Camplong punya hubungan erat dengan sebuah pohon besar. Pohon besar itu menjadi
tanda pengenal bagi Camplong. Bahkan orang di Lotas, di ujung Timur pulau Timor
yang berbatasan dengan Belu menyebut pendeta Belanda yang bekerja di Camplong
sebagai pendeta pohon besar.[1]
Orang Meto menamakan pohon itu Sanaplo.
Pohon bernama Sanaplo ini
merupakan ibu dari semua pohon yang ada di hutan Camplong. Untuk jelasnya,
beginilah tuturan saudara laki-laki Anamtasa
yang ditulis oleh F.H. van de Wetering, misionaris yang menetap di Camplong
tahun 1919.[2]
yang sangat besar. Semua pohon yang ada di Camplong
berasal dari pohon itu. Buah pohon itu jatuh dalam air yang ada di bawah pohon
besar itu. Air membawa buah-buah itu ke satu tempat. Di tempat yang baru itu
buah-buah bertumbuh. Akhirnya menjadi pohon-pohon besar. Itu sebabnya Camplong penuh dengan pohon-pohon. Pada
waktu malam datanglah kelelawar. Mereka makan buah dari pohon besar itu. Mereka
kemudian membawa biji dari buah pohon itu ke tempat-tempat yang tidak kami
kenal.
menjatuhkan salah satu biji dari pohon itu. Biji itu bertumbuh. Pohon yang baru
bertumbuh itu juga menjadi besar, kokoh, kuat dan rindang. Pohon tua yang
adalah ibu dari semua pohon itu bernama Sanaplo.
Pohon yang baru, yang ada diseberang mata air ini diberi nama hau susu.
tua yang bernama sanaplo sudah mati
kira-kira tiga puluh tahun lalu. Orang Atoni sekarang menyebut pohon yang baru,
haususu, dengan nama haususu sanaplo
untuk menghormati pohon sanaplo yang
sudah mati itu. Itu sebabnya kampung kita bernama Sanaplo menurut nama pohon tua yang sudah mati itu.”
yang tumbuh di dekat mata air Sanaplo dianggap
oleh orang meto di Camplong sebagai
tempat tinggal dewa tertinggi. Di masa lalu penduduk membawa berbagai sesajen
untuk ditaruh di bawah pohon itu. Pati Muti bercerita: “Penduduk Camplong juga suka membawa persembahan kepada
haususu Sanaplo ini. Kalau ada musuh
datang menyerang berkumpullah semua penduduk di pohon ini untuk memberikan
persembahan korban demi perang itu. Mereka meminta agar mereka tidak diganggu
oleh peperangan yang sedang terjadi. Tetapi jika perang harus mereka hadapi
maka mereka meminta agar diberikan kemenangan. Orang-orang datang dengan
membawa ayam, kambing dan beras. Semuanya mereka letakan di bawah pohon itu.”
yang memimpin ritus sesajen akan mengucapkan doa berikut: “Kami berseru
kepadamu, O penguasa air. Berikanlah kepada kami makan dan minum. Peliharalah
kami. Jangan biarkan kami mengalami kecelakaan. Kami adalah umatmu. Kami ini
anak-anakmu. Janganlah membiarkan orang yang tidak menghormati engkau tinggal atau
datang ke mari. Janganlah mengizinkan musuh masuk ke tempat ini karena di sini
amat banyak orang-orang kepunyaanmu. Bawalah musuh-musuh itu pergi menurut
jalan yang lain untuk tiba di Lili, menuju muara sungai sehingga mereka tidak
datang ke tempat ini karena di sini tempat yang tinggi dan banyak pohonnya. Di
sini jalannya panjang dan lebar. Buatlah mereka sesat supaya mereka tiba di
Lili, Oilmasi atau Naifalo. Di sana ada jalan. Ada kerbau dan kuda. Tetapi,
jangan bawa mereka ke mari, karena di sini jalannya lebar dan panjang.”
penduduk di sini, mereka berkumpul di sekitar pohon ini membawa babi, ayam dan
beras. Ya. Kadang-kadang juga kerbau. Lalu imam juga akan berkata sementara dia
melemparkan beras: “Sekarang kami semua sudah berkumpul di sini dan
mempersembahkan kepadamu, Uispah, dan
Uisneno makanan. Berikanlah kesejukan
kepada orang-orangmu serta perasaan damai sebagai ganti panas yang diakibatkan
oleh penyakit ini.”
adalah jika salah satu dahannya patah itu pertanda bahwa salah satu orang
terkemuka di Timor akan segera meninggal. Apakah dahan itu patah karena hujan,
angin atau karena alasan lain maka orang akan mengerti bahwa seorang temukung,
fetor atau raja akan segera mati. Ketika Saen Sinar, nama lain dari Sain Bait
meninggal salah satu dari dahan pohon itu patah. Setelah itu Tasi Bait. Yang
terakhir adalah raja Manubait di Camplong.
Masih ada satu lagi, Feku Bait dan tamukung besar Fafi Tob dari Silu. Yang baru
saja terjadi adalah Ena Bait dari kampung Oetulu.[3]
kisah asal-usul nama Camplong, yang berhubungan erat dengan nama sebuah pohon
yang orang meto namakan Sanaplo. Pohon itu adalah dari semua
pohon yang ada di hutan Camplong. Pohon itu melahirkan sebuah pohon lain
bernama Haususu yang menjadi
manifestasi kehadiran dewa tertinggi di antara penduduk Camplong. Hutan itu
pada masa lalu adalah kawasan keramat yang diyakini sebagai tempat kediaman
roh-roh. Betapa pun oleh pengaruh kekristenan dan modernisasi hutan Camplong
tidak lagi dianggap keramat, tetapi hutan itu masih dipelihara oleh warga
sekitarnya.
pun di hutan Camplong saat ini tumbuh bermacam-macam jenis pohon. Data yang
berhasil kami kumpulkan menyebutkan ada 30-an jenis pohon umur panjang yang
hidup di hutan lindung Camplong. Ini belum termasuk jenis-jenis perdu dan
tanaman merambat yang ada di hutan itu. Pohon-pohon itu antara lain: Cendana,
Gaharu, Beringin, Kayu Merah (hau me
atau matani), Kapuk Hutan, Kabesak, Taduk (Lete), Jati, Mahoni, Kula, Nikis,
Buni, Cempaka, Cemara, Lamtoro, Asam, Johar (Kayu Besi), Bengkudu (Latin: morinda citrifolia, Meto: Baknunu),
Faloak, Kusambi, Kujawas, Jambu Air, Sedap Malam, Flamboyan (sepe), Mangga
hutan, Delima Hutan (Dilak), Kom (Apel Hutan).[4]
Dengan demikian hutan lindung Camplong tergolong pada hutan daerah tropis,
bukan hutan tanaman industri.
pohon dan perdu, di hutan Camplong juga terdapat aneka jenis binatang, antara
lain: babi hutan, ayam hutan, musang, tupai, rusa, kus-kus, kera, ular, burung
dari berbagai jenis, burung hantu, kelelawar, lebah madu, semut dan laron dalam
jumlah berkelompok.[5]
Binatang-binatang itu dipercaya oleh Suku
Meto sebagai yang membawa pesan tentang peristiwa-peristiwa khusus
tertentu. Sebut saja misalnya kalau burung hujan (totiu) mulai meneriakkan suaranya, itu menjadi isyarat bahwa dalam
waktu dekat hujan akan segera turun.[6]
Munculnya burung hantu di dekat perkampungan sambil berteriak merupakan
pertanda bahwa akan ada penghuni kampung yang meninggal dunia.
dan Mata Pencaharian
kelurahan Camplong I per tahun 2015 adalah 4753 jiwa. Mayoritas adalah suku meto yakni penduduk asli pah meto atau yang umum dikenal sebagai
Pulau Timor. Sejumlah kecil suku pendatang seperti suku Rote, Sabu, Flores, Cina
dan Bugis juga ada di kelurahan itu. Umumnya para pendatang bekerja sebagai
pegawai negeri dan pedagang kecil (papa
lele) sementara penduduk asli adalah petani. Keberagaman populasi penduduk
Camplong Satu sesuai data pada kantor kelurahan Camplong Satu tanggal 25
Agustus 2015 adalah 4753 jiwa.[7]
penduduk berdasarkan jenis kelamin dan agama
|
No.
|
Keadaan Penduduk
|
Keadaan Agama
|
|||||
|
Perempuan
|
Laki-laki
|
KK
|
Kristen
|
Katholik
|
Islam
|
lain-lain
|
|
|
1
|
2309
|
2444
|
1084
|
3711
|
709
|
152
|
181
|
penduduk berdasarkan Mata Pencaharian
|
No
|
Jenis
Pekerjaan |
Perempuan
|
Laki-laki
|
Total
|
|
1.
|
Petani
|
681
|
681
|
1362
|
|
2.
|
Pegawai
Negeri Sipil |
102
|
92
|
194
|
|
3.
|
Peternak
|
16
|
24
|
40
|
|
5.
|
Pengusaha
Kios |
19
|
16
|
35
|
|
6.
|
Pensiunan
PNS/TNI/ Polri |
2
|
42
|
44
|
|
7.
|
Bidan
|
3
|
2
|
5
|
|
8.
|
Belum
Bekerja (Anak-anak) |
1545
|
528
|
3073
|
penduduk berdasarkan tingkat pendidikan
|
No
|
Tingkat
Pendidikan |
Perempuan
|
Laki-laki
|
Total
|
|
1.
|
Usia
7-18 yang tidak pernah sekolah |
23
|
48
|
71
|
|
2.
|
Usia
18-56 yang tidak penah sekolah |
1224
|
1185
|
2409
|
|
3.
|
Usia
18-56 SD tetapi tidak tamat |
20
|
50
|
70
|
|
5.
|
Tamat
SD/sederajat |
60
|
88
|
148
|
|
6.
|
Tamat
SMP/ sederajat |
416
|
460
|
876
|
|
7.
|
Tamat
SLTA/ sederajat |
363
|
503
|
866
|
|
8.
|
Tamat
D2/ sederajat |
57
|
37
|
94
|
|
9.
|
Tamat
D3/ sederajat |
27
|
30
|
57
|
|
10.
|
Sarjana
Satu |
61
|
101
|
162
|
Tetun di Belu lebih suka menamakan Orang Meto dengan sebutan Dawan.[8] Dalam cerita rakyat dan berbagai
tuturan adat disebutkan bahwa leluhur orang
Meto berasal dari satu tempat yang disebut Sina Mutin Malaka. Munandar Widiyatmika mencatat bahwa betapa pun
disebutkan dengan nyata bahwa tempat asal nenek moyang pertama suku meto ada hubungan dengan Malaka, namun
bukan berarti bahwa nenek moyang mereka pasti berasal dari sana.[9]
F.H. van de Wetering. “van de Binneland” Dalam: De Timor-Bode, No. 45 Januari 1920.
A.L. van de Wetering. “Hau Susu Sanaplo.” Dalam: De Timor-Bode, No. 57 Januari 1921.
Masih banyak lagi nama pohon dalam bahasa Meto
yang disebutkan oleh responden kami. Mengingat terbatasnya ruang cukuplah
dicatat beberapa nama tadi. Schulte Nordholt menunjukkan bahwa pengenalan Suku Meto terhadap nama-nama pohon menjadi bukti kedekatan Suku Meto pada lingkungan alam, terutama pada tanaman. H.G. Shulte
Nordholt. The Political System…, hlm.
34.
Kalau semut besar bersayap keluar secara bergerombolan dari sarang mereka pada
waktu senja di awal musim hujan Orang
Meto percaya bahwa saat hujan masih tertunda beberapa minggu. Kalau yang
keluar bergerombolan adalah laron (naem), Orang
Meto melihat itu sebagai isyarat akan segera turun hujan.
Trayanus Nubatonis, BA. Wawancara lewat telepon. Sabtu, 8 Agustus 2015.
Data diambil pada kantor kelurahan Camplong I tanggal 25 Agustus 2015.
Mubyarto, et all., hlm. 134.
Munandar Widiyatmika. Sejarah Daerah Nusa
Tenggara Timur. Proyek Pengembangan Kebudayaan Daerah, Kupang. 1977., hlm.
42.
0 tanggapan untuk “Asal-Usul Hutan dan Nama Camplong”
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.








Hi Selamat Pagi mas masku
teman kamu pada menang puluhan juta
ayo giliran kamu! menangkan sekarang juga
Pilih Agen Poker & DominoQQ Yang Terpercaya?
PIN BB : D61E3506
Whatsapp : +85598249684
L ine : Sinidomino
judi poker