MATA TIMOR | TTS – Di pedalaman daratan Timor yang sunyi, berdiri sebuah monumen alam yang memaku pandangan siapa saja yang melintas. Warga menyebutnya Fatukopa. Dari kejauhan, gunung batu ini tampak seperti kapal motor raksasa yang karam di tengah samudra hijau Amanuban. Bentuknya yang kokoh dan ikonik sering kali disandingkan dengan megahnya kapal KM Kelimutu di masa jayanya.
Namun, Fatukopa bukan sekadar bongkahan batu. Ia adalah ruang di mana mitos, sejarah, dan realitas sosial berkelindan dalam napas yang sama.
Daftar Isi
Fosil Bahtera dan Jembatan Ular
Bagi telinga orang beriman, ada bisik-bisik yang menyebut Fatukopa sebagai fosil bahtera Nuh yang terdampar jutaan tahun silam, saat daratan Timor masih berupa dasar laut. Meski sulit dibuktikan secara ilmiah, legenda ini menambah aura magis bukit karang yang diselimuti vegetasi hutan hujan tropis tersebut.
Bagi masyarakat adat Amanuban, Fatukopa adalah tempat keramat yang tak bisa dijajal sembarang kaki. Konon, siapa pun yang nekat mendaki tanpa restu tetua adat, takkan pernah mencapai puncak. Cerita tentang jurang dalam yang harus diseberangi dengan meniti punggung seekor ular raksasa menjadi “penjaga” tak kasat mata bagi kesucian bukit ini. Hingga kini, hanya para pemangku adat yang berani menapakinya setahun sekali demi ritual sakral.
Bahkan, kecanggihan teknologi pun seolah tunduk. Pada medio 1980-an, sebuah ekspedisi asal Australia mencoba menaklukkan Fatukopa dengan helikopter. Hasilnya nihil. Tak ada celah untuk mendarat; seluruh permukaan bukit tertutup rapat oleh hijaunya hutan yang perawan.
Akar Madagaskar dan Tanah yang “Lelah”
Ada pula narasi sejarah yang menyebut Fatukopa sebagai titik awal para pendatang dari Madagaskar menetap, sebelum akhirnya berbaur dan membentuk identitas orang Dawan saat ini. Fatukopa adalah kebanggaan, ia adalah identitas.
Namun, di balik kegagahannya, ada ironi yang memilukan. Tanah di sekitar Fatukopa adalah jenis tanah numpang yang rapuh dan mudah longsor. Setiap tahun, pemandangan reruntuhan tanah putih menjadi kontras yang menyedihkan dengan hijaunya bukit batu yang tetap tegak berdiri. Seolah alam ingin memberi tahu bahwa kehidupan di kakinya sedang tidak baik-baik saja.
Kecamatan “Kantor” dan Asa yang Tercecer
Sejak mekar dari Kecamatan Amanuban Timur pada 2009, label “Kecamatan Fatukopa” seolah hanya berhenti di papan nama gedung kantor camat. Pada hari kerja, gedung itu hidup oleh aktivitas pegawai yang mayoritas berdomisili di Kota Soe atau Oeekam. Begitu akhir pekan tiba, Fatukopa kembali sunyi, ditinggal pergi para pelayan publiknya.
Realitas di lapangan masih jauh dari kata sejahtera. Listrik masih menjadi barang mewah, air bersih sulit diraih, dan transportasi adalah perjuangan fisik. Pendidikan dan kesehatan pun masih tertatih, seolah nunut pada kebesaran kecamatan induk.
Belum lagi persoalan tapal batas. Sebagai wilayah yang beririsan dengan TTU dan Belu, Fatukopa kerap menjadi sumbu konflik. Ketika batas administrasi pemerintah tak sejalan dengan batas adat, lahan garapan berubah menjadi medan laga yang tak jarang memakan korban jiwa.
Menanti Mukjizat dari Bukit Karang
Di tengah sengkarut masalah tapal batas dan minimnya infrastruktur, Fatukopa tetap berdiri tegar. Ia tetap menjadi magnet wisata bagi mereka yang puas memandangnya dari kejauhan.
Namun, pertanyaan besar tetap menggantung di antara kabut pagi Amanuban: Mungkinkah sesuatu yang baik akan lahir dari Fatukopa? Atau, mungkinkah sesuatu yang baik akhirnya datang untuk menyapa warga di kaki Fatukopa?
Harapan itu belum pupus, meski setipis embun di atas bukit batu.
Catatan Editor: Fatukopa bukan sekadar pemandangan, ia adalah cermin bagi kebijakan pembangunan di perbatasan. Jangan sampai kemegahan legendanya justru menutupi kemiskinan warga yang menjaganya.
Penulis : matatimor
Editor : Del Neonuub








