200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Keluarga Diminta Jadi Benteng Utama

- Editor

Kamis, 14 Mei 2026 - 23:21 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar Ilustrasi / Infografis oleh matatimor

Gambar Ilustrasi / Infografis oleh matatimor

MATATIMOR.NET, Medan – Kasus anak terpapar judi online di Indonesia kian mengkhawatirkan. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa hampir 200 ribu anak terpapar judol, termasuk sekitar 80 ribu anak berusia di bawah 10 tahun.

Fenomena judi online pada anak ini menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Pasalnya, akses terhadap konten judol kini semakin mudah melalui media sosial, gim online, hingga berbagai platform digital yang akrab dengan kehidupan anak-anak.

Dalam kegiatan Indonesia GO ID Menyapa di Medan, Rabu (13/5/2026), Meutya menegaskan bahwa persoalan ini membutuhkan perhatian bersama, tidak hanya dari pemerintah.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Masalah ini sangat besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Literasi digital anak Indonesia menjadi kunci penting, tidak cukup hanya menutup akses,” ujarnya.

Daftar Isi

BACA JUGA  Love Story by Amelia Q

Bahaya Judi Online bagi Anak dan Keluarga

Meutya menekankan bahwa tidak menganggap remeh bahaya judi online bagi anak. Judi online bukan sekadar permainan digital, melainkan bentuk penipuan yang dapat merusak kehidupan.

Dampak judi online pada anak tidak hanya soal kerugian ekonomi, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis dan hubungan keluarga. Banyak kasus menunjukkan bahwa judol memicu konflik rumah tangga, bahkan kekerasan dalam keluarga.

“Judi online itu scam. Banyak keluarga kehilangan ketenangan hidup dan masa depan anak-anak,” tegasnya.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa judi online merusak masa depan anak jika tidak dicegah sejak dini.

Pemblokiran Situs Judi Online Belum Cukup

Pemerintah terus melakukan pemblokiran situs judi online sebagai langkah awal. Namun, upaya ini belum cukup efektif jika tidak diiringi penindakan terhadap pelaku.

BACA JUGA  Andre Amaral da Silva : Koordinator THS-THM Dekenat Mena Tutup Usia

Menurut Meutya, situs judol akan terus bermunculan selama masih ada ekosistem yang mendukung. Karena itu, diperlukan kerja sama lintas sektor, mulai dari aparat penegak hukum, lembaga keuangan, hingga platform digital.

Selain itu, promosi judol di media sosial juga semakin masif dan sering menyasar pengguna muda. Ini membuat anak terpapar judi online semakin sulit dihindari tanpa pengawasan yang ketat.

Peran Keluarga Mencegah Judi Online Sangat Penting

Di tengah meningkatnya kasus judi online di Indonesia 2026, keluarga menjadi garda terdepan dalam perlindungan anak.

Peran keluarga mencegah judi online sangat krusial, terutama dalam mengawasi penggunaan gadget dan media sosial. Orang tua perlu aktif melakukan pengawasan penggunaan media sosial anak agar tidak terpapar konten berbahaya.

BACA JUGA  Pesan Paus Fransiskus Pada Hari Komsos Sedunia 2024

Pemerintah sendiri telah mengeluarkan kebijakan pembatasan akses terhadap platform digital berisiko tinggi. Namun, kebijakan ini tidak akan efektif tanpa keterlibatan keluarga.

“Orang tua harus jadi benteng utama. Jangan biarkan anak-anak bebas tanpa pengawasan di ruang digital,” ujar Meutya.

Literasi Digital Jadi Solusi Jangka Panjang

Selain pengawasan, peningkatan literasi digital anak Indonesia menjadi solusi penting dalam menghadapi ancaman ini.

Dengan literasi digital yang baik, harapannya anak-anak mampu memahami risiko dan menjauhi praktik judi online. Edukasi sejak dini menjadi langkah strategis untuk mencegah semakin banyak anak terpapar judi online di masa depan.

Sinergi antara pemerintah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam melindungi generasi muda dari ancaman judol yang semakin masif.

Facebook Coment

Penulis : Wahyu S

Editor : Del | Redaksi

Sumber Berita: Info Publik

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas
Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup
FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM
Menkomdigi: Adopsi AI Berpotensi Sumbang 3,67 Persen PDB Indonesia
Ancaman El Nino 2026, BMKG Ingatkan Potensi Kekeringan Ekstrim
Proyek Revitalisasi Sekolah di NTT, Anggaran Capai Rp589 Miliar
Komisi X DPR Usul Gaji Minimal Guru Rp 5 Juta, Bonnie Triyana: Anggaran Kita Cukup
Starlink Masuk Desa: SMPN 1 Fatuleu Barat Libas Kendala Sinyal saat TKA
Berita ini 2 kali dibaca
“Judi online bukan permainan, tapi penipuan yang merusak masa depan anak.”

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 23:21 WITA

200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Keluarga Diminta Jadi Benteng Utama

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:48 WITA

Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:32 WITA

Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Kamis, 23 April 2026 - 06:32 WITA

FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM

Minggu, 19 April 2026 - 13:55 WITA

Menkomdigi: Adopsi AI Berpotensi Sumbang 3,67 Persen PDB Indonesia

Berita Terbaru

OPINI

OPINI: Koperasi di NTT, Menyejahterakan? ATAU?

Selasa, 12 Mei 2026 - 07:49 WITA

KOTBAH & RENUNGAN

Janji Roh Kebenaran: Penyertaan Allah yang Kekal

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:58 WITA

Kotbah Katolik Minggu Paskah V - Gambar Komsos Paroki Camplong

MATA BERITA

Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:32 WITA

error: Content is protected !!