Analisis Makna Tuturan Lisan Natoni Masyarakat Dawan | Bagian 1

- Editor

Sabtu, 8 Februari 2020 - 12:36 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Natoni adalah tuturan lisan yang diungkapkan dalam bentuk pantun tardisional (adat) dan dituturkan oleh sekelompok orang yakni kelompok atonis (pemandu) dan kelompok atutas (pendukung).

Margarita D.I Ottu, S.Pd
Guru Bahasa Inggris SMPN 2 SoE **

Bahasa Natoni adalah bahasa sakral yang bermakna yang mencerminkan ketulusan dan keramahan masyarakat dawan (Atoin Meto).  Atonis dan Atutas memiliki fungsi dan peran yang berbeda.

Atonis adalah pemandu atau penutur utama yang akan mengucapkan tuturan tersebut dan Atonis terdiri dari satu orang sedangkan Atutas adalah sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari satu orang berperan untuk menyambung atau melengkapi tuturan dari seorang Atonis.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Atonis akan menuturkan kalimat demi kalimat namun kalimat yang dituturkan adalah kalimat yang tidak lengkap, artinya bahwa kata terakhir dari kalimat tuturan tersebut akan di penggal dan diakhiri dengan sebuah suku kata yaitu ne sebagai  tanda  atau jedah kepada atutas untuk melengkapi tuturan tersebut.

Natoni dilantunkan secara bersahutan oleh atonis dan atutas. Ciri khas atonis dalam melantunkan tuturan biasanya dengan tempo cepat dan penuh semangat serta intonasi yang meyakinkan.

BACA JUGA  The People of TIMOR : The Linguistic Evidence

Pada umumnya tuturan Natoni penyambutan tamu dipahami sebagai salah satu ungkapan pesan yang dinyatakan dalam bentuk tuturan secara lisan dalam bentuk kata, frasa, dan kalimat memiliki fungsi tertentu dan makna budaya dalam tuturan Natoni tersebut.

Penggunaan bahasa dalam tuturan Natoni memiliki ciri khas tersendiri karena berbeda dengan bahasa sehari – hari, baik gaya bahasanya, struktur bahasa, pilihan kata dan kalimat, maupun konteks penuturannya.

Bahasa Natoni juga memiliki keunikan tersendiri karena bahasa yang digunakan adalah bahasa Dawan yang terbilang lebih halus dan santun.

Makna sebuah tuturan Natoni tidak hanya terletak pada kata-kata dalam bentuk pantun yang dituturkan tetapi juga pada irama suara yang membuktikan kesungguhan, semangat, harapan dan kesepakatan yang dipadu dalam warna suara yang dilantunkan dalam tuturan tersebut dengan intonasi tinggi dan rendah secara silih berganti. 

BACA JUGA  Tradisi Nikah Adat & Nikah Gereja Pada Masyarakat Rote

Tuturan Natoni  yang diucapkan biasanya disesuaikan dengan kondisi atau suatu acara tertentu.

Jenis – Jenis Natoni

  • Natoni Penyambutan Tamu

Natoni ini dilakukan pada saat menyambut tamu yang datang pada acara tertentu. Natoni penerimaan tamu dibagi dalam tiga (3) tahap, yaitu :

  • “Sium kap ma fleu” yaitu Natoni yang dituturkan sebagai wujud  ucapan selamat datang dan dilaksanakan di depan gerbang atau suatu tempat sebelum tamu tersebut memasuki tempat yang telah disediakan.
  • “Sium Usif hen tunon” yaitu Natoni yang dituturkan sebagai pengantar atau bentuk permohonan kepada tamu atau undangan untuk menempati tempat yang telah disediakan
  • “Terimahkasih neu Usif” yaitu Natoni yang dituturkan sebagai wujud ungkapan terimaksih atas kunjungan tersebut dan ucapan selamat jalan kepada tamu tersebut.
  • Natoni upacara pernikahan tradisional

Natoni tersebut dituturkan pada saat acara pernikahan tradisional dan Natoni tersebut dibagai dalam dua (2) tahap, yaitu:

  • Natoni dari pihak laki–laki
  • Natoni dari pihak perempuan
  • Natoni pada saat panen
BACA JUGA  Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman

Natoni ini berlangsung pada saat melakukan panen dan Natoni tersebut dibagi dalam tiga (3) tahap, yaitu:

  • Natoni penerimaan kepada masyarakat yang mengikuti acara panen tersebut
  • Natoni yang dituturkan sebagai wujud ucapan terimakasih kepada Sang Pencipta
  • Natoni yang dituturkan sebagai wujud ucapan terimakasih kepada masyarakat yang telah melakukan acara panen tersebut.

Margarita D. I. Ottu, S.Pd lahir di Putun, 27 Maret 1983 adalah alumnus Universitas Nusa Cendana Kupang FKIP, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Tahun 2006. Sejak Oktober 2006 menjadi guru di SMP Negeri 2 SoE. Pada tahun 2013 menjadi staf pengajar tidak tetap di Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar (STAKAS) SoE. Penulis mengajar Bahasa Inggris dan mata kuliah umum lainnya. Tahun 2015 lulus S2 Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta.

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?
Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor
Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman
Di Balik Dinamika Pelantikan Pejabat “Tanpa SK” di Kabupaten Kupang
NTT: Kemiskinan yang Dipelihara Sistem
Membaca Hasil TKA dari Ruang Kelas! Bukan dari Kursi Penilai
Legenda Nepo, Kolu, dan Kelahiran Koru
Forum Guru NTT: Apresiasi Pembayaran Tunjangan Sertifikasi Tepat Waktu
Berita ini 77 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:49 WITA

OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?

Kamis, 26 Februari 2026 - 11:43 WITA

Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor

Rabu, 25 Februari 2026 - 06:01 WITA

Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman

Sabtu, 3 Januari 2026 - 12:56 WITA

Di Balik Dinamika Pelantikan Pejabat “Tanpa SK” di Kabupaten Kupang

Senin, 29 Desember 2025 - 00:57 WITA

NTT: Kemiskinan yang Dipelihara Sistem

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Misteri Kasih Allah dalam Hari Raya Tritunggal Mahakudus

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:30 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Dari Loh Batu ke Hati Manusia: Karya Roh Kudus di Hari Pentekosta

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:11 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Pesan Paus Leo XIV Untuk Hari Komsos Sedunia ke-60

Minggu, 17 Mei 2026 - 06:10 WITA

error: Content is protected !!