Dalam kajiannya tentang kesadaran, Karol Wojtyla memperlihatkan perbedaan makna antara kata sifat “sadar” dan kata benda “kesadaran”. Kata sifat “sadar” digunakan untuk merujuk pada tindakan manusia dan kehidupan yang disengaja, yang diarahkan pada objek yang menjadi fokus perhatian kita, sehingga menjadi atribut dari tindakan itu sendiri. Sementara itu, kata benda “kesadaran” pertama-tama mengacu pada dimensi “reflektif” dari kesadaran, yang dapat terlihat dalam tindakan sadar manusia. Yang kedua, dalam konteks kesadaran sebagai kata benda, menunjukkan ketika seseorang hidup dalam aspek “reflektif” dari kesadaran, di mana manusia secara sadar mengalami ego dan memiliki pengetahuan penuh tentang dirinya dan subjektivitasnya. Ini mencakup dalam kehidupan dan pribadi manusia yang otentik, yaitu, “kesadaran yang mencerminkan tindakan manusia dengan cara yang khas”.(Wojtyla, 2021, p. 45)
2.1 Kesadaran dan Tindakan Manusia
Dengan memperdalam pengalaman tentang dinamika tindakan seseorang, kita dapat memahami kesadaran yang memanifestasikan dirinya melalui tindakan manusia.(Hołub & Mazur, 2017) Dengan memungkinkan pengetahuan melalui tindakan yang sama, kesadaran memiliki fungsi ganda dalam memahami diri sebagai penyebab tindakan sendiri. Dengan demikian, kita memulai dari tindakan manusia untuk mencapai struktur dasar individu. Dalam konteks ini, Karol Wojtyla menegaskan: “Tindakan memberikan akses terbaik bagi kita untuk menembus esensi intrinsik seseorang dan memungkinkan kita mencapai tingkat pengetahuan sebanyak mungkin tentang individu tersebut. Kita mengalami manusia sebagai pribadi…”(Wojtyla, 2021, p. 42).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa kesadaran memiliki fungsi refleksi dan refleksivitas, sehingga tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang mutlak dan tanpa batas. Individu mampu melakukan refleksi diri terhadap tindakan mereka sendiri, yang berakar dalam kesadaran, dan memiliki pengalaman mendasar bahwa mereka menjadi sumber dari tindakan mereka sendiri. Ketika kesadaran mengasah refleksivitas ini, hal ini memungkinkan individu untuk lebih memahami tindakan mereka dan interioritas mereka sendiri. Dengan pendekatan ini, Wojtyla berusaha membedakan kesadaran dalam konteks tindakan manusia, dan menunjukkan bagaimana hal tersebut tersirat dalam tindakan tersebut: dan dari situ, menjadi mungkin untuk mengetahui individu secara menyeluruh.(Rassudina, 2019)
UNDUH FILE PDF :