Krisis Ekologis : Suatu Masalah Moral

- Editor

Kamis, 30 Januari 2020 - 12:40 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

romo ansel leu
*Oleh : Rd. Drs. ANSEL  LEU, Lic.Theol.

KRISIS EKOLOGI: SUATU MASALAH  MORAL                  

Krisis ekologi merupakan suatu persoalan moral. Orang Kristen harus menyadari bahwa tanggungjawab atas keseimbangan tatanan ciptaan adalah unsur esensial iman. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat diterima kalau merusak tatanan alam yang berkelanjutan. Demikian pesan Sri Paus Yohanes Paulus II pada perayaan perdamaian sedunia, 1 Januari 1990.              

Untuk itu sesungguhnya kita membutuhkan laki-laki dan perempuan yang sungguh-sungguh berjiwa religius dalam menghadapi seluruh lingkungan alam semesta.

Mereka adalah orang-orang yang rela berjanji setia menjawab belas kasih Allah mempelainya secara luas dan mendalam sampai pada seluruh alam ciptaan-Nya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Itu berarti mencintai,  menghormati, menjadi pramugari yang baik, singkatnya menjadi berkat bagi seluruh lingkungan hidup demi kelestarian dan pengembangannya.

BACA JUGA  BERPENDIDIKAN SAJA TIDAK CUKUP TANPA ETIKA

“Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” diperdalam dan diperluas pada semua makhluk ciptaan Tuhan besar atau kecil; yang sebagai ciptaan Tuhan menjadi sesama manusia.

“Teladanilah cara hidup St. Fransiskus dari Asisi; manusia adalah saudara semua makluk  Ciptaan Allah di  dunia ini”.

Demikian pesan Paus Yohanes Paulus II yang telah menjadi orang Kudus dalam tradisi iman Gereja Kristen Katolik.              

Memang pewahyuan Kristen acap kali dijadikan biang keladi krisis lingkungan hidup. Sangat disayangkan bahwa kesaksian iman alkitabiah acap kali hanya diartikan semata-mata pada dominasi manusia terhadap alam semesta.

Allah meniptakan segala sesuatu baik adanya. Akan tetapi mengapa di mana mana  ada hal ‘yang tidak baik”.              

Menghadapi krisis lingkungan hidup dewasa ini, setiap kaum beriman dipanggil untuk bersama-sama berpartisipasi dalam kedatangan Kerajaan Allah; bersama-sama bangkit menghayati imannya dengan segenap hati, segenap budi dan dengan segenap kekuatannya, seperti digambarkan dalam Kitab Suci. “Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu.

BACA JUGA  Pancasila Mengikat Perbedaan - Opini

Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kej. 2: 2-3). Dan “Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu sungguh amat baik”.              

Semua ciptaan Tuhan, termasuk manusia, diberkati bersama agar masing-masing menjadi berkat satu dengan lainnya. Tuhan menciptakan, memberkati (bara, kata kerja dari berkat; bara juga berarti menciptakan (bahasa Ibrani)  setiap makluk untuk menjadi berkat bagi orang lain. “Just to be is a blessing” demikian harapan Abraham Heshel, seorang teolog Yahudi.              

BACA JUGA  Spiritualitas Guru Katolik

Dalam konteks itu kita mengenal Yesus yang lahir dan bertumbuh dalam suatu lingkungan hidup tertentu. Ia tidak berkembang sendirian. Ia diasuh, dididik dan diarahkan. Singkatnya, Ia berkembang di dalan dan oleh lingkungan.

“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Luk 2: 52).              

Yesus memaklumkan dan melaksanakan hukum Tahun Belas kasih Tuhan (Tahun Yubile) dalam pelayanan dan kehidupan-Nya sendiri. Proklamasi Kerajaan Allah yang didatangkan oleh Yesus Mesia sekaligus merupakan proklamasi Tahun Belas kasih Tuhan untuk selama-lamanya.

Ini berarti dimulainya era baru, Sabat baru (Bdk. Kejadian 2: 2-3) yaitu dipulihkannya hubungan baru antarmanusia dan hubungan baru antarmanusia dengan alam semesta (Rm 8: 18-22).  

Facebook Coment

Komentar ditutup.

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor
Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman
Di Balik Dinamika Pelantikan Pejabat “Tanpa SK” di Kabupaten Kupang
NTT: Kemiskinan yang Dipelihara Sistem
Membaca Hasil TKA dari Ruang Kelas! Bukan dari Kursi Penilai
Legenda Nepo, Kolu, dan Kelahiran Koru
Forum Guru NTT: Apresiasi Pembayaran Tunjangan Sertifikasi Tepat Waktu
Hilangnya “Budi” di Ruang Kelas NTT: Alarm Serius Krisis Moral
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 26 Februari 2026 - 11:43 WITA

Korupsi Rampas Hak Rakyat, Forum Guru NTT Ajak Warga Melapor

Rabu, 25 Februari 2026 - 06:01 WITA

Kepala Sekolah Bukan Jabatan Permanen: Pemberhentian adalah Corrective Action, Bukan Hukuman

Sabtu, 3 Januari 2026 - 12:56 WITA

Di Balik Dinamika Pelantikan Pejabat “Tanpa SK” di Kabupaten Kupang

Senin, 29 Desember 2025 - 00:57 WITA

NTT: Kemiskinan yang Dipelihara Sistem

Minggu, 28 Desember 2025 - 07:44 WITA

Membaca Hasil TKA dari Ruang Kelas! Bukan dari Kursi Penilai

Berita Terbaru

KOTBAH & RENUNGAN

Janji Roh Kebenaran: Penyertaan Allah yang Kekal

Sabtu, 9 Mei 2026 - 16:58 WITA

Kotbah Katolik Minggu Paskah V - Gambar Komsos Paroki Camplong

MATA BERITA

Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Sabtu, 2 Mei 2026 - 15:32 WITA

Kotbah Minggu Paskah IV - Hari Minggu Panggilan, Gambar: redaksi matatimor

KOTBAH & RENUNGAN

Yesus Sang Gembala Baik dan Minggu Panggilan

Sabtu, 25 Apr 2026 - 16:52 WITA

MATA BERITA

FLS3N Kupang Barat Jadi Ajang Bakat Siswa dan Promosi UMKM

Kamis, 23 Apr 2026 - 06:32 WITA

Desain Oleh: Tim Kreatif matatimor.net

MATA BERITA

Menkomdigi: Adopsi AI Berpotensi Sumbang 3,67 Persen PDB Indonesia

Minggu, 19 Apr 2026 - 13:55 WITA

error: Content is protected !!