Perlukah ANAK dibatasi dalam Bermedia Sosial?

Anak, Remaja, dan Batas di Dunia Media Sosial

- Editor

Selasa, 11 November 2025 - 13:39 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Del Neonub & Anak-anak SMA Negeri 2 Fatuleu Barat

Del Neonub & Anak-anak SMA Negeri 2 Fatuleu Barat

Perlukah Anak dan Remaja Dibatasi dalam Bermedia Sosial?

Oleh Del Neonub*

Di beberapa negara, pemerintah mulai mengambil langkah berani untuk melindungi generasi muda dari dampak negatif media sosial. Di Amerika Serikat, negara bagian seperti Utah dan Arkansas telah mengesahkan undang-undang yang membatasi akses media sosial bagi remaja di bawah usia tertentu. Di Prancis, penggunaan ponsel di sekolah dasar bahkan sudah dilarang. Sementara di Tiongkok, pemerintah mengontrol waktu layar anak-anak secara ketat. Pertanyaannya, mungkinkah kebijakan semacam itu diterapkan di Indonesia?

Media sosial sudah jadi ruang utama pergaulan anak dan remaja masa kini. Di sana mereka temukan identitas, membentuk opini, dan berinteraksi. Namun, ruang ini juga menyimpan risiko besar: paparan konten kekerasan dan pornografi, cyberbullying, tekanan sosial akibat perbandingan hidup, hingga ketergantungan digital yang mengikis kemampuan berpikir kritis dan empati. Bahkan tingginya kasus HIV AIDs pada pelajar dan prostitusi pelajar bisa dikatakan akibat bebasnya akses media sosial.

BACA JUGA  TunasDigital.id: Gerakan Nasional Lindungi Anak di Dunia Maya Lewat PP Tunas

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kita sering mendengar orang tua mengeluh, “anak saya lebih sibuk dengan gawainya daripada berbicara dengan keluarga.” Tapi dalam banyak kasus, justru para orang tua itu sendiri yang memberikan akses tanpa batas — entah karena alasan praktis, entah karena tidak tahu bagaimana mengontrolnya. Di sinilah masalah mendasarnya: kita ingin anak-anak aman di dunia digital, tetapi belum siap mendampingi mereka.

Menerapkan pembatasan media sosial di Indonesia tentu bukan hal mustahil. Pemerintah memiliki dasar hukum melalui Undang-Undang ITE dan Undang-Undang Perlindungan Anak. Namun, pelaksanaannya tidak sesederhana membuat peraturan. Indonesia belum memiliki sistem verifikasi umur digital yang efektif. Banyak anak bisa dengan mudah membuat akun palsu atau menggunakan data orang tua. Tanpa kerja sama antara pemerintah, platform media sosial, dan lembaga pendidikan, pembatasan hanya akan menjadi aturan di atas kertas.

BACA JUGA  BREAKING NEWS - Pick Up terbalik di Jalan Waduk Raknamo, 9 Orang Kritis

Selain itu, pembatasan harus mempertimbangkan hak anak atas informasi dan berekspresi. Melarang total bukanlah solusi. Yang dibutuhkan adalah pendidikan literasi digital yang dimulai sejak dini — di rumah, di sekolah, dan di ruang-ruang publik. Orang tua perlu belajar menjadi pendamping, bukan pengawas; guru perlu menanamkan nilai etika digital, bukan sekadar melarang penggunaan ponsel di kelas. Negara perlu hadir bukan dengan tangan besi, tetapi dengan kebijakan yang melindungi tanpa mematikan rasa ingin tahu generasi muda.

Media sosial, seperti pisau bermata dua, bisa melukai atau menolong tergantung siapa yang memegangnya. Di tangan anak tanpa bimbingan, ia bisa menjadi racun yang menggerogoti harga diri dan empati. Tetapi di tangan remaja yang cerdas dan terarah, ia bisa menjadi alat belajar, ruang berkarya, bahkan sarana perubahan sosial.

BACA JUGA  Apapun Kurikulumnya, Guru tetap Guru

Karena itu, sebelum kita bicara tentang larangan, mari bicara tentang pendampingan. Sebelum kita menuntut aturan, mari kita perkuat keteladanan. Dan sebelum kita menyalahkan anak-anak karena terlalu banyak bermain media sosial, mari kita tanya diri sendiri: seberapa sering kita menatap mata mereka tanpa terganggu oleh layar kita sendiri?

Untuk membantu para orang tua, guru, dan remaja memahami dunia digital dengan lebih sehat dan cerdas, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kominfo telah menghadirkan platform Tunas Digital — sebuah ruang belajar daring yang menyediakan materi, pelatihan, dan panduan praktis tentang literasi digital. Mari kita manfaatkan sumber daya ini, agar generasi muda Indonesia tidak sekadar menjadi pengguna media sosial, tetapi juga penggerak peradaban digital yang beretika dan berkarakter.

Del Neonub : Guru Bahasa Indonesia & Ketua KUB

Facebook Coment

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Belunews.com Terpilih Jadi Sampel Survei BPS Kabupaten Belu
Satgas Pamtas Pos Nunura Gagalkan Dugaan Penyelundupan Solar di Belu
Gereja Lama Tak Lagi Memadai, Umat di Oepoli Berjuang Bangun Rumah Ibadah Baru
40 Tahun Imamat Romo Chris Taus, Uskup Agung Kupang: Imamat Adalah Rahmat dan Kesetiaan
Pulau Semau Mendadak Hilang dari Pandangan: Ada Apa dengan Udara Kabupaten Kupang?
Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu
Dari Kapela Sto. Yoseph Sublele, Ziarah Arca Bunda Maria Paroki Santa Helena Camplong Dimulai
Modul Belajar Mandiri Uji Pemetaan Kompetensi Guru BINDO
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 07:49 WITA

Belunews.com Terpilih Jadi Sampel Survei BPS Kabupaten Belu

Senin, 26 Oktober 2026 - 14:19 WITA

Satgas Pamtas Pos Nunura Gagalkan Dugaan Penyelundupan Solar di Belu

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:46 WITA

40 Tahun Imamat Romo Chris Taus, Uskup Agung Kupang: Imamat Adalah Rahmat dan Kesetiaan

Senin, 19 Oktober 2026 - 13:40 WITA

Pulau Semau Mendadak Hilang dari Pandangan: Ada Apa dengan Udara Kabupaten Kupang?

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:50 WITA

Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu

Berita Terbaru

Iman & Gereja

Hukum Kasih: Inti Ajaran Yesus dan Pedoman Hidup Orang Kristiani

Sabtu, 24 Okt 2026 - 10:31 WITA

Pater Frans Lackner & Rd. Ama Kolo Imam Perdana dari Pulau Sabu

Iman & Gereja

25 Tahun Imamat Ama Kolo, Imam Pertama dari Pulau Sabu

Kamis, 22 Okt 2026 - 12:52 WITA

error: Content is protected !!