Rabu Abu: Makna Debu Tanah dan Perjalanan 40 Hari menuju Kebangkitan

Memaknai Rabu Abu: Dari Debu Kembali ke Debu, Panggilan Pertobatan Sejati

- Editor

Senin, 16 Februari 2026 - 23:11 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kotbah Rabu Abu Oleh Rm. Kris Taus (Komsos Sta. Helena)

Kotbah Rabu Abu Oleh Rm. Kris Taus (Komsos Sta. Helena)

Kotbah Oleh Rm. Jhon Chris Taus – Paroki Sta. Helena Lili – Camplong

MATATIMOR.NET – Hari ini, umat Kristiani merayakan Rabu Abu, menandai hari pertama masa Puasa atau Prapaskah. Perjalanan rohani ini akan berlangsung selama 40 hari, terhitung sejak Rabu Abu hingga Jumat Agung. Berdasarkan kalender liturgi tahun 2026, masa ini berlangsung dari 18 Maret hingga 3 April. Perlu diingat bahwa hari Minggu tidak dihitung sebagai hari puasa karena merupakan hari peringatan Kebangkitan Tuhan.

Mengapa Disebut Rabu Abu?

Disebut Rabu Abu karena dalam perayaan liturginya terdapat upacara pemberkatan abu (yang berasal dari pembakaran daun palma tahun sebelumnya). Abu tersebut kemudian dibagikan kepada umat dalam bentuk tanda salib di dahi.

BACA JUGA  Ubahlah Hatimu! - Kotbah Katolik Minggu Adventus II, 04 Desember 2022

Secara hakikat, abu adalah materi yang kotor, fana, dan sering kali dianggap tak berarti karena diinjak-injak. Namun, debu tanah jugalah yang memberi kita kehidupan, sehingga kita sering menyebutnya sebagai Ibu Pertiwi. Dalam konteks iman, abu memiliki makna mendalam sebagai tanda kerapuhan, kehinaan, keterbatasan, dan simbol kedosaan manusia. Kita diingatkan bahwa “kita berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu.”

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tiga Peristiwa Penting Manusia dengan Debu Tanah

Dalam sejarah keselamatan, terdapat tiga momen krusial di mana hidup manusia bersinggungan langsung dengan abu atau debu tanah:

1. Penciptaan Manusia Manusia diciptakan dari debu tanah. Berbeda dengan ciptaan lain yang dihadirkan cukup dengan sabda, Allah membentuk manusia dengan “tangan-Nya” sendiri dari tanah, lalu menghembuskan napas hidup ke hidungnya. Inilah yang membuat manusia memiliki martabat luhur karena diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Citra Allah). Namun, di sisi lain, manusia tetap berkodrat tanah yang rapuh, lemah, dan fana. Sebagaimana tulis Rasul Paulus: “Roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

BACA JUGA  Pergilah dan Jangan Berbuat Dosa Lagi!

2. Perayaan Rabu Abu Inti dari perayaan ini adalah penerimaan abu di dahi sebagai “meterai” tanda salib. Saat abu ditorehkan, terdengar kalimat: “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” atau “Ingatlah saudara, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu.” Momen ini adalah undangan untuk berbalik kepada Tuhan. Sebagaimana pesan Nabi Yoel dalam bacaan pertama: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu.” Puasa dan pantang harus membuahkan hasil nyata berupa kasih, damai, dan belas kasihan kepada sesama.

BACA JUGA  Menghadapi Ketakutan dengan Kuasa dan Pemeliharaan Ilahi

3. Saat Kematian Dalam upacara pemakaman, saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat, Gereja melakukan ritual penaburan tanah di atas peti. Kalimat yang menyertainya menegaskan eksistensi kita: “Manusia diciptakan dari debu tanah, dan akan kembali menjadi tanah. Semoga Kristus yang telah mengalahkan maut, membangkitkan saudara/i ini untuk hidup yang kekal.”

Penutup

Sungguh benar firman Tuhan bahwa kita berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu. Namun, agar jiwa kita tidak ikut hangus menjadi abu yang sia-sia, inilah saat yang tepat untuk bertobat dan kembali kepada jalan Tuhan sesuai dengan tuntunan Kitab Suci.

Selamat menjalani masa Prapaskah dengan sikap tobat yang benar dan kesungguhan hati. Amen.

Referensi Liturgi:

  • Yoel 2:12-18
  • Matius 6:1-6, 16-18

Editor : Del Neonub

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Jubah Putih Kita Telah Dicuci dalam Darah Anak Domba
Hukum Kasih: Inti Ajaran Yesus dan Pedoman Hidup Orang Kristiani
Renungan Minggu Biasa XXIX: Hak Kaisar dan Hak Allah
Undangan Perjamuan Tuhan dan Kesiapan Hati Kita
Kebun Anggur Tuhan dan Buah Kehidupan yang Diharapkan-Nya
Bertobat dan Kembali kepada Tuhan: Jalan Menuju Keselamatan
Ketika Kemurahan Hati Tuhan Dianggap Tidak Adil: Renungan Minggu Biasa XXV
Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah
Berita ini 74 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:31 WITA

Hukum Kasih: Inti Ajaran Yesus dan Pedoman Hidup Orang Kristiani

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:11 WITA

Renungan Minggu Biasa XXIX: Hak Kaisar dan Hak Allah

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 07:31 WITA

Undangan Perjamuan Tuhan dan Kesiapan Hati Kita

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 07:05 WITA

Kebun Anggur Tuhan dan Buah Kehidupan yang Diharapkan-Nya

Sabtu, 26 September 2026 - 06:25 WITA

Bertobat dan Kembali kepada Tuhan: Jalan Menuju Keselamatan

Berita Terbaru