Mendidik APA ADANYA bukan ADA APANYA

- Editor

Jumat, 18 Oktober 2024 - 23:46 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mendidik APA ADANYA bukan ADA APANYA, Keunikan Pribadi dan Perspektif Pendidikan dari Pemikiran Karol Wojtyla

Oleh RD. Patricius Neonnub, M.Phil – Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Terbit sebagai salah satu artikel dalam Menyisir Kenangan Menyusur Zaman, Ed. Yasintus Runesi, Mario Lawi, Perkumpulan Komunitas Sastra Dusun FLobamora, Kupang: 2024

Pendahuluan

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Antropologi membahas manusia dan kepribadian manusia. Sejak dulu, para ahli telah bekerja keras untuk menjelaskan tentang manusia sebagai individu, makhluk berbahasa, makhluk dialektika, dan sebagainya. Tujuannya adalah mencapai pemahaman maksimal tentang manusia. Bahkan, filsuf Jacques Maritain menyatakan bahwa “seorang manusia adalah keseluruhan yang terbuka dan murah hati.”(Maritain, 1947, p. 64) Perlu diakui bahwa ini bukan tugas yang mudah.

BACA JUGA  Siswa-siswi SMA Sinar Pancasila Betun di Uji Bahasa Inggrisnya Oleh Kapolda NTT

Saat mencari pemahaman tentang manusia secara menyeluruh, para ahli harus menghadapi perdebatan eksistensial dan tantangan epistemologis. Penting dicatat bahwa usaha dari konsep awal hingga ide-ide terbaru dalam Filsafat, Antropologi, Psikologi, dan disiplin ilmu terkait tidak memberikan jawaban pasti. Mereka tidak dapat memberikan gambaran yang jelas tentang siapa sebenarnya manusia, melainkan lebih kepada postulasi yang memberikan gambaran umum tentang subjek yang sangat kompleks ini.(Kostiuchkov & Kartashova, 2022)

Dalam sudut pandang ini, tulisan ini berusaha menganalisis salah satu pendekatan ini dengan memaparkan pemahaman menyeluruh tentang manusia, sebagaimana diungkapkan oleh pemikiran filsuf Karol Wojtyla. Wojtyla melihat individu manusia sebagai satu-satunya yang memiliki kemampuan untuk merenungkan kehidupannya sendiri, memiliki otonomi.

BACA JUGA  Perlukah ANAK dibatasi dalam Bermedia Sosial?

Dia juga membedakan manusia dengan kemampuannya untuk memberikan makna pada sesuatu, menggunakan bahasa, dan membentuk pemahaman kognitif tentang realitas. Oleh karena itu, manusia dapat mengalami perubahan dan transformasi yang berkelanjutan seiring perubahan dalam lingkungan sekitarnya(Gella & Gella, 2021).

Pemahaman ini memiliki signifikansi besar bagi masyarakat secara umum, karena pribadi seseorang menjadi titik acuan untuk memahami tempat individu itu dalam dunia. Di sini, perhatian khusus diberikan kepada manusia kontemporer, yang menjadi fokus penting dalam berbagai aliran pemikiran saat ini. Kontribusi ini menekankan pemahaman bahwa realitas manusia memiliki perbedaan dengan realitas benda dan hewan.

Ini berarti bahwa manusia tidak dapat disederhanakan menjadi sekadar satu spesies individu, seperti yang dijelaskan dalam Filsafat Yunani kuno dan Filsafat Modern. Pada saat yang sama, pribadi manusia berperan sebagai subjek dan objek dari tindakan.(Wojtyla, 2021)

BACA JUGA  Lembar Kerja Siswa Pendidikan Agama Katholik SMP Kelas VII

Konsep pribadi (persona) dipahami, sesuai dengan ide Boethius, sebagai entitas yang memiliki substansi dengan kualitas rasional dan individual. Boethius menyoroti bahwa setiap individu dibentuk oleh sifat rasional yang benar-benar membawa substansi individu, yang bersifat konkret dan non-subyektif, eksis dalam dan dengan dirinya sendiri(Burgos & Allen, 2018).

Dalam setiap manusia, individualitasnya adalah bagian dari kepribadiannya yang membentuk materi, yakni tubuh yang diberi kehidupan oleh roh. Oleh karena itu, “pribadi manusia adalah satu kesatuan; suatu keseluruhan, dan bukan bagian dari keseluruhan.”(Bertens, 2018, p. 28)

Facebook Coment

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Modul Belajar Mandiri Uji Pemetaan Kompetensi Guru BINDO
SMA Efata Sulamu Klarifikasi Video Viral, Tiga Siswa Jalani Pembinaan di Polsek
Duka Flores, Goyang “Bosan Hala” dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial
Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi
OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?
FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM
Starlink Masuk Desa: SMPN 1 Fatuleu Barat Libas Kendala Sinyal saat TKA
Bantuan Internet Pusat Buka Isolasi di SD GMIT Nauen
Berita ini 62 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:36 WITA

Modul Belajar Mandiri Uji Pemetaan Kompetensi Guru BINDO

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Duka Flores, Goyang “Bosan Hala” dan Jebakan Kacamata Hitam Media Sosial

Kamis, 16 Juli 2026 - 06:45 WITA

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:49 WITA

OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?

Kamis, 23 April 2026 - 06:32 WITA

FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM

Berita Terbaru

Gambar Olahan Komisi Komunikasi Sosial Paroki Sta. Helena Camplong

Iman & Gereja

Kebun Anggur Tuhan dan Buah Kehidupan yang Diharapkan-Nya

Sabtu, 3 Okt 2026 - 07:05 WITA

Gambar dihasilkan dengan Kecerdasan Buatan (ChatGPT)

PENDIDIKAN

Modul Belajar Mandiri Uji Pemetaan Kompetensi Guru BINDO

Kamis, 1 Okt 2026 - 10:36 WITA

error: Content is protected !!