Pandangan Orang Timor Terhadap Alam Sekitar

- Editor

Senin, 24 September 2018 - 17:00 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Piet Manehat, SVD, M.A.

Pendahuluan

Kebudayaan adalah cara berpikir, cara hidup, cara bertindak, dan cara berkarya seseorang. Dari analisis mendasar tentang kebudayaan, jelas sekali bahwa manusia pada prinsipnya hidup dalam perpaduan dunia kemarin, dunia hari ini, dan dunia hari esok. Cara berpikir seseorang diatur oleh pengalaman perpaduan yang mendasar dari kegita waktu di atas. Cara bertindak dan berkarya manusia juga tidak bisa terlepas dari perpaduan pengalaman yang sama. Adalah suatu hal yang sungguh luas, kalau kita mau berbicara tentang pandangan orang Timor terhadap alam sekitar. Usaha tersebut membawa kita pada suatu kekayaan pengalaman khusus, yakni kebudayaan manusia-manusia Timor terhadap alam sekitar. Untuk tujuan yang sama, kita pasti harus berpijak pada pandanan masyarakat setempat, yang tercermin dalam pola hidup sehari-hari.

Pola dan Pandangan Hidup

Seturut ceritera turun temurun, selain orang Timor secara keseluruhan, dikenal juga cara dan pola hidup manusia Atoni Pah Meto. Orang mengenal mereka sebagai peramu, yang berarti suka berpindah-pindah tempat akibat peperangan atau bahaya penyakit, atau tersebar oleh keagamaan asli dan alam yang tidak bersahabat dengan umat manusia. Keadaan yang tidak bersahabat disebut : afu i nata’an (Uab Meto) atau rai nee makaas/manas (Tetun), yang secara harfiah berarti tanah tempat tinggal ini panas. Istilah ini merujuk pada kondisi kehidupan yang tidak bersahabat karena perang atau pernyakit, dan lain sebagainya seperti disebut sebelumnya. Menurut ceritera orang-orang tua di Timor, pola meramu bukan pratanda bahwa mereka berpindah tempat untuk mencari lokasi menetap yang cocok yakni tempat tinggal yang aman dari mara bahaya. dalam pola atau cara hidup orang Timor, mereka memandang dirinya sebagai citra yang berada dengan orang lain atau insan yang hidup bersama dengan wujud lain di dunia. Manusia dan makhluk yang lain bukannya saling bertetangan, tetapi berada di sekitar makhluk yang lain : matahari, bulan, bintang, tanah, binatang, dan lain sebagainya. Dan cukup jelas bahwa pola berpikir ini masih hidup dalam kesemharian orang Timor kini. Selain pola atau cara hidup meramu, orang-orang Timor mengenal pola atau cara hidup bertani/berladang. Setelah menemukan tempat yang cocok dan aman, warga masyarakat mulai mengusahakan di tempat tersebut, di mana okasi yang sama justru dilihat sebagai tempat yang sangat cocok untuk berladang atau bertani. Strategi kehidupan masyarakat untuk seterusnya boleh dikata mereka buka lagi konsumtif tetapi lebih merupakan komunitas prodduktif.   Dengan pola dan cara hidup yang baru, orang Timor memandang dunia dan lingkungan sekitar, kebun atau ladang, sebagai satu dunia kecil (mikro) di antara dunia besar/luar (makro-kosmos). Orang Timor melihat bahwa keseluruhan alam dunia mempunyai daya hidup, yakni sebuah dinamika kehidupan yang pantas diapresiasi karena manusia adalah bagian itegral dari alam raya. Dalam siatuasi demikian orang Timor harus membina hubungan baik dengan alam sekitar, karena hidup matinya seorang anak manusia ditentukan oleh seberapa jauh ia menjalin relasi dengan dunia sekitar. Segala kekuatan dan kuasa diyakini sebagai unsur yang akan membalas secara otomatis semua perbuatan manusia dengan hal yang baik atau yang jahat. Ini tergantung pada kualifikasi tindakan mansuai sehari-hari. Pengalaman hidup Orang Timor yang berdasarkan cara dan pola hidup yang sama akan dapat ditemukan dalam contoh berikut, di mana manusia mengalami bahwa alam sekitar selalu mempengaruhi , memberi tanda dan arti, serta membawa rejeki baik dan/atau buruk kepada kehidupan manusia.  

BACA JUGA  Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pandangan Orang Timor Terhadap Alam

Akan dijumpai banyak cerita *apakah itu mitologi, atau legenda atau kisah-kisah lain) mengenai pandangan orang Timor terhadap alam sekitar. Karena orang Timor terbagi atas beberapa suku yang masing-masing mempunyai cerita sendiri-sendiri tentan galam, pasti saja ada beberapa kisah berbeda, walau sama substansinya; juga ada yang sama dalam versi yang bermacam rupa.   Pandangan Orang Timor terhadap alam sekitar dikumpulkan berdasarkan cerita-cerita yang tercecer mengenai hutan, waktu menanam, kebudayaan memetik hasil panen, kebiasaan bekerja di laut, hujan, api, binatang, dan lain-lain yang dianggap sebagai satu kesatuan kosmos. Tentunya kisah-kisah di balik relasi yang sangat mendasar antara orang Timor dengan berbagai ikhwal di atas dapat menjadi sumbangsih budaya yang sangat berarti bagi kemajuan bangsa terutama bagi pengenalan kebudayaan orang Timor khususnya. 

BACA JUGA  Mengaku Sebagai Wartawan IPJI, Mohamad Yapi Abdulah Harus Mendekam di Rutan Polres Belu. Ini Modusnya

 Hutan

Orang Timor umumnya, dan masyarakat Atoni Pah Meto khususnya………(bersambung

Facebook Coment

Follow WhatsApp Channel matatimor.net untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gereja Lama Tak Lagi Memadai, Umat di Oepoli Berjuang Bangun Rumah Ibadah Baru
40 Tahun Imamat Romo Chris Taus, Uskup Agung Kupang: Imamat Adalah Rahmat dan Kesetiaan
Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu
Dari Kapela Sto. Yoseph Sublele, Ziarah Arca Bunda Maria Paroki Santa Helena Camplong Dimulai
Menarik Tali Bersama, Menarik Harapan untuk Rumah Ibadah di GMIT Betel Oelusapi – Fatuleu Barat
Tema Komunikasi Sosial Sedunia 2027: Cara Pandang Baru di Era Clickbait
SMA Efata Sulamu Klarifikasi Video Viral, Tiga Siswa Jalani Pembinaan di Polsek
Paus Leo XIV di Paris: “Tak Seorang Pun Hanya Sebuah Angka”
Berita ini 20 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:56 WITA

Gereja Lama Tak Lagi Memadai, Umat di Oepoli Berjuang Bangun Rumah Ibadah Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:46 WITA

40 Tahun Imamat Romo Chris Taus, Uskup Agung Kupang: Imamat Adalah Rahmat dan Kesetiaan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:50 WITA

Satgas Yonarhanud 14/PWY Amankan 1.820 Liter Solar di Belu

Kamis, 1 Oktober 2026 - 20:39 WITA

Dari Kapela Sto. Yoseph Sublele, Ziarah Arca Bunda Maria Paroki Santa Helena Camplong Dimulai

Rabu, 30 September 2026 - 11:43 WITA

Menarik Tali Bersama, Menarik Harapan untuk Rumah Ibadah di GMIT Betel Oelusapi – Fatuleu Barat

Berita Terbaru

Pater Frans Lackner & Rd. Ama Kolo Imam Perdana dari Pulau Sabu

Iman & Gereja

25 Tahun Imamat Ama Kolo, Imam Pertama dari Pulau Sabu

Kamis, 22 Okt 2026 - 12:52 WITA

Gambar oleh Del Neonub

Iman & Gereja

Renungan Minggu Biasa XXIX: Hak Kaisar dan Hak Allah

Sabtu, 17 Okt 2026 - 10:11 WITA

error: Content is protected !!