Lawan Kejahatan Digital, Pemerintah Mulai Terapkan Registrasi SIM Berbasis Biometrik

- Editor

Sabtu, 7 Februari 2026 - 10:20 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menkomdigi Meutya Hafid (kiri) berbincang dengan petugas di stan Kementerian Komdigi pada peluncuran Senyum Nyaman dengan Biometrik (SEMANTIK) di Gedung Sarinah, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Pemerintah menerapkan registrasi nomor seluler berbasis biometrik yang diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 7 Tahun 2026. (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/infopublik)

Menkomdigi Meutya Hafid (kiri) berbincang dengan petugas di stan Kementerian Komdigi pada peluncuran Senyum Nyaman dengan Biometrik (SEMANTIK) di Gedung Sarinah, Jakarta, Selasa (27/1/2026). Pemerintah menerapkan registrasi nomor seluler berbasis biometrik yang diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 7 Tahun 2026. (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/infopublik)

JAKARTA, MATATIMOR.NET – Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) resmi memperketat keamanan ekosistem digital dengan meluncurkan program Senyum Nyaman dengan Biometrik (SEMANTIK). Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri No. 7 Tahun 2026 ini mewajibkan setiap pendaftaran nomor seluler menggunakan verifikasi biometrik guna memutus rantai penggunaan identitas palsu.

Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, menilai langkah ini sebagai strategi ampuh untuk memperkuat keamanan siber di tahap awal. Menurutnya, penggunaan biometrik mampu menyumbat celah anonimitas yang selama ini dimanfaatkan pelaku kejahatan.

“Biometrik efektif memutus anonimitas palsu pada fase pendaftaran. Teknologi ini membuat praktik SIM farm menjadi lebih mahal, berisiko, dan sulit dijalankan oleh pelaku penipuan,” ujar Pratama kepada InfoPublik, Minggu (1/2/2026).

BACA JUGA  Polsek Tastim & Unsur TNI-AD PLBN Motaain Amankan Misa Arwah

PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

ads

MURAH! Hubungi 08113810024

Bukan Solusi Tunggal

Meski sangat membantu, Pratama mengingatkan bahwa biometrik bukan merupakan “obat ajaib” yang bisa menghapus kejahatan siber secara instan. Ia menegaskan bahwa pelaku kejahatan terus mengembangkan modus yang lebih canggih.

“Biometrik hanya memfilter pintu masuk. Ia bukan pemutus total rantai kejahatan digital,” jelasnya. Ia menyoroti beberapa tantangan yang tetap membayangi, di antaranya:

  • Rekayasa Sosial: Penipuan seperti phishing, love scam, dan investasi bodong tetap bisa terjadi meskipun pelaku menggunakan nomor yang sah dan terverifikasi.
  • Layanan Lintas Negara: Banyak pelaku kini beralih menggunakan nomor asing, layanan VoIP, serta platform over the top yang berada di luar jangkauan hukum nasional.
BACA JUGA  10 Sekolah di Ambon Fokus Terapkan Muatan Lokal Musik

Belajar dari Negara Lain

Pratama mengajak Indonesia belajar dari pengalaman internasional dalam mengelola data biometrik. India, misalnya, sukses mengintegrasikan sistem Aadhaar, namun masih berjuang melawan risiko kebocoran data. Sementara itu, Singapura memilih pendekatan verifikasi terpusat melalui National Digital ID tanpa menyerahkan data biometrik kepada operator.

Di sisi lain, Uni Eropa menerapkan aturan yang sangat ketat melalui GDPR, yang membatasi penggunaan biometrik dan lebih mengedepankan sanksi berat bagi pelanggar privasi.

BACA JUGA  Korban Tenggelam di Malaka Akhirnya Ditemukan

Butuh Pengawasan dan Audit Ketat

Agar program SEMANTIK tidak sekadar menjadi formalitas, Pratama menekankan perlunya langkah nyata dari pemerintah dan pemangku kepentingan:

  1. Membangun Sistem Terpadu: Integrasi sistem harus berjalan lancar di seluruh operator seluler.
  2. Pengawasan Lapangan: Pemerintah harus mengawasi gerai dan reseller secara ketat.
  3. Audit Rutin: Perlu ada audit keamanan yang transparan untuk memastikan data biometrik masyarakat tetap aman.

“Tanpa pengawasan yang kuat, kejahatan digital tidak akan hilang. Mereka hanya akan berpindah modus dan kanal,” pungkasnya.

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Tunjuk Mgr. Walter Erbì sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia dan ASEAN
Jejak Iman Sejak 1942: Uskup Agung Kupang Disambut Adat Lamaholot pada HUT ke-30 Paroki Pariti
Pemerintah Peringatkan Bahaya Ilusi Algoritma Saat Masyarakat Sampaikan Aspirasi
Lengkap! 45 Butir Pancasila dan Contoh Pengamalannya
Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong
Seruan Pastoral KWI: “Bangkit Bersama dalam Pengharapan” di Tengah Krisis Bangsa
200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Keluarga Diminta Jadi Benteng Utama
Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 05:03 WITA

Paus Tunjuk Mgr. Walter Erbì sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia dan ASEAN

Sabtu, 13 Juni 2026 - 11:20 WITA

Pemerintah Peringatkan Bahaya Ilusi Algoritma Saat Masyarakat Sampaikan Aspirasi

Senin, 1 Juni 2026 - 08:49 WITA

Lengkap! 45 Butir Pancasila dan Contoh Pengamalannya

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:04 WITA

Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:54 WITA

Seruan Pastoral KWI: “Bangkit Bersama dalam Pengharapan” di Tengah Krisis Bangsa

Berita Terbaru

Gambar dokumentasi dan olahan matatimor.net

KOTBAH & RENUNGAN

Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:11 WITA

Gambar dibuat dengan GeminiAI (prompt oleh del neonub)

OPINI

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi

Kamis, 16 Jul 2026 - 06:45 WITA

Foto oleh matatimor

KOTBAH & RENUNGAN

Kekuatan Sabda Allah dan Tanggung Jawab Iman Kita

Sabtu, 11 Jul 2026 - 11:48 WITA

Grafis oleh matatimor.net

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Kedamaian yang Hilang di Tengah Hidup Sehari-hari

Sabtu, 4 Jul 2026 - 07:54 WITA

error: Content is protected !!