Sementara itu, Karol Wojtyla melakukan studi tentang tindakan manusia dengan niat untuk mencapai dasar struktur dari pribadi manusia. Dalam usahanya ini, ia menggunakan metode fenomenologis dan berusaha untuk merenovasi struktur metafisik yang dapat memahami manusia. Filosofi yang diusung oleh Wojtyla, dalam konteks ini, berupaya untuk menyatukan filosofi tradisional dengan beberapa pendekatan yang dijelaskan dalam pemikiran kontemporer, terutama dari segi fenomenologis.
Dengan menggabungkan fenomenologi dan metafisika, dan dengan mempertimbangkan bahwa metafisika bertujuan untuk mengatasi fenomenologi, Wojtyla berupaya menunjukkan bagaimana kita dapat mengenali pribadi manusia melalui tindakannya. Pemahaman terhadap tindakan ini membuka pintu ke dalam inner seseorang. Dengan cara ini, realitas individu menjadi pendorong bagi pertemuan antara filsafat eksistensi dan filsafat kesadaran. Pengalaman eksternal menjadi istimewa dalam filsafat eksistensi, sementara filsafat kesadaran fokus pada pengalaman internal. Kedua pengalaman ini saling mendukung dalam pemahaman mereka sendiri.(Wojtyla, 2021)
Dengan pendekatan ini, manusia memiliki kemampuan untuk mengenali aspek-aspek dalam diri mereka sendiri, bukan hanya fenomena-fenomena luar. Pengetahuan tentang realitas dalam diri sendiri dianggap sebagai fakta objektif yang tidak dapat disederhanakan menjadi pengalaman subjektif. Setiap pengalaman memiliki manusia sebagai referensi yang sangat penting, bahkan jika itu adalah pengalaman dari orang lain, karena hal ini dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas terhadap kedua realitas.(Radziechowski, 2023)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Singkatnya, adalah penting untuk menjelaskan langkah-langkah yang dapat memungkinkan kita memahami innerside, martabat, dan eksterior manusia sebagai pribadi. Ini melibatkan penekanan pada kapasitas rasional, refleksi intelektual, individualitas, kemampuan untuk mengejar tujuan, serta peran lembaga pendidikan tinggi dan realitas lain yang membutuhkan dan mendorong kontribusi mendasar dalam proses pendidikan saat ini.
- Genesis Pemikiran Karol Wojtyla
Pemikiran Karol Wojtyla dipengaruhi oleh beberapa aliran filosofis yang membentuk metodenya. Ini mencakup struktur Personalisme(Burgos and Allen 2018)[1], yang diperluas oleh pengaruh Thomistik dan Eksistensialisme dalam aspek fenomenologis. Pengaruh khusus datang dari tokoh seperti Garrigou Lagrange, Roman Ingarden, Max Scheler, Martin Buber, Gabriel Marcel, dan Emmanuel Mounier.(Burgos & Allen, 2018) Dalam karyanya, Wojtyla merancang dan mendukung refleksi filosofisnya dengan fokus khusus pada pencarian struktur mendasar dari pribadi manusia. Ia tidak hanya tertarik pada pertanyaan klasik “Apa itu manusia?”, tetapi lebih suka bertanya, “Siapa manusia?”. Dengan menggunakan metode fenomenologis, ia berusaha untuk mengubah struktur metafisik sehingga manusia dapat dipahami secara menyeluruh. Dengan demikian, karya Wojtyla mencoba untuk menyatukan Filsafat tradisional dengan beberapa aliran pemikiran kontemporer (Gacka, 2021).
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya