Tim Advokasi Geothermal Keuskupan Agung Ende: Proyek Panas Bumi Ancam Ruang Hidup Masyarakat Flores

- Editor

Senin, 18 Agustus 2025 - 10:35 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RD. Reginaldus Piperno - Ketua Tim Advokasi Keuskupan Agung Ende

RD. Reginaldus Piperno - Ketua Tim Advokasi Keuskupan Agung Ende

Tim Advokasi Geothermal Keuskupan Agung Ende. Press Release (diterima media ini via WhatsApp.)

Setelah membaca hasil uji petik Tim Satgas bentukan Gubernur NTT Bapak Emanuel Melkiades Laka Lena, S.Si, A.pt., pada tanggal 4 Juli 2025 mengenai keberlanjutan proyek geothermal di pulau Flores dan Lembata umumnya dan di wilayah keuskupan Agung Ende (Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo) khususnya maka, kami memberikan beberapa catatan kritis sebagai berikut:

  1. Bapak Gubernur NTT sejak awal menegaskan bahwa Tim Penyelesaian Masalah Pengembangan Panas Bumi (geothermal) di Flores atau Tim Satgas yang dibentuk adalah tim independen. Tujuan dari Tim ini adalah mengumpulkan data lapangan dan melakukan investigasi, sebelum mengambil keputusan mengenai keberlanjutan proyek panas bumi (geothermal). Dalam kenyataan, pada saat Tim mengumpulkan data dan melakukan investigasi, Bapak Gubernur NTT berulangkali menegaskan sikapnya untuk melanjutkan proyek ini. Karena itu, beralasan apabila muncul anggapan bahwa pembentukan dan investigasi yang dilakukan Tim ini, hanya untuk melegitimasi apa yang sudah menjadi sikap Bapak Gubernur NTT. Hal ini tampak dari hasil uji petik Tim, di Sokoria, Mataloko dan Nage. 
  • Hasil uji petik Tim Satgas di Sokoria, Mataloko dan Nage lebih menyoroti soal teknis pelaksanaan pengembangan proyek panas bumi (geothermal), yang terkesan sangat formal administratif untuk memuluskan dan atau melegitimasi pelaksanaan pengembangan proyek panas bumi (geothermal). Sementara itu, ruang hidup masyarakat lokal, ruang kultural, ruang pangan dan sumber air bersih, hak atas udara bersih dan sehat, sistem kekerabatan, dan kohesi sosial yang seharusnya menjadi bagian integral dari proses uji petik Tim, justru diabaikan.   
  • Hasil uji petik Tim Satgas di Sokoria, Mataloko dan Nage, tidak mendalami secara serius proses penerapan prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC) bagi masyarakat adat untuk mengambil keputusan yang tepat mengenai hal-hal yang mempengaruhi masyarakat, tradisi, dan cara hidupnya. Sejak awal masyarakat tidak diberi ruang untuk menentukan secara bebas sikapnya terhadap proyek panas bumi (geothermal). Karena FPIC merupakan sebuah syarat esensial dalam proyek berdampak besar seperti proyek panas bumi (geothermal), maka kelalaian melakukannya seharusnya berkonsekuensi pada penghentian proyek tersebut.
  • Hasil uji petik Tim Satgas di Sokoria, Mataloko dan Nage, tidak secara jelas menggambarkan mitigasi resiko yang harus dilakukan oleh PLN dan Perusahaan Pengembangan Panas Bumi terhadap dampak-dampak dari aspek fisik, sosial, kultural, lingkungan, geologi dan aspek hukum. 
  • Hasil uji petik Tim Satgas di Sokoria, Mataloko dan Nage, menyimpulkan bahwa suara penolakan masyarakat terhadap proyek panas bumi (geothermal) terjadi karena kurangnya pengetahuan dan ketimpangan informasi yang diterima masyarakat. Karena itu, Tim merekomendasi sosialisasi berkelanjutan sebagai upaya untuk pemenuhan pengetahuan dan informasi kepada masyarakat.  Dalam kenyataan, alasan penolakan masyarakat bukanlah kurangnya pengetahuan tentang proyek ini tetapi lebih karena dampak yang sudah mereka alami dan rasakan.
BACA JUGA  Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas

2. Berdasarkan hal ini, maka kami kembali menegaskan bahwa proyek pengembangan panas bumi (geothermal) bukanlah pilihan yang tepat bagi seluruh wilayah Keuskupan Agung Ende (Kabupaten Ende, Kabupaten Ngada dan Kabupaten Nagekeo) dengan alasan topografi wilayah Keuskupan Agung Ende yang berbukit-bukit dan menyisakan sedikit lahan untuk pertanian dan pemukiman; mayoritas umat keuskupan Agung Ende adalah petani yang menggantungkan hidupnya pada alam dan musim yang silih berganti; dan pertanian adalah salah satu unsur yang membentuk budaya masyarakat atau umat Keuskupan Agung Ende.

BACA JUGA  Mendes PDTT Imbau Orang Tua Hindari Sekolah Penganut Ekstremisme

PASANG IKLAN ANDA DI SINI!

ads

MURAH! Hubungi 08113810024

Usaha pertanian di wilayah Keuskupan Agung Ende sangat tergantung pada curah hujan sebab sumber air permukaan tanah tidaklah banyak. Pemanfaatan sumber daya air yang tidak tepat dapat berujung pada kerusakan dan kelangkaan air serta berpotensi besar menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat atau umat Keuskupan Agung Ende. Demikian pernyataan kami buat terdorong oleh komitmen kami supaya suara masyarakat yang merupakan pemilik dan penghuni tanah ini, didengar dan diindahkan. Wilayah ini bukan wilayah tanpa tuan.

BACA JUGA  Ada Apa, Pihak RSUD Atambua diundang DPRD Belu Dalam RDP

Kami hendak menegaskan bahwa kami bukan anti pembangunan atau anti listrik. Kami tidak sedang melawan dan atau memusuhi Pemerintah, PLN dan Perusahaan Pengembang Panas Bumi. Kami menghargai setiap usaha baik pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat melalui pembangunan.

Namun kami menolak setiap pembangunan yang tidak berpedoman pada prinsip keadilan sosial dan keadilan ekologis. Kami mendorong usaha Pemerintah untuk mencari dan mengembangkan alternatif lain selain proyek pengembangan panas bumi (geothermal) dalam rangka beralih dari energi berbasis fosil ke energi terbarukan.

Ende, 18 Agustus 2025

Ketua Tim Advokasi Keuskupan Agung Ende

RD. Reginaldus Piperno

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Paus Tunjuk Mgr. Walter Erbì sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia dan ASEAN
Jejak Iman Sejak 1942: Uskup Agung Kupang Disambut Adat Lamaholot pada HUT ke-30 Paroki Pariti
Pemerintah Peringatkan Bahaya Ilusi Algoritma Saat Masyarakat Sampaikan Aspirasi
Lengkap! 45 Butir Pancasila dan Contoh Pengamalannya
Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong
Seruan Pastoral KWI: “Bangkit Bersama dalam Pengharapan” di Tengah Krisis Bangsa
200 Ribu Anak Terpapar Judi Online, Keluarga Diminta Jadi Benteng Utama
Guru Non-ASN Tak Perlu Cemas, Kemendikdasmen Beri Jaminan Keberlanjutan Tugas
Berita ini 21 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 05:03 WITA

Paus Tunjuk Mgr. Walter Erbì sebagai Nunsius Apostolik untuk Indonesia dan ASEAN

Sabtu, 13 Juni 2026 - 11:20 WITA

Pemerintah Peringatkan Bahaya Ilusi Algoritma Saat Masyarakat Sampaikan Aspirasi

Senin, 1 Juni 2026 - 08:49 WITA

Lengkap! 45 Butir Pancasila dan Contoh Pengamalannya

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:04 WITA

Rayakan Pentakosta, Komunitas Pasutri ME Tanggung Koor di Paroki Sta. Helena Camplong

Sabtu, 23 Mei 2026 - 08:54 WITA

Seruan Pastoral KWI: “Bangkit Bersama dalam Pengharapan” di Tengah Krisis Bangsa

Berita Terbaru

Gambar dokumentasi dan olahan matatimor.net

KOTBAH & RENUNGAN

Gandum dan Lalang: Meneladani Kesabaran Allah yang Tanpa Batas

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:11 WITA

Gambar dibuat dengan GeminiAI (prompt oleh del neonub)

OPINI

Final Piala Dunia 2026: Takdir Sejarah vs. Kekuatan Devosi

Kamis, 16 Jul 2026 - 06:45 WITA

Foto oleh matatimor

KOTBAH & RENUNGAN

Kekuatan Sabda Allah dan Tanggung Jawab Iman Kita

Sabtu, 11 Jul 2026 - 11:48 WITA

Grafis oleh matatimor.net

KOTBAH & RENUNGAN

Menemukan Kedamaian yang Hilang di Tengah Hidup Sehari-hari

Sabtu, 4 Jul 2026 - 07:54 WITA

error: Content is protected !!