Kita hendaknya ingin bertemu dengan orang lain untuk berdoa, menyanyi, akan tetapi ketika kita diminta untuk membagikan apa yang kita memiliki dengan mereka yang kurang beruntung tiba-tiba semangat religius kita tiba-tiba padam? Yohanes Pembaptis berkata, “Barangsiapa yang mempunyai dua helai baju hendaknya ia membagikannya dengn orang tidak punya.” Yesus berkata banyak kepada murid-murid-Nya, “Barang siapa yang ingin mengambil bajumu, berikanlah juga jubamu” (Luk: 6: 29). Kelompok kedua datang kepada Yohanes Pembaptis adalah orang yang berdosa, mereka adalah para pemungut pajal. Mengapa mereka mnjadi kaya? Mereka memberikan sejumlah uang kepada pemerintah. Lalu mereka memaksa rakya untuk membayar lebih, dan mengambil keuntungan. Yohanes Pembatis mengatakaen kepada mereka untuk tidak mengeksploitasi orang miskin.
Apakah kita seperti me eka? Jika kita memiliki sesuatu dan seseorang sangat membutuhkannya, apakah yang harus kita buat? Bukankah kita men jualnya seberapanpun yang kita bisa dapatkan uang?
Kelompak ketiga yang datang kepada Yohanes Pembatis adalah tentara-tentara. Kita membayangkan bahwa mereka datang kepada Yohanes untuk mengatakan kepada mereka untuk mengerjakan kesibukan mereka. Johanes bersikap toleran, Yesus melarang penderitaan dan yang sejenisnya. Ia akan mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga pipi kirimu” (Mat. 5: 39).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gaji tentara pada waktu itu gajinya sangat kecil. Mereka menggunakan senjata merek untuk memeras rakyat, untuk meminta uang. Yohanes pembaptis berkata kepada mereka agar tidak memaksa setiap oang dan harus “puas dengan gajinya”.
Apa yang kita bisa belajar dari disini? Tentara bertahan mempertahan posisi mereka. Apakah kita tidak suka kita mengambil keuntungan dari jabatan kita?







