Pesan Paskah 2025 Uskup Keuskupan Agung Kupang

- Editorial Staff

Kamis, 17 April 2025 - 03:08 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertemuan mingguan umat pada hari Minggu, “Hari Tuhan” sendiri adalah semacam Paskah mini, peringatan rutin atas hari ketika Kristus bangkit kembali dengan jaya. Praktik ini muncul secara alamiah dari pengalaman hidup para murid pertama, di mana perjumpaan mereka dengan Kristus yang bangkit mengubah seluruh cara pandang mereka.
Paskah dan keselamatan tidak dapat dipisahkan dalam teologi Kristen. Keduanya membentuk ikatan suci yang menerangi inti dari iman kita.

Kebangkitan Yesus Kristus merupakan penegasan ilahi yang pasti bahwa janji keselamatan telah digenapi dan kini tersedia bagi seluruh umat manusia. Hubungan antara Paskah dan keselamatan terjalin pada berbagai tingkatan.

Kebangkitan menjadi pengesahan atas korban penebusan Kristus di kayu salib. Tanpa Paskah, Jumat Agung akan tetap menjadi tragedi, bukan “kabar baik” seperti yang kita pahami. Rasul Paulus menulis, “Ia diserahkan karena pelanggaran kita, dan dibangkitkan demi pembenaran kita” (Rom 4:25).

BACA JUGA  Yesus Sang Gembala Baik dan Minggu Panggilan

Kubur yang kosong adalah “Amin” dari Allah atas kata-kata Yesus di salib, “Sudah selesai”.

Di dunia modern, di mana kefanaan dan ketidakpastian sering kali mendominasi, Paskah menyampaikan pesan tentang permanensi dan harapan. Ia memastikan bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, bahwa harapan mengatasi kecemasan, bahwa hidup menang atas kematian, dan bahwa rencana Allah tidak dapat digagalkan oleh kejahatan manusia atau kehancuran alam.
Inilah sebabnya, mengapa Paskah tetap menjadi bukan hanya hari raya Kristen yang paling penting, tetapi detak jantung iman kita, realitas mulia yang memberi makna pada segala sesuatu yang kita percayai.

Paskah menjawab ketakutan eksistensial terdalam kita, yakni ketakutan akan kematian, dan menggantikannya dengan jaminan kehidupan kekal. Kebangkitan Kristus tidak hanya menawarkan
harapan untuk masa depan, tetapi juga perspektif yang diubah terhadap penderitaan saat ini.

BACA JUGA  PERTRANSIIT BENEFACIENDO, AD VITAM AETERNAM

Sebagai orang beriman, kita dapat menghadapi berbagai masalah, tantangan, dan cobaan hidup dengan keyakinan bahwa kematian akibat dosa tidak lagi memiliki kata terakhir. Dengan ini, Paskah Kristus sekaligus membangkitkan harapan serta semangat juang kita untuk terus membela dan mempromosikan “budaya kehidupan” di tengah-tengah maraknya “budaya kematian” dewasa ini.

Paskah mengungkapkan sifat jasmani dari keselamatan Kristen. Tidak seperti filsafat-filsafat yang berusaha membebaskan jiwa dari tubuh, Kekristenan menyatakan penebusan seluruh pribadi. Kebangkitan fisik Kristus menegaskan kebaikan ciptaan materi Allah dan menjanjikan pembaharuannya yang terakhir. Keselamatan kita bukanlah pelarian dari ciptaan, melainkan penggenapannya. Paskah juga menerangi dimensi komunal dari keselamatan. Kristus yang bangkit menampakkan diri bukan kepada individu-individu yang terisolasi, melainkan kepada komunitas
para murid, membentuk Gereja sebagai saksi hidup dari kebangkitan-Nya.

BACA JUGA  Pesan Paus Fransiskus Pada Hari Komsos Sedunia 2024

Keselamatan kita tidak pernah sekadar bersifat pribadi, melainkan menggabungkan kita ke dalam Tubuh Kristus, menjadikan kita para peserta dalam misi penebusan-Nya yang terus berlangsung. Dengan demikian, Paskah Kristus juga mengajak sekaligus menantang kita untuk memerangi segala bentuk egoisme, individualisme, dan keserakahan yang cenderung mengutamakan kepentingan diri
sendiri tanpa kepedulian terhadap penderitaan sesama; terus berjuang melawan berbagai eksploitasi dan penindasan yang dilakukan struktur struktur kekuasaan tidak adil, yang menyebabkan kemiskinan dan penderitaan sekian banyak orang yang lemah dan tidak berdaya.

Facebook Coment

Penulis : Mgr. Hironimus Pakaenoni

Editor : Del Neonub

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Ketika Kemurahan Hati Tuhan Dianggap Tidak Adil: Renungan Minggu Biasa XXV
Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah
Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan
“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja
Maria Diangkat ke Surga: Tanda Harapan bagi Umat Beriman
​Doa, Iman, dan Kuasa yang Meredakan Badai Hidup
Mukjizat Kelimpahan: Dari Hati yang Tergerak Hingga Berkat yang Melimpah
Menemukan Harta yang Tak Ternilai: Renungan Minggu Biasa XVII
Berita ini 139 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 13:12 WITA

Ketika Kemurahan Hati Tuhan Dianggap Tidak Adil: Renungan Minggu Biasa XXV

Sabtu, 12 September 2026 - 08:08 WITA

Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 10:36 WITA

Mengikuti Yesus: Jalan Salib Menuju Mahkota Kemuliaan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 20:32 WITA

“Siapakah Aku Ini?” – Pengakuan Petrus dan Dasar Iman Gereja

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 07:36 WITA

Maria Diangkat ke Surga: Tanda Harapan bagi Umat Beriman

Berita Terbaru

BERITA

19 Tim Ramaikan Turnamen Voli Milenial Cup I Desa Kalali

Minggu, 13 Sep 2026 - 19:37 WITA

Iman & Gereja

Mengampuni Tanpa Batas: Jalan Menuju Damai dan Belaskasih Allah

Sabtu, 12 Sep 2026 - 08:08 WITA

BERITA

Saling Menegur dalam Kasih: Jalan Menuju Kesucian Hidup

Sabtu, 5 Sep 2026 - 07:38 WITA

error: Content is protected !!