru saja dilihatnya kepada suaminya. Suaminya mendekati lubang air itu dan memindahkan batu besar yang menutupi lubang air itu sehingga mereka dapat turun ke  bawah dan mendekati aliran sungai yang ada di bawahnya.

Beberapa meter di bawah permukaan tanah mereka menemukan air yang mengalir deras seperti sungai. Mereka berdua merahasiakan hasil penemuan ini. Pasangan ini merasa sangat senang karena mereka tidak lagi harus berjalan jauh untuk mendapatkan air untuk kebutuhan rumah tangga.    

Para tetangga mulai merasa curiga kepada pasangan suami istri bi Baun dan Nai Mat karena mereka tidak pernah lagi nampak ikut pergi mengambil air bersama. Suatu hari seorang tetangga mencoba membuntuti Bi Baun yang bangun pagi-pagi dan berjalan ke tengah hutan dengan membawa tempat air di atas kepalanya.

Setelah berjalan beberapa meter, ia tiba-tiba menghilang. Bi Baun masuk ke dalam lubang air. Beberapa waktu kemudian ia keluar dalam keadaan bersih karena sudah mandi dan dengan membawa tempat air penuh berisi.   

Sang pengintai pun segera menuju ke lubang air tersebut. Ia merasa sangat senang ketika melihat sungai bawah tanah yang penuh dengan air. Seluruh warga desa lalu diberitahukan mengenai sumber air milik Bi Baun dan Nai Mat yang ada di hutan. Dalam waktu singkat, semua warga desa berkumpul di sekitar lubang air.

Mereka membuat kesepakatan bahwa lubang air tersebut harus diberi nama Baumata, karena di sana ada banyak air yang ditemukan oleh Bi Baun dan  Nai. Sebagai pengingat untuk pasangan suami istri ini dan jasa mereka,

penduduk desa membuat dua patung, laki-laki dan perempuan. Patung laki laki menggambarkan Nai Mat dan patung perempuan menggambarkan Bi Baun(3)

 Sejak saat itu lubang air itu menjadi sumber air utama yang menopang kehidupan mereka yang tinggal di Baumata

(3) Penduduk Baumata secara rutin membawa sesajen untuk dua patung ini. tetapi sejak 1924 saat penduduk Kristen di Baumata membutuhkan sejumlah uang untuk membangun gedung ibadah yang baru mereka menjual patung itu seharga 100 Nederland Gulden kepada Lembaga Kebudayaan Jakarta. Mereka juga berjanji untuk merawat mata air bawah tanah itu untuk kebaikan bersama masyarakat sekitar. Foto dari kedua patung itu terlihat dalam gambar di atas.

Facebook Coment

0 tanggapan untuk “Asal-Usul Nama BAUMATA”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ancaman El Nino 2026, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrim
Proyek Revitalisasi Sekolah di NTT, Anggaran Capai Rp589 Miliar
Komisi X DPR Usul Gaji Minimal Guru Rp 5 Juta, Bonnie Triyana: Anggaran Kita Cukup
Starlink Masuk Desa: SMPN 1 Fatuleu Barat Libas Kendala Sinyal saat TKA
Cegah Kebocoran Data, Kemendikdasmen Luncurkan Program Bug Bounty 2026
Atambua Menyala! Festival Obor Perdamaian 2026: Pesan Toleransi dari Tapal Batas untuk Dunia
Kasus Dana BOS SMAN 3 Kupang: Menanti Gelar Perkara Penetapan Tersangka
Rayakan Valentine, Legislator PSI Ajak Siswa & Warga Fatuleu Barat Tanam Pohon
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 08:35 WITA

Ancaman El Nino 2026, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrim

Selasa, 14 April 2026 - 13:15 WITA

Proyek Revitalisasi Sekolah di NTT, Anggaran Capai Rp589 Miliar

Selasa, 14 April 2026 - 05:02 WITA

Komisi X DPR Usul Gaji Minimal Guru Rp 5 Juta, Bonnie Triyana: Anggaran Kita Cukup

Sabtu, 11 April 2026 - 00:05 WITA

Starlink Masuk Desa: SMPN 1 Fatuleu Barat Libas Kendala Sinyal saat TKA

Rabu, 8 April 2026 - 13:41 WITA

Cegah Kebocoran Data, Kemendikdasmen Luncurkan Program Bug Bounty 2026

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Tuhan dalam Keseharian

Sabtu, 18 Apr 2026 - 06:16 WITA

MATA BERITA

Ancaman El Nino 2026, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrim

Kamis, 16 Apr 2026 - 08:35 WITA

MATA BERITA

Proyek Revitalisasi Sekolah di NTT, Anggaran Capai Rp589 Miliar

Selasa, 14 Apr 2026 - 13:15 WITA

error: Content is protected !!
Exit mobile version