Renungan Katholik Minggu Adventus II

BERITA9 Dilihat

Pada tempat pertama penyelamatan kelihatan dalam kembalinya bangsa Israel ke kota Yerusalem. Penginjil Lukas di dalam perikop bacaan hari Minggu kedua Adventus ini menjelaskan tentang bagaimana janji keselamatan terpenuhi dalam diri nabi-nabi yang benar…la mengatakan kapada kita bahwa “semuanya itu akan terjadi ketika Sabda ALLAH ditujukan kepada seseorang yang namanya Yohanes, putera Zakarias, di padang gurun. Bacaan kedua Paulus merujuk pada sukacita karena Allah ketika ia mengatakan kepada kita tentang “hari Tuhan”, mendatangi seluruh hidup kita.

Kotbah HARI MINGGU ADVEN II/C2
Bar 5: 1-9; Mzm. 84: 2-3.5-6.9-10; Fil.1: 4-6.8-11; Luk. 3: 1-6
Oleh RD. ANSEL LEU – Pastor Paroki Sta. Helena Camplong

Seorang wanita yang kehilangan suami dan atau anak-anknya ia akan mengungkapkan kesedihannya dengan memakai kain kabung menutup kepala dengan kerudung dan duduk di debu tanah. Ia akan menolak untuk mempersiapkan makan kepada siapapun. Bacaan pertama yang diambil dari kitab Baruk meembandingkan kota Yerusalem dengan seorang janda yang telah dirampas habis-habisan dan ia sedang berkabung. Kerajaan Babilon telah mengalahkan bangsa Israel, menghacurkan kota dan membunuh penduduknya dan yang masih hidup ditawan.

Banyak tahun berlalu, muncullah seorang nabi yang membawa berita besar dengan mengatakan, “Yerusalem, Yerusalem, penderitaanmu sudah berakhir. Bukalah kain kabungmu, kenakanlah beban yang ringan. Tuhan akan memahkotaimu dengan mahkota kegembiraan, dan segala bangsa akan memandang keindahanmu. Maka Yerusalem sebagai wanita cantik dan bahkan menjadi gadis yang sangat menarik (ay 1-3).

Baca Juga  Kotbah Katolik Minggu Adventus II
RD. Ansel Leu – Pastor Paroki Sta. Helena Camplong

Nabi berkata kepada Yerusalem untuk tidak lagi duduk di abu, akan tetapi segera berdiri dan berlari ke puncak gunung, memandang ke bukit timur. Karena anakmu akan datang! Ketika engkau melihat mereka pergi dalam keadaan dihina, disiksa, dibunuh, diborgol karena dikalahkan oleh musuh, akan tetapi sekarang mereka kembali. Pencemoohan mereka telah menjadi hamba mereka (ay 5-6).

ALLAH meratakan setiap gunung dan bukit dan menimbun setiap lembah, maka Israel akan kembali ke pangkuan ibundanya, Yerusalem. Semua pohon akan menundukkan kepalanya menghormati datagnya semua tawanan perang. ALLAH sendirilah yang memimpin mereka, seperti la telah menyertai leluhur mereka kembali dari Mesir.

Yerusalem diberi nama baru , “Damai keadilan” dan “Sukacita ALLAH yang Mahabaik” (ay 4). Nama itu menunjukkan pada kenyataan yang baru, “saya akan menjadi damai segala damai, dan menjadi damai bagi mereka yang tertindas. Ia akan menjadi “Damai bagi ALLAH yang Maha tinggi” sebab saya tidak akan menjadi terkenal secara politis dan karena kesuksesan militer, akan tetapi bagi orang yang percaya kepada ALLAH.

Baca Juga  Relawan Orang Muda Ganjar bagi Herbisida di Desa Poto

Jika seseorang menanyakan kepada kita untuk memberi nama bagi Negara kita atau Gereja kita, atau keluarga kita bagaimana kita akan menamakannya? Akankah kita menamakannya sebagai Negara Damai, Keluarga Damai, Komunitas Damai? Negara, keluarga, komunitas yang membagikan keadilan dan cintakasih atau Negara, keluarga, komunitas tempat perselisihan, kecemburuan?

Injil Lukas berceritera tentang Yesus di depan publik dengan memperkenalkan pemimpin politik dan pemimpin Agama pada waktu itu. Mengapa penginjil Lukas ingin memberikan informasi yang akurat? Setelah introduksi historis, Lukas menggunakan bahasa yang santun untuk menghadirkan Yohanes Pembaptis. Kehadirannya menceriterakan kepada kita bahwa ALLAH tidak melupakan kita. Padang gurun adalah tempat orang yang mengalami tekanan sosial.

Orang Katotik juga dapat hidup di padang gurun, menjadi orang asing di negerinya sendiri. Mereka yang tidak dapat berpikir dan bericara seperti orang lain. Ketika orang sedang berbicara tentang perang, ia berbicara tentang damai dan pengampunan. Ketika kebahagian seseorang didasarkan pada uang dan harta kekayaan mereka berbicara tentang berbahagialah orang miskin karena mereka akan memiliki Kerajaan ALLAH. Ketika terjadi eksploitasi orang yang miskin dan tertindas mereka berbicara tentang pelayanan dan membagikan kepunyaan mereka kepada orang yang menderita.

Baca Juga  Renungan Katholik Minggu Adven IV || RD. Alex Kobesi

Maka Lukas menggunakan sebuah ungkapan dari Nabi Yesaya untuk menjelaskan pekerjaan Yohanes Pemandi: “Siapkanlah jalan bagi Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya” (ay 4). Lukas menambahkan lagi, “Setiap Lembah harus ditimbun dan setiap gunung dan bukit harus diratakan dan semua bangsa akan melihat keselamatan yang datang dari ALLAH” (5:26).

Yohanes Pembaptis membantu kita untuk mempersiapkan natal yang Baik. Ia tidak menggunakan waktunya untuk makan bersama dan berceritera bersama dengan orang lain. la kelihatannya menentang setiap orang. la menyampaikan ancaman-ancaman. Kita membutuhkan seseorang seperti Yohanes Pembaptis untuk hidup lebih serius, untuk menolak setan, dan tetap berdiri tegak dengan kuat ketika mereka tidak berlaku adil. Apakah gunung dan bukit memisahkan hidup kita? Bisakah gunung-gunung itu diratakan dan lembah-lembah itu ditimbun?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 komentar