Sejarah mencatat bahwa koperasi lahir dari rahim penderitaan rakyat yang tercekik oleh kapitalisme rakus. Di NTT, koperasi sempat menjadi oase, menjadi “Soko Guru” tempat rakyat kecil menyandarkan harapan ekonominya. Namun hari ini, wajah itu kian memudar, berganti rupa menjadi mesin pengejar profit yang dingin.
Daftar Isi
Berhala Materi dan Takhta
Belakangan ini, publik NTT disuguhi tontonan yang memuakkan dari pucuk pimpinan koperasi besar. Keributan demi keributan, aksi saling lapor, hingga dugaan sabotase hasil RAT menjadi bukti nyata bahwa nilai “kekeluargaan” telah digantikan oleh syahwat kekuasaan.
Ketika Materi dan Takhta sudah menjadi tujuan utama para pengelola, maka kehancuran tinggal menunggu waktu. Koperasi tidak lagi dijalankan dengan semangat pengabdian, melainkan dengan logika korporasi: siapa kuat, dia berkuasa; siapa punya akses, dia mendapat posisi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dari “Soko Guru” Menjadi “Rentenir Formal”
Kita harus berani jujur: banyak koperasi yang sudah terlalu besar kini tak ubahnya seperti rentenir yang memakai jubah legal. Mereka tak lagi sibuk mendidik anggota agar mandiri secara finansial. Sebaliknya, mereka sibuk mengejar target peminjam.
Staf lapangan dikerahkan bukan untuk memberi solusi ekonomi, melainkan untuk “menjerat” anggota dengan pinjaman berbunga tinggi. Anggota tidak lagi diposisikan sebagai pemilik kedaulatan, melainkan sekadar “target pasar” yang diperas melalui bunga yang terus berbunga. Inilah yang kita sebut sebagai pemiskinan terstruktur berbaju koperasi.
Runtuhnya Fondasi Kepercayaan
Secara ontologis, koperasi berdiri di atas landasan Fides (kepercayaan). Tanpa kejujuran dan integritas di tingkat pimpinan, koperasi hanyalah menara gading yang dibangun di atas pasir. Jika pimpinan sudah ribut berebut “kue” jabatan dan aset, lantas siapa yang memikirkan nasib petani di desa yang harus memotong jatah makannya demi mencicil bunga pinjaman?
Kejayaan aset triliunan rupiah dan kantor semegah istana tidak ada artinya jika di baliknya terdapat ribuan anggota yang kian terjepit. Koperasi yang sehat tidak diukur dari seberapa besar gedungnya, tapi dari seberapa banyak anggotanya yang berhasil keluar dari garis kemiskinan.
Kembali ke Khitah atau Mati
Koperasi di NTT butuh “pembersihan” besar-besaran. Kita butuh kembali ke semangat awal: dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Bukan dari anggota, oleh pengurus, untuk penguasa.
Jika para elite di pucuk pimpinan masih terus memuja materi dan jabatan, jangan salahkan masyarakat jika suatu saat kepercayaan itu benar-benar runtuh. Ingatlah, apa pun yang dibangun atas dasar keserakahan, pada akhirnya akan roboh oleh beban kebohongannya sendiri.
Sudah saatnya anggota bersuara. Karena koperasi adalah milik kita, bukan milik mereka yang duduk di kursi empuk pucuk pimpinan.
Penulis : Del Neonub | Redaktur
Editor : Del







