TIMOR TENGAH SELATAN (muhammadiyah.or.id) – Pendidikan Muhammadiyah membuktikan diri sebagai pilar inklusivitas di tanah Timor. Di SD Muhammadiyah Mnelabesa, Desa Tli’u, Kecamatan Amanuban Timur, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), toleransi bukan sekadar pemanis kata, melainkan napas kehidupan sehari-hari.
Sekolah yang berdiri sejak 2016 ini menjadi potret nyata kerukunan di tengah keberagaman. Meski membawa label identitas agama tertentu, SD Muhammadiyah Mnelabesa membuka pintu lebar bagi anak-anak dari berbagai latar belakang keyakinan.
Potret Kerukunan di Pedalaman NTT
Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Mnelambesa, Abdul Muntolib Natonis, mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian dari Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Universitas Muhammadiyah (UM) Kupang yang sempat berkunjung ke lokasi pada Selasa (10/2).
Saat ini, sekolah tersebut mendidik 50 siswa. Menariknya, komposisi siswa di sini sangat majemuk:
- 20 Siswa Muslim
- 20 Siswa Kristen
- 10 Siswa Katolik
”Di Desa Tli’u hanya ada dua sekolah dasar, yaitu SD Muhammadiyah Mnelabesa dan SD Negeri Lao. Keduanya menjadi obor bagi masa depan anak-anak di pedalaman ini,” ujar Pak Abdul.
Ada Pelajaran Agama Kristen di Sekolah Muhammadiyah
Bukti paling konkret dari inklusivitas sekolah ini adalah kurikulumnya. Tidak hanya mengajarkan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK), sekolah ini juga menyediakan mata pelajaran Agama Kristen.
Pelajaran ini diampu oleh Defritus Nuban, seorang guru honorer yang telah mengabdi sejak 2017. Pihak sekolah bahkan sedang berupaya menyediakan guru untuk siswa beragama Katolik.
“Untuk Katolik, kemarin kami sudah bertemu Romo dan sudah ada (calon guru), namun saat ini yang bersangkutan belum datang lagi,” jelas Defritus.
Meski hanya lulusan Paket C, semangat Defritus tidak padam. Pria berusia 41 tahun ini kini sedang berjuang mencari peluang untuk melanjutkan studi S1 di FKIP UM Kupang demi meningkatkan kualitas pengajarannya.
Bertahan di Tengah Keterbatasan Fasilitas
Di balik semangat toleransi yang tinggi, kondisi infrastruktur sekolah masih sangat memprihatinkan. Dari enam ruang kelas yang tersedia, dua di antaranya (kelas 1 dan 2) belum memiliki meja dan kursi.
”Anak-anak terpaksa belajar di lantai. Tapi mereka tetap menjalaninya dengan gembira,” ungkap Defritus penuh haru.
Selain fasilitas gedung, akses menuju Desa Tli’u juga menjadi tantangan besar. Berjarak sekitar 166 km dari Kota Kupang, perjalanan menuju sekolah ini harus melewati jalanan rusak dan jembatan putus. Namun, di tengah isolasi geografis tersebut, SD Muhammadiyah Mnelabesa tetap tegak berdiri sebagai simbol indahnya perbedaan di Bumi Cendana.
Sumber: Muhammadiyah.or.id | editor: Del Neonub








