Buku Saku SUNU || Margarita D.I Ottu,S.Pd,M.Pd.K

OPINI7 Dilihat

Buku Saku Bukit Sunu Oleh

Margarita D.I Ottu,S.Pd,M.Pd.K

 

SUNU

Kecamatan Amanatun Selatan dengan ibukota Kecamatan Oinlasi adalah salah satu dari 32 Kecamatan di Kabupaten Timor  Tengah Selatan yang memiliki 13 Desa yaitu Anin, Fae, Fatulunu, Fenun, Kokoi, Kuale’u, Lanu, Netutnana, Nifuleo, Nunle’u, Oinlasi, Sunu, To’I.
Letak Astronomi dan Geografis  Kecamatan Amanatun Selatan
Astronomi : 90  47’ 11,36” LS – 90 53’ 42,94” LS, dan 1240 40’ 38,43” BT – 1240
34’13,84” BT
Iklim :Tropis
Topografi : Wilayah terdiri dari batu karang dan tidak rata serta tanah berwarna merah
Batas – batas : Utara : Kecamatan Noebana dan Kecamatan Santian
Selatan : Kecamatan KiE
Timur :Kecamatan Nunkolo dan Kecamatan Boking
Barat : Kecamatan Fautmolo dan Kecamatan KiE
Flora : Pohon lontar, kelapa, kemiri, jati, pinang dan sebagainya
Fauna : Ternak besar (Sapi) ternak kecil (kambing dan babi),unggas (ayam kampung
dan itik)
sumber: Kecamatan Amanatun Selatan Dalam Angka 2018, Badan Statistik Kab. TTS
 
Kondisi topografi wilayah Kecamatan Amanatun Selatan meliputi daerah pegunungan dan  berdasarkan Peta Elevasi menunjukkan bahwa Kecamatan Amanatun Selatan terletak pada ketinggian 0-500 m dpl (dari permukaan laut).
Sumber : RPJMD Kabupaten Timor Tengah Selatan 2019-2024
SUNU adalah salah satu desa di Kecamatan Amanatun Selatandengan luas wilayah 8,29 Km2 dengan ketinggian dari permukaan laut 823 m. Jarak dari ibukota Kecamatan ke desa Sunu 16 Km yang berbatasan bagian Timur dengan Desa Sabun, bagian Barat dengan Desa To’I, bagian Utara dengan Desa Mela dan bagian Selatan dengan Desa Fenun.
Sumber: Kecamatan Amanatun Selatan Dalam Angka 2018, Badan Statistik Kab. TTS
Desa Sunu dengan kondisi alam yang sejuk dan topografi berbukit. Desa Sunu memiliki 377 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk 1.336jiwa (berdasarkan data Laporan Kependudukan Desa Sunu, Oktober 2020). Masyarakat Desa Sunu dengan mata pencaharian sebagian besar adalah bertani
Jarak dari ibukota Kecamatan ke desa Sunu 16 Km ditempuh dengan waktu kurang lebih 1 jam karena infrastruktur  yang kurang memadai yakni akses jalan yang berbatu dan banyak tanjakan yang berkelok serta tebngyan terjal. Jalur yang ditempuh dengan menyeberang kali Noetoko. Kondisi ini akan menjadi sulit dan tidak bisa dilewati ketika musim hujan.  Pengguna jalan baru akan bisa menyeberang ketika sudah mulai surut.
Penjabat Kepala Desa Sunu (Tahun 2020) sekarang adalah Bapak Yohanis Bako. Fasilitas yang terdapat di Desa Sunu adalah Kantor Desa, Gereja Protesan Moria Sunu, Gereja Katolik, 2 Gedung PAUD, SD Negeri Sunu dan SD Negeri Fatukolo, SMP Negeri  1 Atap Sunu.
 
Panorama alam yang dimiliki Desa Sunu adalah Gunung  Sunu dengan keindahan alam yang menakjubkan dan udara yang sejuk.Puncak Gunung Sunu pada hari Jumat 30 Oktober 2020 telah berlangsungnya upacara ritual dalam rangka pendirian monumen berupa Patung Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo dengan mengenakan busana daerah Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan jenis motif Buna Kaif asal Desa Hoineno Kecamatan Nunkolo (Kecamatan Nunkolo merupakan Kecamatan pemekaran dari Kecamatan Amanatun Selatan).
Pembuatan Monumen ini di prakarsai oleh Kolonel Simon Petrus Kamlasi yang adalah putra asli Desa Sunu (sekarang menjabat sebagai Asisten Logistik Kasdam IX/ Udayana). Dengan inisiatif dan keinginan yang kokoh Kolonel Simon Petrus Kamlasi dengan niat pribadi mempersembahkan Monumen ini untuk pengembangan destinasi pariwisata dan adanya pengembangan ekonomi pariwisata. Alasan pendirian Monumen ini di puncak gunung Sunu untuk mengenang peristiwa bersejarah pada peringatan HUT ke-75 RI, dimana Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat suku Amanatun Selatan saat menjadi inspektur upacara.
 
 

Baca Juga  KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MATA PELAJARAN DI SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK, DAN MA/MAK

Arti Nama Sunu

Konon, Gunung Sunu di percayai adalah Gunung Sinai (dipercaya Umat Kristiani bahwa Gunung Sinai adalah tempat Nabi Musa menerima 10 Hukum Taurat) dan Gunung Sunu juga ada pemiliknya.

Sejak kedatangan Keluarga marga Mone dan Betti (mereka bersaudara yakniMone adalah saudara laki-laki danBetti adalah saudara perempuan). Mereka mulai menempati  gunung Sunu denganbatas yang telah disepakati leluhur pada waktu itu yaitu Mone menempati wilayah kekuasaan bagian Barat dan Betti menempati wilayah bagian Timur. Gunung Sunu diibaratkan seekor kuda (dalam tuturan budaya “Mone es bikase nakan ma Beti es bikase bokon” memiliki makna budaya bahwa Mone menempati bagian Barat yang adalah kepala kuda dan Betti menempati bagian Timur yang adalah punggung kuda) dan yang menjadi batas antara kedua wilayah kekuasaan adalah lahan kosong dan terdapat sebuah danau dan menurut penutur keluarga Mone bahwa batas tersebut tidak diketahui pemiliknya. Sejak keberadaan mereka adapun rumah atau lopo yang dibangun untuk dihuni (kemudian disebut dengan istilah “ume balan” artinya rumah awal/mula-mula tempat tinggal yang sekarang tidak ada lagi) dan disebut dengan istiah sin nain (artinya tanah milik mereka Mone dan Betti). Leluhur dari marga Mone dan Betti yang telah meninggal dimakamkan di puncak gunung Sunu (dibuktikan pada saat penggalian tempat untuk didirikannya patung, telah ditemukan tengkorak manusia dan dikuburkan kembali kemudian beralih tempat dengan jarak kurang lebih 100 meter dari lokasi penggalian awal).
Dituturkan bahwa pada saat Mone dan Betti sudah mendiami lokasi Gunung Sunu yang sebelumnya dipercayai bahwa ada penghuni tempat itu (tidak disebutkan oleh penutur siapa penghuni tempat tersebut), pada waktu itu Mone mengejar musuh yang menempati wilayah mereka dan akhirnya musuh ditaklukkan oleh Mone dan kemudian musuhpun menjunjung senjata mereka sebagai tanda mereka menyerah dan menangis memohon belas kasihan agar mereka jangan dibunuh. Menjunjung dari kata dasar “junjung”dalam bahasa daerah Su) senjata mereka sambil meneteskan air mata (air mata dalam bahasa daerah Nu ) sehingga pada saat itulah gunung itu disebut dengan nama SUNU yang jika diartikan secara etimologi (berdasarkan akar kata) “Su”artinya“junjung”dan“Nu”artinya “air mata” jadi SUNU artinya “junjung air mata”.
Dituturkan oleh  Bapak Kornelis Mone (81 Tahun) adalah Tokoh Adat. Tuturan berlangsung pada hari Sabtu, 7 November 2020 di Puncak Gunung Sunu pada saat pertemuan kedua keluarga Mone dan Betti dalam rangka upacara adat terkait tapal batas kedua marga tersebut. (Mone dan Beti adalah marga)
Lereng Gunung Sunu dikelilingi oleh beberapa desa dengan marga penduduk masing – masing diantaranya bagian Timur adalah Desa Nenotes yang didiami oleh marga Tloim, bagian Barat adalah desa Sunuyang didiami oleh marga Kamlasi, Lakapu, Fatbanu, Benu, Tunliu.  Di bagian Utara adalah desa Mela, desa Suni dan sebagian desa To’I yang didiami oleh marga Ottu, Benu, Bana dan Mone sedangkan di bagian Selatan adalah desa Sabun yang didiami oleh marga Halla dan Betti.
 

Baca Juga  Analisis Makna Tuturan Lisan Natoni Masyarakat Dawan | Bagian 1

The Name of Mount Sunu


Mountain Sunu is believed as the mountain where Moses got the ten commandments from the Lord. It was called mountain Sinnai. The history begun when Mone and Betty (Mone is the brother and Betti is the sister) first came to Sunu. They begun living in the mountain, Mone lived in the West and Betti in the East. The mountain symbolizes a horse and it is said in culture expression as “Mone es bikase nakan ma Beti es bikase bokon”. The horse’s head is on the west where Mone family lived, and its back is on the East happened to be Betti’s place. Both, West and East of the mountain are divided by an empty land and a lake whose owner is still not known until today.
Mone and Betti lived in “Ume Balan”, a traditional house means an initial house where both families lived. The houses are not exist anymore but people call it “sin nain” which means a land of Mone and Betti. The ancestors of Mone and Betti were buried in the mountain (this is proved when people built Jokowi’s statue, they found a lot of human bones there).
It is believed that before Mone and Betti came to that mountain, there lived another family whose names did not mentioned by our sources. When Mone and Beti lived there, there happened a war between Mone and their enemies, Mone then took his sword chasing the enemy who were crying begging for mercy not to be killed. Sunu has two syllables, Su means “holding the weapons high on the head” while walking and crying, Nu means ”tear drops”. From then on,  Sunu means “holding the tears”.
(Diterjemahkan oleh Lesly N. Ndun, M.Hum)
 
 Busana Adat yang dikenakan Presiden RI Joko Widodo pada Upacara HUT ke-75 RI

(Kutipan dari Tempo.Co,Jakarta) Foto dan penjelasan
Presiden Joko Widodo mengenakan baju adat dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), pada pelaksanaan Upacara Peringatan Kemerdekaan RI ke-75 tahun di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 17 Agustus 2020. Foto: Agus Suparto
TEMPO.COJakarta – Presiden Joko Widodo mengenakan pakaian adat TTS atau Kabupaten Timor Tengah Selatan, saat menjadi Inspektur Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin 17 Agustus 2020.
Berdasarkan keterangan dari Sekretariat Presiden di Jakarta, Presiden Jokowi mengenakan baju adat dari Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.
Dalam baju adat itu, terdapat kain motif Kaif berantai Nunkòlo. Motif tersebut sudah dimodifikasi dari bentuk belah ketupat (motif geometris) dengan batañg tengah yang berartì sumber air, dan bagian pinggir bergerigi melambangkan wilayah yang berbukit dan berkelok-kelok.
 

Baca Juga  Poli-Tikus Tidak Perlu Sekolah?
Presiden Joko Widodo mengenakan baju adat Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Upacara Peringatan Kemerdekaan RI ke-75 tahun di Istana Merdeka, Jakarta. ANTARA/Setkab

Sedangkan warna merah melambangkan keberanian laki-laki Nunkolo.
Sejumlah aksesoris yang disematkan di pakaian adat itu untuk menambah indah kain tenun, dan tentunya memiliki makna kegunaan praktis.
Aksesoris dester yakni ikat kepala atau Pilu. Ada tiga jenis yaitu untuk Raja dengan bentuk dua tanduk kecil yang artinya fungsi Raja yang melindungi kemudian, ikat di kepala sebagai penutup kepala untuk pelindung yang menjadi tanda kebesaran Raja sebagai Mahkota.
Selanjutnya Tas sirih pinang dan kapur. Aksesoris itu untuk menunjukkan budaya makan sirih pinang sebagai budaya pemersatu atau persatuan dan juga melambangkan tanda kasih dan hormat. Maka tas sirih pinang selalu dikenakan.
Dalam upacara kemerdekaan kali ini, Presiden memasuki lapangan upacara dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, seperti mengenakan masker berwarna putih yang sepadan dengan warna pakaian adat dari Timor Tengah Selatan itu.
Upacara HUT RI di Istana Merdeka pada tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena mengedepankan protokol kesehatan pencegahan penularan COVID-19.
Jumlah peserta yang hadir HUT RI ke-75 di Istana Merdeka dibatasi. Masyarakat dan sebagian besar pejabat negara dan pejabat daerah mengikuti upacara kemerdekaan secara virtual.

lokasi penggalian awal untuk pembangunan patung Jokowi dan ditemukannya tengkorak yang dipercaya adalah leluhur Mone
pertemuan keluarga Mone dan Betti dalam tuturan terkait tapal batas
Bapak Kornelis Mone (kiri) adalah Tokoh Adat Marga Mone dan Penutur sejarah Gunung Sunu
Keluarga Mone berada di bagian Barat puncak Gunung Sunu (dalam makna budaya dibaratkan sebagai “Bikase Nakan” ) dan mereka sedang menanti kedatangan keluarga Betti
bagian Timur puncak Gunung Sunu (dalam makna budaya diibaratkan sebagai “Bikase bokon” ) yang ditempati oleh keluarga Betti
Danau yang ada di puncak Gunung Sunu dan merupakan batas wilayah milik Mone dan Betti