Mendidik APA ADANYA bukan ADA APANYA

- Editor

Jumat, 18 Oktober 2024 - 23:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sementara itu, Karol Wojtyla melakukan studi tentang tindakan manusia dengan niat untuk mencapai dasar struktur dari pribadi manusia. Dalam usahanya ini, ia menggunakan metode fenomenologis dan berusaha untuk merenovasi struktur metafisik yang dapat memahami manusia. Filosofi yang diusung oleh Wojtyla, dalam konteks ini, berupaya untuk menyatukan filosofi tradisional dengan beberapa pendekatan yang dijelaskan dalam pemikiran kontemporer, terutama dari segi fenomenologis.

Dengan menggabungkan fenomenologi dan metafisika, dan dengan mempertimbangkan bahwa metafisika bertujuan untuk mengatasi fenomenologi, Wojtyla berupaya menunjukkan bagaimana kita dapat mengenali pribadi manusia melalui tindakannya. Pemahaman terhadap tindakan ini membuka pintu ke dalam inner seseorang. Dengan cara ini, realitas individu menjadi pendorong bagi pertemuan antara filsafat eksistensi dan filsafat kesadaran. Pengalaman eksternal menjadi istimewa dalam filsafat eksistensi, sementara filsafat kesadaran fokus pada pengalaman internal. Kedua pengalaman ini saling mendukung dalam pemahaman mereka sendiri.(Wojtyla, 2021)

BACA JUGA  Dibuka Sampai akhir Maret, Ini Cara Daftar Implementasi Kurikulum Merdeka bagi Satuan Pendidikan

Dengan pendekatan ini, manusia memiliki kemampuan untuk mengenali aspek-aspek dalam diri mereka sendiri, bukan hanya fenomena-fenomena luar. Pengetahuan tentang realitas dalam diri sendiri dianggap sebagai fakta objektif yang tidak dapat disederhanakan menjadi pengalaman subjektif. Setiap pengalaman memiliki manusia sebagai referensi yang sangat penting, bahkan jika itu adalah pengalaman dari orang lain, karena hal ini dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas terhadap kedua realitas.(Radziechowski, 2023)

BACA JUGA  ini 15 SMP di Kecamatan Fatuleu dan Alamatnya

PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

ads

MURAH! Hubungi 08113810024

Singkatnya, adalah penting untuk menjelaskan langkah-langkah yang dapat memungkinkan kita memahami innerside, martabat, dan eksterior manusia sebagai pribadi. Ini melibatkan penekanan pada kapasitas rasional, refleksi intelektual, individualitas, kemampuan untuk mengejar tujuan, serta peran lembaga pendidikan tinggi dan realitas lain yang membutuhkan dan mendorong kontribusi mendasar dalam proses pendidikan saat ini.

  1. Genesis Pemikiran Karol Wojtyla

Pemikiran Karol Wojtyla dipengaruhi oleh beberapa aliran filosofis yang membentuk metodenya. Ini mencakup struktur Personalisme(Burgos and Allen 2018)[1], yang diperluas oleh pengaruh Thomistik dan Eksistensialisme dalam aspek fenomenologis. Pengaruh khusus datang dari tokoh seperti Garrigou Lagrange, Roman Ingarden, Max Scheler, Martin Buber, Gabriel Marcel, dan Emmanuel Mounier.(Burgos & Allen, 2018) Dalam karyanya, Wojtyla  merancang dan mendukung refleksi filosofisnya dengan fokus khusus pada pencarian struktur mendasar dari pribadi manusia. Ia tidak hanya tertarik pada pertanyaan klasik “Apa itu manusia?”, tetapi lebih suka bertanya, “Siapa manusia?”. Dengan menggunakan metode fenomenologis, ia berusaha untuk mengubah struktur metafisik sehingga manusia dapat dipahami secara menyeluruh. Dengan demikian, karya Wojtyla mencoba untuk menyatukan Filsafat tradisional dengan beberapa aliran pemikiran kontemporer (Gacka, 2021).

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Duka Flores, Goyang “Bosan Hala” dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial
Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi
OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?
FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM
Starlink Masuk Desa: SMPN 1 Fatuleu Barat Libas Kendala Sinyal saat TKA
Bantuan Internet Pusat Buka Isolasi di SD GMIT Nauen
Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor
Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman
Berita ini 57 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Duka Flores, Goyang “Bosan Hala” dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial

Kamis, 16 Juli 2026 - 06:45 WITA

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:49 WITA

OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?

Kamis, 23 April 2026 - 06:32 WITA

FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM

Sabtu, 11 April 2026 - 00:05 WITA

Starlink Masuk Desa: SMPN 1 Fatuleu Barat Libas Kendala Sinyal saat TKA

Berita Terbaru

BERITA

19 Tim Ramaikan Turnamen Voli Milenial Cup I Desa Kalali

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:37 WITA

Iman & Gereja

Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah

Sabtu, 12 Sep 2026 - 08:08 WITA

BERITA

Saling Menegur dalam Kasih: Jalan Menuju Kesucian Hidup

Sabtu, 5 Sep 2026 - 07:38 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan

Sabtu, 29 Agu 2026 - 10:36 WITA

error: Content is protected !!