Luput dari Perhatian Pemda Belu, Sejumlah Warga Fohomea Memilih Pasrah Pada Nasibnya

- Editor

Senin, 28 Agustus 2023 - 03:24 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Atambua, News.Matatimor – Net : Kurang lebih 1,9km dari pusat kota Atambua, terdapat salah satu lokasi perkampungan yang dihuni puluhan Kepala Keluarga dan tepatnya di Fohomea, RT 31, Kelurahan Manumutin, Kabupaten Belu sangat memperihatinkan.

Kondisi kehidupan yang sangat amat tidak layak ini luput dari Perhatian Pemerintah, entah apa alasannya hingga keadaan tersebut membuat warga harus pasrah dan menanti janji-janji usang Pemda Belu yang tak kunjung datang.

Bukan saja rumah yang sebagian sudah roboh, namun air bersih dan akses jalan pun menjadi persoalan yang sangat serius dialami sejumlah warga yang ada.

PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

ads

MURAH! Hubungi 08113810024

Terhitung 15 tahun warga Fohomea, tidak tersentuh program pemerintah kabupaten (Pemkab) Belu soal rumah layak huni dan akses jalan serta air bersih.

Perlu diketahui bahwa, Fohomea adalah RT terakhir dari Kelurahan Manumutin, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi NTT.

BACA JUGA  Mendikbudristek: Perkuat Kolaborasi untuk Transformasi Pendidikan Lebih Baik

Tim awak media menelusuri setapak jalan menuju perkampungan tersebut tanpa melewati pemandangan yang jauh dari keramaian hingga menemui Ketua RT 31, Maria Magdalena Mau di kediamannya pada jumat 25 agustus 2023

Kepada media ini, Maria menceriterakan keadaan yang sesungguhnya sambil mengajak awak media untuk melihat secara detail sejumlah rumah yang temboknya sedang di topang dengan kayu bahkan sebagian sudah rubuh.

” selama 15 tahun kami tinggal di Fohomea ini belum ada bantuan berupa rehab rumah, air dan jalan yang baik sedangkan Listrik atas berkat pak kapolres saat ini sudah terang dan kami sangat menyampaikan limpah terima kasih yang tak terhingga atas bantuan listrik ini,” tutur Maria

Dikatakannya, bahwa kondisi rumah warga fohomea sangat memperihatinkan dan sebenarnya tidak layak untuk dihuni.

BACA JUGA  Dewan Pastoral Paroki St. Gregorius Agung Oemofa Periode 2025–2028 Dilantik

Pasalnya, kondisi rumah dengan tanpa slov dan retak hingga sebagian tembok runtuh, bahkan penghuninya siang berada dalam rumah, namun malam harus menginap di tetangga karena kuatir bila terjadi runtuhnya tembok di saat penghuninya sedang tidur.

” selama kami tinggal disini, bantuan yang kami dapat dari dinas Sosial yakni Rastra, dan PKH. Sementara perehaban rumah tidak,” jelasnya.

Tidak sampai disitu, Lanjut Maria, bahwa setiap kali pihaknya selalu mengusulkan ke Pemkab Belu melalui kegiatan Musrembang, namun sama saja hasilnya nihil.

” kami sering usulkan ke Pemkab Belu melalui musrembang tapi sama saja, tidak ada respon positif dari pemerintah,” katanya.

Yang lebih miris, terang Maria, bahwa kondisi rumah yang miring dan bahkan tembok yang runtuh ini, dengan upaya warga menahannya dengan tongkat kayu baik dari dalam rumah maupun luar rumah.

BACA JUGA  Menambal Jalan Berlubang di Pusat Kota Atambua - Belu Dengan Sertu,Dinas PUPR : Untuk Mencegah Lakalantas

” iya kalo kita tidak tongkat dengan kayu maka rumah bisa roboh, bahkan tembok pun bisa jatuh. Ada warga yang siang dia ada dirumah tapi malam dia menginap di rumah tetangga,” tandasnya.

Harapan sebagai ketua RT, agar pemerintah kabupaten (Pemkab) belu untuk coba tengoklah kondisi warga terutama bantuan rumah layak huni.

Saat ini, kata RT Maria, ada 7 rumah yang tidak dihuni oleh warga karena kondisi rumah dengan rusak berat. Sehingga warga memilih untuk mengungsi di rumah tetangganya.

Namun ada juga, yang memilih merantau ke Kalimantan mencari modal untuk memperbaiki rumahnya.

“Saya sebagai ketua RT sungguh sedih dengan kondisi warga yang seperti ini. Kita sudah usulkan terus ke Pemda Belu melalui musrembang namun tetap saja tidak direspon dengan baik,” tutupnya.

Facebook Coment

Tinggalkan Balasan

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Tunjuk Mgr. Walter Erbì sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia dan ASEAN
Jejak Iman Sejak 1942: Uskup Agung Kupang Disambut Adat Lamaholot pada HUT ke-30 Paroki Pariti
Pemerintah Peringatkan Bahaya Ilusi Algoritma Saat Masyarakat Sampaikan Aspirasi
Lengkap! 45 Butir Pancasila dan Contoh Pengamalannya
Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong
Seruan Pastoral KWI: “Bangkit Bersama dalam Pengharapan” di Tengah Krisis Bangsa
200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Keluarga Diminta Jadi Benteng Utama
Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 20:16 WITA

Jejak Iman Sejak 1942: Uskup Agung Kupang Disambut Adat Lamaholot pada HUT ke-30 Paroki Pariti

Sabtu, 13 Juni 2026 - 11:20 WITA

Pemerintah Peringatkan Bahaya Ilusi Algoritma Saat Masyarakat Sampaikan Aspirasi

Senin, 1 Juni 2026 - 08:49 WITA

Lengkap! 45 Butir Pancasila dan Contoh Pengamalannya

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:04 WITA

Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:54 WITA

Seruan Pastoral KWI: “Bangkit Bersama dalam Pengharapan” di Tengah Krisis Bangsa

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII

Sabtu, 25 Jul 2026 - 08:47 WITA

Gambar dokumentasi dan olahan matatimor.net

KOTBAH & RENUNGAN

Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:11 WITA

Gambar dibuat dengan GeminiAI (prompt oleh del neonub)

OPINI

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi

Kamis, 16 Jul 2026 - 06:45 WITA

Foto oleh matatimor

KOTBAH & RENUNGAN

Kekuatan Sabda Allah dan Tanggung Jawab Iman Kita

Sabtu, 11 Jul 2026 - 11:48 WITA

Grafis oleh matatimor.net

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Kedamaian yang Hilang di Tengah Hidup Sehari-hari

Sabtu, 4 Jul 2026 - 07:54 WITA

error: Content is protected !!