Perempuan Mollo, Adat, dan Spiritualitas Maria

Perempuan Mollo, Adat, dan Spiritualitas Maria *

Pendahuluan

Budaya Mollo di Timor Tengah Selatan menampilkan relasi yang kompleks antara adat patriarkal, peran domestik perempuan, dan ekspresi spiritualitas Katolik. Dalam konteks ini, perempuan menempati posisi strategis sekaligus ambivalen: dihormati dalam pelaksanaan ritus adat, namun seringkali dikesampingkan dalam ruang keputusan. Penelitian ini mengintegrasikan data dari berbagai wawancara lapangan dan pengamatan etnografis untuk menelaah bagaimana perempuan Mollo menjalankan peran dalam masyarakat adat, serta bagaimana devosi kepada Bunda Maria menjadi kanal ekspresi iman yang khas dan terkadang paradoksal.

Perempuan dalam Struktur Sosial dan Adat

Secara umum, perempuan Mollo menjalankan tugas-tugas domestik seperti memasak, menenun, mengasuh anak, dan menjaga rumah tua (umek bubu). Dalam ritus adat, mereka memainkan peran simbolik dan ritualistik—misalnya memegang dulang sirih-pinang saat penyambutan tamu atau menyiapkan kain tenun dalam acara pernikahan. Perempuan juga ditunjuk sebagai Bife Ainaf, figur tua yang menentukan takaran makanan dalam pesta adat.
Namun demikian, pengambilan keputusan adat tetap menjadi domain laki-laki. Natoni dan proses-proses linguistik-resmi adat menggunakan bahasa khas yang hanya dikuasai laki-laki. Narasi ini memperlihatkan adanya pembedaan peran yang kaku: perempuan boleh tampil dalam estetika dan logistik adat, tetapi dibatasi dalam struktur wacana dan otoritas.

BACA JUGA  Kesiapan Festival Budaya Melas/Larik Riung dan Sagi So’a Capai 90%

Devosi kepada Bunda Maria

Bagi sebagian besar umat Katolik di Mollo, Bunda Maria dipandang sebagai figur spiritual yang dekat, penuh kasih, dan menjadi tempat berdoa dalam kesulitan. Doa Rosario, Legio Maria, dan ziarah menjadi bentuk devosi yang umum, terutama pada bulan Mei dan Oktober. Namun dari hasil penelitian di Desa Huetalan dan wawancara dengan beberapa tokoh, tampak bahwa devosi ini cenderung bersifat formalistik dan belum menyentuh kesadaran transformatif terhadap martabat perempuan.
Hanya beberapa individu, seperti Maria Bifel dan Novi Tasau, yang menunjukkan pemaknaan rohani lebih dalam terhadap Maria sebagai simbol ketabahan, kasih ibu, dan kesetiaan. Sayangnya, devosi kepada Bunda Maria belum secara luas memengaruhi perubahan sosial terkait penghormatan terhadap perempuan, terutama dalam struktur patriarkal adat.

BACA JUGA  Tradisi Nikah Adat & Nikah Gereja Pada Masyarakat Rote

Relasi Gender dan Kekerasan terhadap Perempuan

Relasi antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga seringkali tidak seimbang. Perempuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang jauh lebih banyak, bahkan setelah bersama-sama pulang dari kebun. Dalam konteks komunikasi, perempuan dianggap kurang cakap berpikir dan karenanya pandangan mereka kerap diabaikan oleh laki-laki.
Fenomena kekerasan terhadap perempuan muncul dalam bentuk KDRT, kawin paksa, dan pengabaian suara perempuan. Meskipun penyelesaian secara adat seperti Kunlen dan Lolo Suif menyediakan ruang rekonsiliasi, namun penyelesaian tersebut lebih menekankan damai sosial ketimbang keadilan bagi korban. Proses ini tidak memberi efek jera kepada pelaku dan malah berisiko merawat siklus kekerasan dalam diam.

Perubahan Sosial dan Peran Publik Perempuan

Meski adat bersifat patriarkal, transformasi sosial perlahan terjadi. Perempuan mulai tampil sebagai pemimpin desa, sekretaris dusun, guru agama, bahkan caleg. Hal ini didorong oleh meningkatnya akses pendidikan dan pengakuan terhadap kompetensi individual.
Namun perlu dicatat, perempuan tetap menghadapi dilema identitas—misalnya kehilangan marga setelah menikah atau menjaga rumah tua sambil menerima subordinasi simbolik. Bahkan pekerjaan tenun yang memiliki nilai budaya tinggi tetap dipandang rendah karena dilakukan oleh perempuan.

BACA JUGA  Fatu Santian & Perjuangan Funan Nuban di Oemofa

Spiritualitas, Ekofeminisme, dan Alam

Dalam wawancara dengan tokoh adat dan masyarakat, muncul narasi ekofeminisme lokal: alam (khususnya Gunung Mutis) dipersonifikasikan sebagai ibu yang memberi kehidupan, merawat dan menumbuhkan. Pandangan ini mencerminkan analogi spiritual antara ibu, perempuan, dan alam sebagai pemberi kehidupan, dan membuka ruang teologis yang kaya untuk reinterpretasi peran perempuan dalam ekologi dan liturgi.

Kesimpulan

Perempuan Mollo hidup dalam ketegangan antara penghormatan adat dan subordinasi struktural. Mereka berperan penting dalam pelestarian budaya, logistik adat, spiritualitas rumah tangga, dan kegiatan gerejawi. Namun, penghormatan kepada Bunda Maria belum sepenuhnya menginspirasi gerakan sosial atau kesadaran kolektif terhadap kesetaraan gender.
Untuk itu, dibutuhkan pendekatan teologi kontekstual dan praksis pastoral yang mampu:

    • Mengangkat devosi Maria sebagai dasar pemuliaan martabat perempuan.
    • Menggugah kesadaran ekologis dan ekofeminisme lokal.
    • Mendorong reformasi kultural dalam adat yang membuka ruang setara bagi perempuan tanpa meniadakan akar budayanya.