Tak Sekadar Ngonten: Strategi Komsos agar Pesan Gereja Menjangkau Dunia
PONTIANAK, 29 Mei 2026 — Menghasilkan konten yang menarik dan menguasai teknologi informasi, termasuk kecerdasan buatan, belumlah cukup bagi para pegiat media Gereja Katolik. Langkah berikut yang tak kalah penting adalah membangun jaringan diseminasi yang luas agar pesan yang diwartakan tidak berhenti di lingkup internal.
Tantangan ini menjadi perhatian utama para pegiat Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) dari berbagai keuskupan di Indonesia. Mereka dituntut tidak hanya memperkuat media internal, tetapi juga menjalin relasi yang erat dengan media arus utama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Hal tersebut mengemuka dalam hari kelima Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, Sabtu (30/05/2026). Kegiatan ini diikuti oleh utusan dari 18 keuskupan se-Indonesia. Para peserta, khususnya generasi muda, juga menjalani evaluasi atas karya praktik mereka berupa podcast, video pendek, konten kreatif, dan liputan jurnalistik.
Sekretaris Komisi Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng, menegaskan bahwa pegiat komunikasi Gereja tidak boleh terkungkung dalam “menara gading” media internal semata. Menurutnya, sinergi dengan media arus utama menjadi kunci agar pesan Gereja dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Ia menjelaskan, tidak semua konten harus keluar dari lingkup internal. Namun, banyak pula konten Gereja yang memiliki nilai universal dan layak diperkenalkan ke tingkat nasional bahkan internasional. Karena itu, Komsos perlu mulai memikirkan produksi konten dalam bahasa asing, setidaknya bahasa Inggris, agar mampu menjangkau dunia.
Pandangan serupa disampaikan jurnalis Katolik Gabriel Abdi Susanto. Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam produksi dan publikasi konten. Menurutnya, banyak karya Gereja yang bernilai, tetapi belum dikenal luas karena kurangnya publikasi yang berkelanjutan.
Konsistensi, menurutnya, akan membantu membangun loyalitas pembaca. Selain itu, pemanfaatan media sosial dengan pendekatan storytelling menjadi strategi efektif untuk menjangkau audiens, khususnya di daerah, karena lebih mudah dipahami dan menarik.
Sementara itu, jurnalis senior Kornelius Purba mengingatkan bahwa jurnalisme Gereja tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan harapan. Ia menegaskan pentingnya karya jurnalistik yang humanis dan berorientasi pada kabar baik sebagai wujud pewartaan nilai-nilai Kristiani.
Ia juga mendorong agar para pegiat Komsos mengangkat kisah dari sudut pandang “orang kecil”. Pendekatan ini dinilai mampu menghadirkan cerita yang lebih menyentuh dan membangun empati pembaca.
Evaluasi Karya dan Pembelajaran
Dalam sesi kelas jurnalistik, hasil liputan peserta ditayangkan dan dibedah bersama mentor. Salah satu tantangan utama yang dihadapi peserta pemula adalah menyusun kalimat yang efektif, memahami struktur tulisan, serta mengolah hasil wawancara dan reportase menjadi karya yang utuh.
Di kelas podcast, para mentor menekankan pentingnya kemampuan host dalam membangun percakapan yang hidup. Podcast yang baik bukan sekadar daftar pertanyaan, tetapi dialog yang mampu menggali pengalaman dan emosi narasumber sehingga pendengar merasa terlibat.
Pada kategori konten kreatif, perhatian diberikan pada keselarasan antara narasi, visual, dan audio. Meski ide yang dihasilkan cukup menarik, masih ditemukan kelemahan teknis seperti konsistensi format, kualitas audio, penggunaan subtitle, dan pemilihan gambar yang mendukung pesan.
Sementara itu, dalam kategori video pendek, peserta diajak memahami karakter film dokumenter. Video dokumenter tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menggali konflik, nilai, dan makna yang lebih dalam. Para peserta dinilai masih berada pada tahap awal, dengan karya yang cenderung informatif, belum menampilkan sudut pandang yang kuat.
Belajar dari Tahap Awal
Sebagian besar peserta mengakui bahwa mereka masih berada pada tahap pemula dalam produksi konten yang lebih serius. Selama ini, mereka terbiasa membuat konten mengikuti tren media sosial tanpa konsep yang matang.
Melalui pelatihan ini, mereka memperoleh pemahaman baru bahwa kualitas konten tidak hanya ditentukan oleh kreativitas, tetapi juga oleh kemampuan mengemas pesan secara jelas, membangun alur cerita, dan menciptakan keterlibatan emosional.
Pembelajaran ini menjadi langkah awal yang penting bagi para pegiat Komsos untuk tidak sekadar “ngonten”, tetapi sungguh menghadirkan karya komunikasi yang bermakna, membangun, dan mampu menjangkau dunia.
Penulis : Tim Media PKSN
Editor : Del
Sumber Berita: Mirifica